Peperangan Antara Niha Raya vs Niha Yöu
July 14, 2009 by nataalui.duha
Filed under Artikel
Oleh: Fogöli Harefa
Salah seorang dari putera Raja Sirao bernama Gözö Helahela Danö, diturunkan di sebelah barat Hilimaziaya yang dahulu sebelum pemekaran masuk dalam wilayah kecamatan Lahewa Kabupaten Nias. Keturunannya berkembang hingga ke Luzamanu, Afia dan Afulu. Keturunan Gözö ini disebut Mado Baeha dengan perawakan tubuh yang besar-besar dan kuat, mereka disebut Niha Yöu.
Sementara itu, terdapat juga kerajaan lain di sungai Idanoi kecamatan Gunung Sitoli, yaitu:
- Öri Talu Idanoi (mado Harefa)
- Öri Laraga (mado Zebua).
Ketika mereka melakukan Fondrakö di Talu Idanoi dan di Laraga, semua kerajaan yang berdekatan ini telah berjanji untuk saling membantu dalam segala hal terutama dalam peperangan. Mereka ini disebut Niha Raya.
Jumlah Niha Yöu lebih banyak dari Niha Raya. Tapi Niha Raya lebih berani, lebih cerdik dan lebih bijaksana.
Raja Niha Yöu yaitu Taniwaha’ambö yang berkedudukan di Helakha, sedangkan Raja Niha Raya di Talu Idanoi ialah Tumba Ana’a dan raja di Laraga yaitu Ononamölö. Tumba Ana’a berkedudukan di Onozitoli dan Tumba Ononamölö berkedudukan di Ononamölö. Kedua kerajaan ini disebut “Si dombua ba dalu Idanoi.”
Tersiarnya berita bahwa tubuh Niha Yöu itu besar-besar dan kuat, maka raja-raja Niha Raya menjadi kuatir jika suatu saat kekuasaan Niha Yöu sampai ke daerah mereka.
Suatu hari raja Talu Nidanoi bernama Tumba Ana’a melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaan raja Niha Yöu bernama Taniwaha’ambö. Kedatangan Tumba Ana’a bersama rombongannya disambut dengan upacara kehormatan oleh raja Niha Yöu.
Selama Tumba’a Ana’a berada di situ, ia sempat melihat seorang gadis yang berparas cantik sekali bernama Silewe Kana’a. Ia jatuh cinta pada gadis itu. Gadis itu adalah putri dari raja Taniwaha’ambö.
Karena itu ia mengirim utusan kepada Taniwaha’ambö untuk menyampaikan bahwa ia ingin meminang dan memperisterikan Silewe Kana’a.
Taniwaha’ambö menerima lamaran raja Tumba Ana’a sebagai menantunya. Singkat cerita, Tumba Ana’a membayar semua kewajiban adat “böwö” yang dipersyaratkan kepadanya.
Tujuh hari setelah pesta perkawinan, maka Tumba Ana’a melakukan acara “famuli nukha.” Pada saat itu pihak keluarga raja Tumba Ana’a dan raja Tuniwaha’ambö saling memberi “böwö” dalam bentuk ayam, babi hidup dll. Namun salah seekor dari babi yang diberikan oleh Taniwaha’ambö kepada keluarga menantunya adalah seokor babi jantan “la’imba.”
Karena begitu banyaknya hewan pemberian dari keluarga orangtua Silewe Kana’a, maka Tumba Ana’a meminta agar ia tidak membawa ke Talu Idanoi babi jantan “la’imba” pemberian mertuanya, akan tetapi tinggal dan dipelihara saja dulu oleh mertuanya dan kelak akan dimbilnya. Ia sendiri yang meminta demikian dan mertuanya pun mengabulkan permintaan itu.
Akan tetapi sebagaimana lazimnya jika babi jantan dilepas begitu saja, maka babi itu akan menjadi sangat liar dan galak. Begitulah babi tersebut sungguh liar, agresif mengejar dan menggigit orang serta babi-babi lain. Sehingga Anak-anak di kampung itu menjadi tidak aman. Babi Tumba Ana’a pemberian mertuanya itu telah membuat resah seisi kampung.
Karena itu, raja Taniwaha’ambö mencari akal agar babi itu jinak dan tidak liar lagi. Lalu ia menyuruh orang untuk mengebirinya “lakhai.” Dan hasilnya, babi itu tidak lagi agresif dan akan tetapi menjadi jinak.
Suatu saat, sekitar tiga bulan setelah acara “mamuli nukha,” Silewe Kana’a merasa rindu kampung halamannya. Lalu ia pergi ke sana diantar oleh suaminya Raja Tumba Ana’a dan sejumlah pengiring lainnya.
Kedatangan mereka disambut oleh Raja Taniwaha’ambö. Lalu, ia juga menjelaskan bahwa babi jantan yang dulu mereka tinggalkan telah meresahkan warga kampung. Dan untuk mencegah keliaran babi, ia telah menyuruh orang untuk mengebirinya. Dan kemudian babi itu tidak lagi menggigit orang dan bahkan sudah menjadi besar.
Raja Tumba Ana’a tidak bisa menerima penjelasan mertuanya. Ia langsung naik pitam. Ia bahkan salah pengertian atas tindakan itu. Ia mengibaratkan babi jantan itu sebagai simbol kerajaan Niha Raya yang sudah dikebiri oleh raja Niha Yöu.
Raja Taniwaha’ambö, mertuanya mencoba menjelaska sejelas dengan tenang dan sabar bahwa ia sama sekali tidak maksud demikian. Tetapi Tumba Ana’a tetap ngotot dan menyimpan dendam kepada mertuanya.
Tumba Ana’a pulang ke Talu Idanoi. Di sana ia menyebarkan berita dan memprovokasi warganya serta raja-raja lain dengan isu babi jantan tadi yang sudah dikebiri. Ia mengatakan bahwa Raja Taniwaha’ambö telah mengebiri Niha Raya. Niha Raya yang disimbolkannya dengan babi itu telah dikebiri agar tidak melawan lagi dengan kata lain menurut saja. Bahkan ia menambah kata-kata yang lebih tajam agar raja Tumba Ononamölö menjadi marah dan emosi. Namun terdapat juga di antara para tokoh yang hadir di situ, mengatakan bahwa tidak cukup alasan untuk menyerang kerajaan Niha Yöu apa lagi dengan mertuanya sendiri.
Masukan dari para tokoh itu tidak mengurungkan niat raja Tumba Ana’a. Malah ia semakin marah dan berusaha mencari alasan untuk berperang, sehingga ia mengatakan “Jika demikian aku pergi sekali lagi ke Niha Yöu mencari sesuatu sebab yang lain, agar peperangan terjadi.”
Karena itu, Raja Tumba Ana’a pergi ke kampung mertuanya. Pada saat sedang berada di sana ia nongkrong di tempat pandai besi ‘ambukha.’ Di tempat itu mereka membuat berbagai jenis senjata berkualitas sangat bagus seperti pedang, keris dan tombak dll. Seperti biasanya di situ ada sejumlah laki-laki termasuk Raja Taniwaha’ambö yang sedang mengamati karya warganya. Mereka senang melihat kedatangan menantu Raja Niha Yöu itu lalu mereka mengajaknya ngombrol dan bergurau. Mereka duga bahwa menantu raja itu ramah. Lalu salah seroang dari mereka yang hadir disitu meminta keris yang telah terselip di pinggang Tumba Ana’a dengan maksud untuk memperhatikannya. Tetapi keris buatan Niha Raya itu tipis dan kecil serta buatannya tidak kuat. Sedangkan keris buatan Niha Yöu besar dan tebal, bagus bentuknya serta dari bahan yang kuat. Lalu, para pandai besi tadi mengajak Raja Tumba Ana’a untuk bertukar keris dengan cara bergurau.
Karena Tumba Ana’a semata-mata hendak mencari pokok perselisihan, maka semua perkataan dan gurauan itu disalah artikannya. Lalu, katanya: “Keris saya ini, walaupun demikian keadaannya, tak maulah saya rasanaya bertukar walaupun dengan sepuluh keris buatan lain. Keris buatan Niha Raya selalu bertuah dan keramat.”
Ia menyampaikan hal itu dengan wajah serius, tepi para tukang besi itu hanya menanggapinya dengan bergurau, sehingga ada yang mengatakan: “jika Raja suka dan berani marilah kita mengadu ketua mata keris ini, mana yang sumbing matanya atau patah, itulah yang kalah.”
Perkataan itu di jawab oleh raja Tumba A’na’a, katanya: sekarang saya tidak mau mengadu keris pada saat itu, karana ia belum meminta izin dari rakyatnya. Ia mengatakan jika permintaan sungguh-sungguh agar diberi waktu dan ditunda dulu dan dilakukan pada saat ia datang sekali lagi di tempat itu. Para tukang itu menyetujui permintaan itu raja Tumba Ana’a sambil bercanda.
Semua hal itu menambah dendam kesumat dalam hati raja Tumba Ana’a. Oleh karena telah terlanjur berjanji untuk mengadu keris, dan Raja Tumba Ana’a menduga bahwa akan memenangkan pertandingan itu, lalu ia pulang ke Talu Idanoi.
Setibanya di sana ia menghadap Raja Tumba Ononamölö di Laraga dan menyampaikan segala rencana. Setalah mendengar penjelasan, maka Raja Tumba Ononamölö mendapat satu akal, lalu ia mengatkan: “Apabila kekuatan yang diadu, sudaha barang tentu keris kita kalah. Akan tetapi dalam hal ini, baik dengan akal juga. Tentang mengadu keris macam itu, salah satu keris harus dipotong, sedangakan yang satu ditahan dan letakkan di atas landasannya. Bila terjadi demikian harus keris kita ini dengan tipu muslihat diputar balikan pada landasannya hingga tidak terlihat oleh orang lain karena kecepatannya. Jadi ada harapan keris musuh rusak, karena bila mengenai bagian belakang keris ini, maka sumbing atau patahlah matanya.”
Raja Tumba Ana’a menerima masukan dari Raja Tumaba Ononamölö. Lalu pergi ke wilayah Niha Yöu untuk menetapkan waktu pertandingan mengadu keris.
Setelah tiba waktu yang telah disepakati, maka kedua belah pihak berkumpul di halaman disaksikan oleh banyak orang. Dan pertandingan adu keris pun di mulai.
Raja Tumba Ana’a melakukan segalah petunjuk tipu muslihat yang telah disampaikan oleh Raja Tumba Ononamölö kepadanya. Karena itu dengan sangat mengejutkan, tiba-tiba daun keris buatan Niha Yöu patah, sedangkan keris Niha Raya tetap utuh tanpa cacat sedikitpun. Niha Yöu menerima kekalahan itu dengan lapang dada, sebab walaupun mereka kalah, kemenangan jatuh ke tangan raja mereka juga, apalagi menurut mereka pertandingan semacam itu tidak begitu berarti.
Raja Tumba Ana’a menjadikan kemenangan ini sebagai kemegahannya, karena itu ia mengatakan “Ezai fogilo, wombali.” Artinya “sebagai pemutar pembalikan,” Lalu ia meneruskan kata-katanya lagi “Seperti keadaan keris inilah keadaan Niha Yöu jika berlawanan dengan Niha Raya.”
Perkataan provokasi itu tidak diperdulikan oleh orang-orang yang hadir di situ, terlebih Raja Taniwaha’ambö, sebab menurut dia, ucapan itu hanya sekedar kata-kata yang tidak mengandung arti jahat.
Setelah itu, Raja Tumba Ana’a kembali ke kampungya di Talu Idanoi. Segala peristiwa tentang pertandingan adu keris itu diceritakannya kepada Raja Tumba Ononamölö yang bijaksana.
Tidak berapa lama kemudian kedua raja di Talu Idanoi itu bersepakat untuk menghimpun rakyat dan mengumumkan perang dengan Niha Yöu. Raja Tumba Ana’a memperovokasi rakyat dengan berpura-pura dihina oleh mertuanya dan menjelek-jelekannya di hadapan rakyatnya jika ia berkunjung kesana. Karena itu, ia merasa terhina dan wajahnya tercoreng serta menanggung malu. Ia tidak tahu bagaimana cara membela diri. Rakyat pun percaya begitu saja.
Karena itu raktyat bersama seluruh pemebesar khususnya Raja Tumba Ononamölö di Laraga terpaksa bersatu membulatkan tekat untuk memerangi Niha Yöu. Ia percaya bahwa Raja Tumba Ana’a tidak mungkin mengkhianati mertuanya, karena itu ia yakin bahwa segalah perkataan Raja Tumba Ana’a adalah benar.
Untuk mempersiapkan peperangan dengan dengan Niha Yöu, Raja Tumba Ana’a dan Raja Tumba Ononamölö mengutus seseorang berkeliling untuk memberitahukan kepada segenap raja-raja dan seluruh rakyat yang ada wilayah itu agar berkumpul pada suatu tempat yaitu di “Hiligolu,” sebuah gunung yang terletak di dekat Ombölata. Di sebelah barat tempat itu adalah wilaya kekuasaan Mado Harefa hingga sekarang ini. Gunung itu dapat dilihat dari kapung Faekhu, sekitar 10-11 km dari Gunung Sitoli.
Konon certianya, dengan kesaktiannya, Raja Tumba Ana’a menghentakkan kakinya di atas tanah di puncak gunung itu, dan pada saat ia mengangkat kakinya, keluarlah air dari dalam tanah. Itulah mata air di atas bukit Hiligolu yang ada hingga sekarang ini.
Di tempat itulah dibiputuskan siapa yang memimpin peperangan melawan Niha Yöu yaitu: Raja Tumba Ana’a dan Tumba Ononamölö.
Demikian juga perbelanjaan (logistik) selama peperangan, yaitu seuntai kalung emas ‘nifatali’ seberat 120 pao diberi oleh Tumba Ana’a, karena dialah yang menyulut peperangan “Börö horö.” Selain itu, keperluan perang dibagi tiga yaitu: Sepertiga ditangung oleh Tumba Ana’a, Sepertiga dari Tumba Ononamölö dan yang sepertiga lagi ditanggung oleh raja-raja yang lain yang telah berjanji pada saat melakukan perumusan dan pembaharuan hukum “Modrakö.” Peraturan dipakai sebagai ketentuan dalam pembagian kewajiban dan tanggungjawab untuk melawan musuh di daerah Niha Raya.
Setelah disepakati, maka diutuslah beberapa orang kepada Raja Taniwaha’ambö untuk mengumumkan perang.
Raja Taniwaha’ambö, para pembesar dan rakyatnya sangat terkejut mendengar berita dari utusan itu serta tindakan Tumba Ana’a yang sangat menaruh dendam kepada Niha Yöu yang hanya dipicu oleh hal-hal kecil. Mereka mingira segala kejadian itu hanya sekedar gurauan dan tak ada maksud jahat di balik itu.
Seketika itu pulalah, Raja Taniwaha’ambö sadar akan segala tingkah laku menantunya yang aneh selama ini yang hanya semata-mata mencari bibit permasalahan. Karena itu, Raja Taniwaha’ambö sangat murka sehingga ia mengerahkan seluruh hamba dan rakyatnya untuk berperang melawan Niha Raya.
Ia memesankan kepada para utusan itu bahwa Niha Yöu sangat siap menghadapi serangan serta memusnahkan Niha Raya di bawah komando Tumba Ana’a yang seyogianya tidak patut dendam kepada mertuanya.
Mendengar pesanan itu, Raja Tumba Ana’a bertambah berang. Seluruh rakyat Niha Yöu berikrar untuk membela rajanya yang dipermalukan oleh Tumba Ana’a. Dan yang memimpin peperangan dari Niha Yöu adalah Raja Taniwaha’ambö.
Maka terjadilah peperangan antara Niha Raya melawan Niha Yöu di Helakha, wilayah kekuasaan Niha Yöu.
Di lokasi peperangan itu, ada sebatang pohon beringin “Awöni” yang telah tumbang dan melintang. Pohon itu telah menjadi pembatas wilayah antar Niha Raya dan Niha Yöu. Pohon tersebut sangat besar dan panjang sekali sehingga kita tidak bisa melihat orang yang ada di sebelah.
Sebelah menyebelah dari pohon itu, kedua kubu kerajaan yang sedang berperang saling menunggu dan memprovokasi lawannya untuk menyerang. Karena postu tubuh Niha Raya tidak begitu besar maka mereka tidak bisa melompati dan melewati pohon tersebut untuk menyerang lawan. Karena itu mereka mencari akal untuk mengalahkan Niha Yöu yang memiliki postur tubuh besar dan tinggi-tinggi serta gagah berani yang mau menyerang. Mereka memasang perangkap “saiwa” dan ranjau “Bölödi.” Niha Raya bertahan saja sambil memancing Niha Yöu supaya untuk menyerang mereka.
Mendengar seruan provokasi dari Niha Raya, maka pasukan Niha Yöu yang gagah berani itu, langsung melompati batang pohon yang melintang untuk menyerang. Mereka dengan gampang melewati batang pohon itu dengan melompat.Tapi, sayang, setiap orang yang lewat, langsung masuk perangkap sebelum menginjakkan kaki ke tanah. Dan setelah itu dihantam oleh ranjau “bölödi,” sehingga mereka dengan mudah dibunuh oleh pasukan Niha Raya yang sedang menanti musuh.
Lebih separoh dari pasukan Niha Yöu sudah melewati batang pohon itu. Mereka tidak mengetahui bahwa pasukan mereka telah mati dibunuh oleh Niha Raya. Lalu salah seorang dari pasukan Niha Yöu yang postur tubuhnya kecil dan gemuk, melompati batang pohon menyusul kawan-kawannya untuk melakukan penyerangan. Tapi karena gemuk dan tidak kuat ia sangkut di atas batang pohon itu. Ia tidak bisa lewat. Ia hanya sampai di atas batang pohon dan berdiri. Lalu ia melihat di sebelah, ternyata semua kawannya mati terbunuh. Tak ada satu pun yang masih hidup, termasuk raja dan pemimpin pasukan mereka Raja Tanihawaha’ambö.
Melihat kejadian itu, ia segera mundur dan dan memberitahukan kepada seluruh pasukannya yang masih tersisa. Lalu tanpa, menunggu lagi, seluruh anggota pasukan Niha Yöu takut dan langsung melarikan diri.
Pasukan Niha Raya mengejar musuh, menyerang dan membakar perkapungan Niha Yöu sehingga banyak perkampungan yang hancur. Akibat peperangan ini, jumlah penduduk Niha Yöu semakin berkurang jumlahnya. Raja Taniwaha’ambö ditangkap oleh Niha Raya dan lalu membunuhnya.
Oleh karena itu pula, sebagian tanah dan wilayah Niha Yöu diduduki oleh Niha Raya. Mado Harefa menduduki wilayah Luzamanu dan Mado Zebua (keturunan Hinomanofu) mengusai wilayah Sowu hingga Afia. Sejak itu, Niha Raya berangsur-angsur pindah ke tanah Niha Yöu. Itulah sebab di bagian utara pulau Nias kita banyak menjumpai suku dan marga yang bukan keturunan Gözö Hela-hela Danö.
Sumber asli: Faogöli Harefa, Hikajat dan tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Poelaoe Tello, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939, hal 104 – 113.
Ditulis kembali oleh: Nata’alui Duha
Popularity: 26% [?]







Dari zaman dulu niha raya (khususnya ex kec. teluk dalam) terbagi dalam beberapa ori..yang pada umumnya tidak akur betul satu sama lain dalam pengertian saling perang untuk menunjukkan supremasinya dengan desa lain, bukan untuk menjajah desa lain , walaupun ada relationship berupa hubungan kekeluargaan melalui perkawinan antar desa…
buktinya 1). setiap desa/banua di teluk dalam mempunyai dialek yang berbeda, 2). desa-desa berada di atas bukit/pegunungan (sebagai benteng alam dari ancaman musuh;umumnya bersal dari desa terdekatnya, dan 3).jarak antar rumah-rumah di masing-masing banua
Jadi bagaimana bisa terjadi peperangan antara niha raya dan niha yeu..?