Uli Danö Saukhu dan Disain Nias yang Serba Tergantung
January 30, 2008 by fabius.ndruru
Filed under Artikel
Oleh: Nata’alui Duha, S.Pd. (Media Warisan Edisi No. 61)
Uli Danö Saukhu, pemanasan global (global heat) merupakan isu yang paling dibicarakan dan dikuatirkan di penghujung tahun 2007, menyongsong 2008. Konferensi Dunia Perubahan Iklim di Bali pada 13-14 Desember 2007, telah menghasilkan berbagai kesepakatan dan menggalang kesadaran akan usaha penurunan emisi gas yang berdampak pada peningkatan suhu bumi yang sangat ekstem akhir-akhir ini.
Bumi yang panas itu ditandai dengan berbagai bencana alam yang mematikan dan menyengsarakan manusia di berbagai belahan dunia. Segala aktivitas manusia yang mengakibatkan peningkatan emisi CO2, secara langsung menciptakan neraka dunia dan menggali liang kuburan massal. Banjir bandang, longsor, angin puting beliung, badai, topan, musim yang tidak teratur dan peningkatan suhu bumi yang sangat menyengat dll., semua membawa malapetaka bagi manusia.
Di Nias sendiri, Hari Raya Natal diciderai dengan banjir yang melanda sejumlah kecamatan (Gidö, Bawölato, Tuhemberua dll). Tak ada korban jiwa, tapi ratusan hektar lahan pertanian produktif disapu bersih oleh banjir. Harta benda hilang dan warga Nias menanggung derita, sementara luka dari bencana sebelumnya belum juga sembuh.
Tri Harso Karyono, Guru Besar Arsitektur Universitas Tarumanegara dalam “Pemanasan Global dan Dosa Arsitektur” (www.kompas.co.id) yang ditayangkan oleh Situs Ya’ahowu pada 11 September 2007, mengutip kembali pernyataan Sir David King, Kepala Penasihat Perdana Menteri Inggris bidang Sains, “Climate change is now a greater threat to humanity than terrorism.” Perubahan iklim (akibat pemanasan Bumi) jauh lebih berbahaya dari pada terorisme. Ia menegaskan bahwa para arsitek berperan besar dalam memanaskan bumi. Kekeliruan tangan arsitek modern akan terus memanaskan bumi dan berpotensi lebih besar membasmi manusia dibandingkan dengan kemampuan teroris.
Tri Harsono Karyono menggarisbawahi dan menegaskan bahwa pemanasan bumi dan perubahan iklim sebagai “dosa besar para arsitek” yang merancang bangunan, gedung, rumah dan lingkungan yang bergantung pada AC yang konsumtif terhadap energi dan melepaskan jutaan ton CO2. Terlalu banyak energi dibuang untuk pendingin ruangan yang semestinya tidak perlu jika arsitek menguasai perancangan bangunan hemat energi sesuai dengan iklim setempat, tegas beliu.
Rumah Adat Nias yang paling hemat energi
Dampak pamanasan bumi itu, juga ditanggung oleh masyarakat Nias. Di kota Gunung Sitoli sebagai ibukota kabupaten, berdiri gedung-gedung modern dari bahan beton dan besi. Di kala musim panas atau jika hujan tidak turun, kita seolah tinggal dalam neraka sebelum akhirat. Karenanya ruang-ruang dan rumah penduduk pun sudah mulai bergantung pada AC dengan biaya mahal. Dan hanya para pengusaha AC lah yang bisa tersenyum bersama sejumlah warga berkantong tebal.
Kita melangkah dari Gunung Sitoli menuju desa traditional Tumöri yang berada tidak jauh dari kota di mana kita bisa menikmati rumah tradisional Nias yang dirancang oleh para arsitek kampungan dan sering dicap primitif, tak perlu AC bahkan kipas angin sekali pun.
Arstektur rumah tradisional Nias yang dihasilkan oleh pemikiran dan karya para leluhur yang tidak pernah duduk dibangku sekolah, kini mendapat pujian dari para pakar arsitek di berbagai universitas di Eropa, karena memiliki sangat banyak keunggulan. Selain sangat hemat energi, disain ruangnya yang banyak memiliki sirkulasi udara dan konstruksinya yang sangat cocok di daerah yang rawan gempa seperti pulau Nias. Para arsitek kuno itu mengembangkan suatu tempat hunian yang disesuaikan dengan iklim setempat dan antisipatif menghadapi fenomena alam yang tidak pernah mampu dikendalikan oleh kemampuan ilmu pengetahuan manusia hingga kini.
Budaya dikembangkan dari hutan
Andai saja omo niha atau omo hada terus dikembangkan menjadi rumah hunian favorit dan kebanggaan masyarakat Nias, maka tiap orang dengan sendirinya berpikir akan persiapan kebutuhan bahan pada rumahnya. Setiap orang akan menanam pohon (kayu) yang berkualitas untuk bisa dijadikan bahan bangunan. Pohon-pohon akan dipelihara dan tanah Nias akan tetap hijau.
Bisa dibayangkan jika tidak ada alasan bagi setiap orang Nias, terutama di desa-desa yang belum dijangkau oleh kendaraan roda empat untuk tidak menanam pohon.
Kehadiran rumah beton telah melapangkan jalan untuk menebang pohon. Banyak warga berpikir pendek bahwa tidak perlu kayu pembangunan sebuah rumah. Ada semen dan besi yang bisa dibeli di pasar, jadi tidak perlu menanam pohon. Anak-anak pun biasanya dengan gampang memotong pohon-pohon kecil karena dianggap tidak terlalu penting. Perilaku negatif ini memuncak semenjak warga Nias mengenal rumah beton (Omo Batu/Omo Beto), walaupun juga dipicu oleh sistem pertanian traditional yang selalu berpindah pindah dan terakhir oleh booming penanaman nilam (pachouly).
Perubahan pandangan khususnya orang Nias akan rumah yang nyaman dan aman seharusnya dikembalikan pada akarnya “kearifan lokal.” Persitiwa bencana alam mulai dari banjir bandang yang melanda Lahusa, Gomo dan Amandraya pada tahun 2000, tanah longsor di Siwalawa dan Gidö, gempa bumi yang dahsyat pada tahun 2005 dan banjir bandang yang selalu menenggelamkan sebagaian wilayah Gidö, Bawölato, Tuhemberua dll setiap tahun, serta pemanasan bumi yang sangat luar biasa, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk menata lingkungan.
Jika akhir-akhir ini, kelangkaan kayu menjadi dalih untuk tidak membangun kembali “omo hada,” jika kita kembali ke arifan lokal yang unik dan yang telah menjadi identitas kita, maka Nias akan kembali dihijaukan oleh pohon-pohon kayu. Dari situ, warga dapat membangun kembali Omo Niha yang dapat dipadukan dengan rumah modern, misalnya dengan dapur dan kamar mandi di bagian belakang, seperti kita lihat di kompleks Museum Pusaka Nias Gunung Sitoli. Hutan dan kayu akan kembali mendorong aktifitas pestarian dan pengembangan budaya Nias.
Disain yang serba tergantung
Uli Danö Saukhu sangat terasa setelah bencana alam gempa tahun 2005. Berbagai kalangan mengeluhkan iklim dan suhu bumi. Di Pulau Nias, rasanya, suhu akan terus meningkat karena jumlah kendaraan yang bertambah banyak, penggunaan barang-barang elektonik yang boros energi dan menghasilkan emisi gas CO2 diiringi dengan penebangan pohon secara membabi buta, tanpa disertai penanaman kembali pada masa RR di Nias.
Kebijakan BRR yang tidak pro pada rumah adat Nias juga semakin mendorong usaha peningkatan emisi gas. Rumah beton yang tidak ramah lingkungan memaksa penghuninya untuk memakai alat pendingin, paling tidak kipas angin.
Pemberian bantuan rumah berbahan beton kepada warga merupakan solusi instant untuk mengatasi kelangkaan bahan kayu, sekaligus menjadi alat kampanye untuk membangun sikap untuk tidak menanam pohon (kayu).
Selanjutnya warga Nias akan tergantung pada bahan bangunan yang diimport dari luar pulau Nias dengan harga yang tak terkendali. Dengan demikian, pulau Nias yang tidak memiliki tambang semen dan besi akan menjadi pasar surga bagi perusahan semen, besi, tembok, atap seng, cat, dll. Warga desa terpencil akan dihimpit beban berat untuk mengangkut bahan bangunan semen dari pasar ke desa dengan tenaga manusia.
Orang Nias akan terus bekerja keras untuk mencari uang dan mengalirkan semuanya kepada perusahaan bahan bangunan. Muaranya, uang masyarakat Nias akan dikuras dan berkumpul pada suatu muara yaitu kantong pemilik perusahaan bahan bangunan terutama semen dan besi
Jika saja sejak saat ini warga sadar akan pentingnya penanaman pohon dengan alasan demi pelestarian budaya lewat pembangunan rumah hunian yang nyaman ‘omo hada,’ maka ketika terjadi gempa atau bencana alam lainnya 20 tahun yang akan datang, masyarakat tidak perlu tergantung pada bantuan rumah bari BRR atau dari luar. Mereka bisa membangun rumah sendiri dari “tambang bahan bangunan” yang mereka ciptakan sendiri. Uang orang Nias tidak akan mengalir ke luar pulau Nias dan berkumpul pada satu kantong. Penghasilan dapat digunakan untuk tujuan lain, misalnya pendidikan anak dll. Pulau Nias pun tidak menjadi “uli danö saukhu” melainkan ulidanö yang nyaman dan segar “ Sonöri-nöri ba sodöwa-döwa.”
Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Budaya Nias.
Popularity: 14% [?]







Saya setuju dengan usaha pembangunan kembali rumah hunian adat nias. Selain melestarikan budaya Nias yang telah diciptakan dengan buah pikiran yang brilian dari leluhur kita, kita juga turut menjaga keseimbangan lingkungan dan bumi yang kita huni ini. Tapi Pak Duha, saya mau bertanya bukankah pembangunan rumah adat Nias ini biayanya cukup besar? Bagaimana cara menyiasatinya selain dengan usaha penanaman pohon yang kualitasnya baik, apakah ada tips yang lain? Thx before..
saya sangat setuju dengan hal tersebut, selain utk mempertahankan budaya juga memberitahukan pada dunia bahwa nias memiliki citra yang sangat perlu dicontoh dalam pembangunan.
saya harap orang nias dimana pun berada harus memperhatikan hal tersebut.
bersama-sama membangun nias tercinta.