Dan…“Omo Niha” Itu Diresmikan

January 5, 2008 by nataalui.duha  
Filed under Aktual, Berita, Museum

Omo Niha yang diesmikan di Museum Pusaka NiasKesannya, kita sedang memasuki area kottage yang asri dan bersih. Diperindah oleh berbagai jenis bambu dan flora Nias langka yang sengaja ditanam agar lingkungan tetap hijau. “Jauh dari kesan angker dan memikat,” kata Direktur Museum Budaya Barcelona Spanyol Anthoni Nicolas yang berkunjung ke museum Pusaka Nias baru-baru ini.

Dari jalan kita tidak menduga bahwa kita sedang memasuki kawasan Museum Pusaka Nias yang ditata dengan konsep etnis-naturalis. Memasuki halaman gedung induk, kita langsung melihat sebuah rumah adat “Omo Niha” berbentuk oval yang sering disebut “Omo Laraga” oleh masyarakat sekitar kota Gunung Sitoli.


Rumah tua dan telah jatuh pada saat gempa bumi 2 tahun yang lalu itu telah disulap menjadi bangunan yang agung dilengkapi dengan kamar mandi modern dan halaman dari batu-batu megalith. Memberi kesan kita sedang berada pada zaman kejayaan kultur leluhur Nias tempo dulu.

Itulah rumah tradisional etnik Nias “Omo Niha” yang sekarang ini lebih populer dengan sebutan “Omo Hada” yang berarti rumah adat. Seiring dengan namanya, pendirian rumah itu sarat dengan adat. Mulai dari proses perencanaan hingga peresmiannya. Bukan saja pengorbanan materi, tetapi juga keterlibatan banyak orang dalam setiap tahapan adat yang dilakukan sepanjang pembangunan tumah itu hingga akhirnya disebut rumah orang Nias “Omo Niha” yang menjadi pusat pelaksanaan, pengembangan dan penerusan adat istiadat yang dengan kata lain rumah adat “Omo Hada.”

Bupati Nias B. Baeha SH meresmikan Omo Niha di Museum Pusaka NiasTapi lain dengan rumah adat yang baru diresmikan ini. Seluruh adat yang dilalui sudah disederhanakan sesuai dengan kondisi sekarang. Pada hari itu Jum’at sore (22/06/07), di Museum Pusaka Nias hadir sejumlah pimpinan NGO diantaranya dari BRR, ILO, FAO, WFP, UNORC, Unicef, Help, The Johaniter, Caritas dll. Tokoh adat dan Masyarakat Nias juga hadir diataranya Bupati dan Wakil Bupati Nias Binahati B.Baeha SH dan Temazaro Harefa, Ketua DPRD Nias Ingati Nazara A.Md., Sekda Kabupten Nias Drs. FG. Marthin Zebua, Asisten I yang juga Ketua Forum Masyarakat Peduli Museum Pusaka Nias Drs. Kemurnian Zebua, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan beserta pejabat lainya.

Kompleks museum dimeriahkan dengan musik dan tarian tradisional Nias. Tarian penggoncangan rumah adat “Fameheu omo” yang merupakan inti dari pesta peresmian rumah adat dilakukan oleh Siswa-siswi dari Sanggar SMU Pemda 2 Nias. Mereka menguji kekuatan rumah tersebut dengan menari dan menggoncangkanya lewat hentakan kaki. Dan rumah adat itu pun diresmikan oleh Bupati Nias dengan pemukulan gong dan penandatanganan dokmen peresmian.

Direktur Museum Pusaka Nias Pastor Johannes M. Hämmerle menjelaskan bahwa rumah adat itu merupakan rumah tua milik keluarga besar Ama Jeni Telaumbanua di desa Simandraölö, Kecamatan Gunung Sitoli dan dapat didirikan kembali atas bantuan Brigitte Ott dan suaminya Günter Ott bersama teman-teman mereka. Kedua orang ini bekerja pada Sekolah Internasional-Jerman (DIS) di Jakarta. Dalam kata sambutannya Pater Johannes menyampaikan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah terlibat dan memberi bantuan pada pengembangan Museum Pusaka Nias yang berkarya untuk pelestarian budaya Nias.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga disampaikan kepada Bapak Bupati Nias & Ketua DPRD Nias, karena program pengembangan museum akhir-akhir ini sudah dimasukan dalam APBD dua tahun berturut-turut dengan bantuan terakhir pada APBD 2007 sebesar 150 juta Rupiah. Beliau menekankan bahwa segenap staf museum sangat gembira dan berterima kasih atas dukungan ini. Bantuan itu menunjukan bahwa pekerjaan ini tidak saja berguna bagi seorang direktur museum asal Jerman, melainkan bagi masyarakat dan pemerintah Nias seluruhnya. “Kami Staf museum sangat menghargai dukungan itu dan menghaturkan rasa terima kasih yang tulus,“ ujarnya dengan mimik serius.

Juga diucapkan terima kasih atas bantuan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, masyarakat Kota Münster, Konstanz dan The Johaniter. Hingga kini sudah 32 rumah adat di Kabupaten Nias yang telah diperbaiki kembali. Dan 29 rumah diantaranya sedang dalam pembangunan atas bantuan dari organisasi The Johaniter. Tak luput dari penjelasan Pastor Johannes tentang biaya opersional museum per bulan; rata-rata 40 juta rupiah. Sementara income dari karcis masuk rata-rata 10 juta Rupiah. Itu pun jika tidak hujan. Itu berarti bahwa saldo minus per 1 bulan sebesar 30 juta Rupiah. Dan kalau ada hal khusus seperti peresmian rumah adat, saldo minus tentu bertambah besar. Gaji para tukang dan biaya pembangunan baru belum termasuk dalam biaya operasional itu.

Secara jujur direktur mengakui bahwa Pemerintah Kabupaten Nias telah memberikan perhatian dan dukungan pada pengembangan Museum Pusaka Nias. Dan tentu pada masa yang akan datang perhatian itu tetap diharapkan sebagai komitmen pada pengembangan budaya sebagai identitas dan juga sebagai sumber pendidikan dan pengetahuan bagi masyarakat dunia, khususnya orang Nias.

Pater Johannes menceritakan bahwa akhir bulan yang lalu, pada Stakeholder Meeting yang diselenggarakan oleh UNESCO di Medan, beliau bertemu dengan Direktur Museum Swasta Sumbawa. Museum swasta ini memiliki 11 orang staf. Semuanya menerima honor dari pemerintah dan kelak akan diangkat menjadi PNS yang digaji oleh pemerintah. Selain itu, mereka mendapat bantuan rutin setiap tahun sebesar 50 juta Rupiah.

Lain halnya dengan Museum Swasta di Sintang, yang didirikan dengan biaya dari Pemerintah Daerah pada tahun 2004 yang lalu. Biayanya 2 milliard Rupiah. Di Denver, Colorado-Amerika Serikat, setiap orang yang berbelanja sekaligus membayar 2% dari setiap barang yang dibelinya untuk museum-museum. Ini merupakan kebijakan pemerintah kota Denver untuk mendukung museum sebagai salah satu pusat pendidikan. Kontribusi Ini disalurkan secara otomatis pada museum-museum tanpa syarat setiap tahun.

Mendengar paparan direktur Museum Pusaka Nias, Ketua DPRD Nias Ingati Nazara, A.Md. mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya sembari mengajak semua pihak untuk mendukung keberlangsungan dan pengembangan museum ini.

Selanjutnya Bupati Nias Binahati B. Baeha, SH selain mengajak semua pihak khususnya jajarannya di Pemerintah Kabupaten Nias untuk mendukung dan mengatasi kesulitan yang sedang dialami oleh Museum Pusaka Nias, beliau juga menghimbau agar semua pihak memahami dan menyadari bahwa kegiatan museum tersebut jelas untuk Nias secara menyeluruh.

Pastor Johannes sebagai pemrakarsa Museum itu tidak mungkin membawanya ke Jerman. Bahkan beliau berusaha mencari pusaka Nias yang ada di luar negeri dan membawanya ke Nias. Ini merupakan pengorbanan dan usaha yang patut dihargai dan didukung.

Oleh karenanya, Bupati Nias berjanji bahwa mulai tahun depan honor karyawan Museum Pusaka Nias akan dialokasikan dalam APBD Nias. Pegawai Museum Pusaka Nias akan dijadikan pegawai honorer yang mendapat honor dari Pemerintah Kabupaten Nias.

Ini merupakan bukti kepedulian Pemerintah Kabupaten Nias untuk menghargai usaha pelestarian dan pengembangan budaya Nias yang dilakukan oleh Museum Pusaka Nias. Dan ini merupakan milik kita bersama, tandasnya.

Mendengar janji dan komitmen Bupati Nias yang sangat responsif itu, semua undangan dan hadirin dari berbagai kalangan menepuk tangan dan menyambutnya dengan gembira. Demikian juga para staf Museum Pusaka Nias berharap bahwa dukungan itu pasti akan terus diberikan dan diwujudkan.

Popularity: 13% [?]

Comments

2 Responses to “Dan…“Omo Niha” Itu Diresmikan”
  1. Restu Jaya Duha says:

    Ya’ahowu,

    Selamat kami ucapkan atas peresmian Omo Hada yang baru di Museum.
    Semoga generasi muda Ono Niha semakin dekat dengan budaya yang nyaris luput dari perhatian dan semoga generasi muda Ono Niha lebih berpacu untuk mengasah keahliannya dalam membangun Omo Hada.
    Semoga.

    Restu Jaya Duha dan Keluarga
    Karlsruhe-Jerman

  2. fertalius giawa says:

    selamat atas peresmian khoda omo hada sibaru ba museum!

    semoga menjadi acuan kepada kita untuk tidak melupakan harta warisan yang di berikan oleh nenek moyang kita,….

    pupuk lah dan teruskanlah melestarikan kebuayaan nias sebagai dasar dan monumen yang paling berharga untuk masa depan daerah kita nias,…

    semoga dengan tebalnya kebudayaan yang ada kita majukan nias ke depan dari keterpurukan selama ini…

    masa depan daerah kita nias ada di tangan kita semua,…

    dan saya tekankan juga kepada seluruh generasi baru di nias untuk belajar yang lebih banyak lagi,…

    dan tinggalkan rasa egois “fa’afokho dodo khonawo,..boi gambaoho ita ba mbanuada”

    tapi jadi lah teladan di negeri orang….

    saohagolo….ya’ahowu fefu!

    fertalius giawa
    perencanaan dan pemasaran pariwisata nias

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word