Buku: Ritus Patung Harimau

October 14, 1986 by mpn  
Filed under Museum

Ritus Patung Harimau

RITUS PATUNG HARIMAU

Pesta Harimau, Fondrakö, Börönadu dan

Kebudayaan Lainnya di Wilayah Maenamölö,

Nias Selatan

Oleh

P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap.

Penerbit Yayasan Pusaka Nias
Jl. Yos Sudarso No. 134-A
P.O. Box 16, Gunungsitoli 22812
Telp.:
(0639) 21920, 22286 Fax.: (0639) 21920
E-mail: info@museum-nias.net
NIAS – Sumatera Utara – Indonesia

Cetakan Pertama
2005

I S B N 979 – 95749 – 6 – X

Cover

P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap.

Alih Bahasa
Pdt. Dal. Zendratö, S.Th

Setting-Layout & Scan Foto
Fabius Ndruru

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta.
Dilarang mereproduksi, menterjemahkan dan memperbanyak sebagian atau seluruhnya isi buku ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari
Penerbit Yayasan Pusaka Nias.

_______________

KATA PENGANTAR
Edisi Pertama 1986

Seni dan Bahasa masih seperti anak Yatim kata Mendikbud Prof. Fuad Hassan. Padahal menurut beliau seni dan bahasa merupakan dua ungkapan manusiawi yang dinaungi istilah budaya.

Dalam buku ini hendak disajikan kepada kita ungkapan seni dan bahasa dari nenek moyang kita di Nias Selatan walaupun hanya sebagian kecil saja dari kebudayaan mereka, agar kita dapat memiliki dan mengetahui bersama apa yang sudah hampir hilang lenyap. Tetapi buku ini masih sangat terbatas karena hanya meliputi ungkapan seni dan bahasa dari daerah kecil di Nias Selatan di mana tinggal Ono Maenamölö atau lima suku keturunan leluhur Mölö. Tetapi justru di daerah Nias Selatan sumbangan buku ini sangat penting. Nias Selatan terkenal sebagai objek pariwisata, padahal di daerah tersebut hampir tidak ada penelitian-penelitian atau terbitan tentang bahasa, tradisi dan kebudayaan.

Sebaliknya perhatian dari luar negeri besar sekali. Kadang-kadang kita bisa bertemu dengan etnolog atau sarjana dari mancanegara yang lebih banyak tahu tentang pulau Nias dari pada kita sendiri.

Mereka yang datang dari luar negeri itu mengalami pelbagai hambatan, terutama dari segi bahasa, komunikasi dan waktu. Dan sudah jelas mereka tidak bisa menggantikan kita dalam hal menjiwai dan mengembangkan kebudayaan kita, karena kebudayaan itu adalah kepribadian suku Nias dan kebanggaan nasional. Oleh sebab itu harus tetap dipelihara dan dibina untuk memupuk, memperkaya dan memberi corak khas kepada kebudayaan Nasional.

Buku “Famatö Harimao” hendak menunjang usaha-usaha itu. Di dalamnya dapat kita melihat pelbagai pokok-pokok pikiran dan pelbagai penghayatan nenek moyang kita, baik cara hidup maupun iman mereka. Semoga kita sekarang ini menyadari bahwa pada zaman kini giliran kita untuk menjiwai dan mengembangkan bahasa dan seni Nias serta hidup sebagai orang yang beragama.

Dulu Si’ulu Barani dari Hilisimaetanö berkata kepada Pendeta Fries:

“Memang saya mau mengikuti dikau Tuan!
Memang saya mau datang untuk percaya kepada Yesus!
Memang saya mau datang untuk bernyanyi!
Tetapi saya tidak mau melenyapkan adat orang tuaku!”

Hal ini tidak terlampau sulit karena adat yang baik dan hidup beragama tidak bertentangan.

Memang kita menyadari bahwa adat dulu sering kali sesat, karena belum diterangi oleh Nur Ilahi, dan sering mengikuti kemauan manusia saja.

Kami menyadari bahwa buku ini mempunyai banyak kekurangan. Oleh sebab itu setiap saran dan kritik yang membangun dalam perbaikan dan penyempurnaan buku ini sangat diharapkan.

Maka dengan ini Buku “Famatö Harimao” kami persembahkan kepada para pembaca yang budiman.

Telukdalam, Oktober 1986
P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap.

Popularity: 8% [?]

Comments are closed.