Headlines News :

Program

Program Yayasan Pusaka Nias/Museum Pusaka Nias pasca bencana alam gempa bumi 28 Maret 2005:

A. Program Internal
  1. Menyebarkan berbagai informasi mengenai kondisi budaya dan masyarakat Nias yang berguna bagi para pelaku rekonstruksi dan rehabilitasi Nias pasca bencana alam gempa bumi.
  2. Berencana membangun dermaga laut untuk pendaratan perahu pengunjung museum atau skoci wisatawan dari kapal pesiar yang berkunjung ke Nias.
  3. Menata kembali pameran artefak Nias di paviliun Museum Pusaka Nias yang telah kacau balau setelah gempa berdasarkan desain pameran yang ideal.
  4. Mendirikan sebuah gudang koleksi permanen (Storage) yang dirancang sesuai dengan kondisi Nias yang sering dilanda gempa. Bangunan tersebut sangat bermanfaat di museum mengingat jumlah koleksi yang dipamerkan hanya sedikit, sedangkan koleksi lainnya yang lebih banyak akan disimpan dan dirawat di gudang sesuai dengan standard permuseuman. Bangunan storage juga sangat membantu penyelamatan artefak dari tumpukan karena keterbatasan tempat. Sebagian biaya pembangunan ini dibantu oleh CER (C-Fonds Netherlands). Dengan adanya storage, paviliun ke-4 yang selama ini dijadikan gudang dapat difungsikan sebagai ruang pameran sebagaimana direncanakan semula.
  5. Mendisain pameran baru di paviliun ke-4.
  6. Mendirikan kembali pagar tembok pengaman di sekeliling Museum Pusaka Nias yang telah roboh sepangjang 218 m.
  7. Membuat kembali ke-12 vitrin yang rusak dan merancang vitrin-vitrin (display casing) yang lain.
  8. Menata kembali artefak yang telah berantakan pada saat gempa berdasarkan design pameran yang ideal di paviliun I, II dan III.
  9. Memperbaiki/merestorasi artefak yang telah rusak.
  10. Memperbaiki berbagi kerusakan kecil pada gedung Museum Pusaka Nias.
  11. Mendirikan 4 (empat) rumah adat Nias dengan tipe yang berbeda-beda di kompleks Museum Pusaka Nias sebagai sarana pendidikan, contoh, sosialisasi dan promosi pendirian kembali rumah adat yang tahan akan gempa sehingga adanya alasan kuat untuk motivasi masyarakat Nias agar menanam pohon kayu bermutu sebagai persiapan bahan pembangunan pada masa depan
  12. Melakukan pembinaan /pelatihan kesenian.
  13. Melakukan sosialisasi/pendidikan untuk memperkenalkan budaya Nias kepada kelompok pengunjung di museum terutama kepada pelajar dan mahasiswa.
  14. Merencanakan “Seminar 2 hari tentang “Rumah Adat Nias sebagai hunian yang nyaman.”
  15. Pembibitan dan penanaman 5.000 pohon lokal untuk bahan rumah masa depan (Afoa, Simalambuo, Berua dan Manawadanö). Dijalankan selama 2 tahun.

A. Program External (Outreach program)
  1. Memperbaiki/mendikan kembali rumah-rumah adat di berbagai desa di Nias
  2. Melakukan sosialisasi/kampanye kepada masyarakat untuk melestarikan rumah adat sebagai salah satu symbol identitas suku Nias yang unik sambil menanam pohon sebagai persiapan bahan bangunan di masa yang akan datang.
  3. Melakukan kampanye untuk meyakinkan masyarakat bahwa rumah adat Nias memiliki konstruksi yang memiliki ketahanan pada kondisi gempa.
  4. Memfasilitasi bantuan kemanusiaan dari berbagai organisasi/individu donor untuk membantu rekonstruksi dan rehabilitasi Nias.
  5. Mendorong/menginsipirasikan pembangunan kecamatan/wilayah yang bercirikhas Nias:

Pohon sebagai ciri khas

Dalam berbagai diskusi dengan berbagai kalangan, pihak Museum Pusaka Nias sering mengusulkan agar setiap kecamatan memperlihatkan sesuatu yang merupakan ciri khas dari daerah itu, dari masyarakat atau budaya setempat.

Contoh: Kecamatan Tuhemberua menanam satu atau beberapa pohon Berua atau meletakan satu tungkul (Tuhe) dari pohon Berua di dalam kantor Camat atau kantor-kantor lain. Atau mendirikan satu gedung misalnya gedung serba guna atau pendopo kecamatan dimana semua bahan bangunannya terdiri dari kayu Berua.

Kecamatan Lölöwa’u menanam dan melestarikan pohon Wa’u yang kini sudah langka. Dan begitu pula kecamatan Amandraya menanam dan melestarikan pohon Amandraya yang sudah langka pula. Masih dapat dilihat satu pohon Amandraya di tengah-tengah kuburan di depan gereja Katolik di Tögizita.

Begitu pula dengan desa Hilimböwö, Lölömboli, Simandraölö, Hilinduria, Hilimbaruzö, Böröwösi, Hilina’a, Hiligodu, Tuhegafoa, Tarakhaini, dsb.

Ide lain misalnya misalnya “Hiligara.” Boleh saja semua penduduk di situ dibuat dari batu pahat.

Tentu desa-desa lain tidak ketinggalan. Desa Sinarikhi seharusnya memiliki atau menanam pohon Sinarikhi dst. Banyak nama desa berasal dari nama pohon, tapi sayang sekali, kita tidak lagi melihat pohonnya. Bahkan sekarang ini kita sangat sulit mendapat kayu sebagai bahan pembangunan. Sangat tepat juga kalau desa-desa tradisional di Nias Selatan yang memiliki tiang-tiang rumah raksasa dari Mosiholidanö dan papan lebar dari Kafini menanam juga pohon-pohon tersebut di dekat desa mereka. Di sini pohon tidak saja dilihat sebagai ciri khas, tetapi juga sekaligus sebagai investasi masa depan untuk bahan pembangunan, penghijauan atau lingkungan hidup.

Semoga ada instansi yang bisa menerapkan konsep dan ide ini. Agar reboisasi Nias dapat berjalan lancar dan kayu-kayu tidak lagi sulit untuk ditemukan sebagai bahan bangunan yang nyaman sekaligus kita membangun Nias dengan ciri khas tersendiri.

Usul ini ditujukan terutama kepada para pembuat perencanaan pembangunan di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan serta kepada NGO yang mungkin memiliki arah program ke bidang budaya dan lingkungan hidup/alam.

Omo Hada/rumah adat sebagai ciri khas

Setiap kecamatan mendirikan gedung regional. Apakah namanya disebut sebagai gedung regional, atau Omo Ziwara-wara atau Omo Gorahua Mbanua. Atau sering juga sebagai “Gedung Serba Guna,“ atau pendopo kecamatan. Terserah!

Gedung-gedung nasional/serba guna yang ditemukan di setiap kota besar tidak salah. Namun dengan istilah Gedung Regional, dimaksudkan supaya setiap daerah atau kecamatan memiliki satu gedung yang memperlihatkan ciri khas arsitektur rumah-rumah adat setempat. Paling tepat kalau gedung regional ini dibangun dari kayu yang bermutu. Dalam rumah itu akan diterima tamu-tamu resmi se-kecamatan atau diadakan temu-ramah, dlsb. Artinya rumah adat regional itu menjadi milik masyarakat setempat di setiap kecamatan.

C. Kegiatan pokok yang rutin dan berkesinambungan

Museum Pusaka Nias

Gedung Museum Pusaka Nias terdiri dari 4 paviliun sebagai ruangan pameran dan beberapa gedung penunjang sebagai kantor operasional, tempat miniatur rumah-rumah tradisional, balai pertemuan (omo bale), rumah tamu, halaman batu-batu megalit dan kantin.

Jenis koleksi Museum Pusaka Nias meliputi Etnologi, Arkeologi, Numismatik, Keramik, Histori, Biologi, Seni Rupa dan Teknologi. Jumlah koleksi lebih 6500 buah.

Dokumentasi Tradisi Lisan Nias

Budaya Nias tidak mengenal aksara maka tradisi masyarakat Nias diwariskan dengan cara lisan secara turun-temurun.

Untuk menggali dan melestarikan tradisi-tradisi lisan tersebut Yayasan Pusaka Nias secara kontinu melakukan perekaman dan pencatatan di setiap wilayah masing-masing yang selanjutnya disimpan secara komputerisasi sehingga pada suatu saat dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Nias, para pelajar dan peneliti.

Penerbitan

Yayasan Pusaka Nias memiliki unit penerbitan yaitu Penerbit Yayasan Pusaka Nias dengan tujuan untuk menerbitkan buku-buku budaya Nias. Buku-buku yang telah terbit antara lain:
  • Asal-usul masyarakat Nias, Suatu Interpretasi
  • Famatö Harimao
  • Omo Sebua
  • Ritus Patung Harimau
  • Hikaya Nadu
  • Ni Dinudö-dunö ba Nöri Onolalu
  • He’iwisa ba Danö Neho
  • Nias eine-eigene Welt
  • Daeli Sanau Talinga dan Tradisi lisan di Onowaembo Idanoi
  • Tanaman Obat Tradisional Nias
  • Gerakan Agama Fa’awösa khö Yesu (AFY) di pulau Nias.
Secara berkala sesuai dengan kemampuan dana dan tenaga, tradisi-tradisi lisan diolah dan dicetak dalam bahasa dan budaya setempat dengan tujuan agar bahasa daerah Nias tetap terlestari lewat penerbitan buku.

Penerbitan Buletin Media Warisan

Sejak tahun 2000, Museum Pusaka Nias telah menerbitkan buletin bulanan yang diberi nama “Media Warisan” sebagai sarana komunikasi budaya dan informasi Nias dan sebagai sarana sosialisasi program-program Yayasan Pusaka Nias.
Biaya penerbitan buletin ini berasal dari sumbangan masyarakat pembaca dan para simpatisan.

Penelitian

Yayasan Pusaka Nias juga melakukan penelitian atau menjadi fasilitator untuk berbagai penelitian, misalnya:
  • Bidang Arsitektur. Prof. Alain M. Viaro, Swiss.
  • Bidang Arkeologi. Yayasan Pusaka Nias telah melakukan ekskavasi arkeologi yang pertama di Nias yaitu di gua Tögi Ndrawa, desa Lelewönu Niko’otanö , Kecamatan Gunung Sitoli. Ekskavasi ini terlaksana atas kerjasama Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Hasil ekskavasi tersebut telah diteliti dengan metode carbon C-14 di Akademi Heidelberg-Jerman. Sekitar 9.000 tahun umur dari tanah dan sedimen-sedimen ditentukan secara radiometris. Hasil uji labor tersebut sangat mengagetkan. Pada tahun 2005 IRD bersama Puslit Arkeologi Jakarta dan Balai Arkeologi Medan mengadakan ekskavasi lanjutan. Sesudah melakukan dating dari lapisan ekskavasi paling dalam, ternyata gua Tögi Ndrawa telah dihuni manusia primitif sejak 12.000 tahun yang lalu.
  • Bidang Megalitik. Di bidang ini Yayasan Pusaka Nias bekerjasama dengan Dr. Bonatz dari Universitas Albert-Ludwig, kota Freiburg Jerman dalam menentukan umur megalit-megalit di Nias. Ternyata patung-patung megalit di Nias paling banyak didirikan pada abad ke-19. Kini Dr. Bonatz telah menjadi professor di Berlin.
  • Bidang Genetika (human genetics). Bulan Agustus 2002 s/d. Maret 2003 Yayasan Pusaka Nias bekerjasama dengan Institute of Human Genetics Westfälische Wilhelms Universität Münster, Germany (Prof. Dr. Med. Ingo Kennerknecht) dan Pemerintah Kabupaten Nias cq. Dinas Kesehatan telah melakukan penelitian DNA masyarakat Nias. Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mendokumentasikan faktor gen dominan suku Nias. Saat ini zat DNA yang sudah dipisahkan di Institute of Human Genetics Westfälische Wilhelms Universität Münster, Germany sedang diteliti di institut genetika di kota Köln.
  • Perpustakaan. Lebih 700 judul literatur tentang Nias yang ditulis oleh para ahli, baik orang luar negeri maupun dalam negeri telah diterkumpul di perpustakaan Museum Pusaka Nias dan sekarang ini sudah banyak yang memanfaatkannya. Buku-buku itu ada yang asli ada juga yang di fotocopy karena Literatur Nias sulit menemukan aslinya. Perpustakaan Museum Pusaka Nias dibuka dari hari Senin sampai Jumat jam setiap hari kerja.

Pembudidayaan Flora Nias

Salah satu jenis koleksi Museum Pusaka Nias adalah biologika. Museum Pusaka Nias telah mengoleksi Herbarium Nias, mencatat nama, fungsi dan khasiat tumbuh-tumbuhan Nias berdasarkan pengetahuan masyarakat. Selain itu Museum Pusaka Nias juga membudidayakan tanaman/tumbuhan berkhasiat obat tradisional Nias.

Untuk mensosialisasikan pembudidayaan tanaman obat tradisional Nias kepada masyarakat luas, pada bulan Desember 2000 Museum Pusaka Nias menyelenggarakan diskusi sehari mengenai pembudidayaan dan pemanfaatan obat tradisional. Dan pada tahun 2002 dilaksanakan lokakarya “Pengelolaan & Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional Nias” selama 3 hari dengan peserta terdiri dari dukun tradisional, utusan OSIS, mahasiswa, dokter, para medis, utusan LSM, utusan keagamaan dan utusan kader dengan nara sumber utama ahli Farmakologi USU-Medan. Hasil diskusi dan lokakarya tersebut telah dihimpun dalam sebuah buku dengan judul “Obat Tradisional Nias, Manfaat dan Tekhnik Penggunaannya.”

• Fauna Nias

Museum Pusaka Nias memelihara beberapa jenis fauna Nias yang ada hubungannya dengan mite-mite atau dongeng dan sering dilukiskan sebagai simbol untuk mengekspresikan suatu idea, umpamanya: ular, buaya, kancil, monyet, biawak, kura-kura, kijang, burung beo, dll. Semua hewan ini dipelihara di kompleks Museum Pusaka Nias.

• Pelestarian lingkungan melalui pelatihan pemanfaatan tanaman obat tradisional Nias.

• Pendidikan kesadaran melalui media massa dengan penerbitan buletin bulanan “Media Warisan” sebagai sarana komunikasi budaya dan informasi Nias.

• Menjalin kerjasama dengan menghimpun berbagai kalangan untuk menjadi museum community agar Museum Pusaka Nias tidak menjadi museum barang kuno, melainkan sungguh menjadi museum masyarakat dimana gagasan dan dasar program-programnya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi oleh masyarakat sehingga penyelenggaraannya terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Penunjang Lainnya

Di kompleks Museum Pusaka Nias ada 2 kantin, rumah tamu (guesthouse) sederhana dan ada juga balai pertemuan (Omo Bale) yang dibisa digunakan untuk pertemuan, diskusi, ceremah dan pelatihan.
 
Copyright © 2011. Museum Pusaka Nias - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger