Nias Language

July 23, 2007 by fabius.ndruru  
Filed under English

A. The culture of Nias: Where does the original culture come from?
B. Nias tribe: Where does it come from originally?
C. Nias language: Where does it come from originally?

Related to the three above questions, I want to attract the attention of linguists toward the mystery of Nias. Starting setting up a hypothesis spontanously, I attempt to give an answer upon the questions, depicting Nias which is retrospective and at the same time may be an inspirative vision for linguists that is hoped expose the origin of Nias language.

A. The Culture of Nias

The culture of Nias as we recognize today, seems not too old, only The fact that about 500 years. It is estimated new, does not mean recent created, but it means that the culture just received in Nias island from outside and afterwards became an important factor of development. Once the new culture is adopted, and more and more the typical characteristic of the original language disappear and is now seen as the original culture of Nias.

Perhaps, the new imported culture is coming from China. The culture of China begins to enter the island since about 500s years ago by a group of Chinese immigrants in Lahusa and Gomo district, centre Nias.

The new comers have knowledge and skill in any field, thus their arrival brings about changing. More and more their culture is to be dominant on the island. I briefly mention some developments such as: architecture, carpentry, agriculture, cattle and textile as well as megalithic culture, sculpturing, genealogy and strata system.

Let’s see the geographical map. Facing the east coast in Lahusa district, 110 kilometres straight to eastern part, is situated port and town of Chinese “Singkuang” (=New Land) in west coast of Sumatra. 500s years ago, was found a dock in Singkuang. The skillful carpenters are of course able to build traditional houses (rumah adat) as we do admire in Nias.

Read more

Popularity: 16% [?]

Gender: Perempuan = Laki-laki ?

July 11, 2007 by nataalui.duha  
Filed under Artikel, Budaya

Berbicara soal gender maka kita akan membahas tentang laki-laki dan perempuan. Apa itu Gender? Mengapa gender dibicarakan? Dan Apa maksudnya ketidakadilan gender?

Pengertian Gender

Bila mendengar kata gender di daerah Nias, khususnya di desa- desa yang agak jauh dari kota, mungkin agak asing didengar. Tetapi bagi kalangan masyarakat yang sudah memiliki pengetahuan luas, hal ini sudah biasa. Yang dimaksud dengan Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi,hak, tanggungjawab dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai sosial, budaya dan adat istiadat dari kelompok masyarakat yang dapat berubah menurut waktu serta kondisi setempat. Maka kesetaraan dan keadilan adalah proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan Perempuan.
Read more

Popularity: 33% [?]

Gempa dan Arsitektur Di masa Depan

July 9, 2007 by nataalui.duha  
Filed under Artikel

Gempa yang baru saja terjadi di seluruh pulau Nias dengan kekuatan 8,7 Skala Richter (SR) diikuti dengan gempa susulan yang kekuatannya semakin melemah setiap hari telah merubah pandangan dan konsep masyarakat mengenai rumah.

Selama masih ada gempa, rumah bukanlah tempat perlindungan dan tempat yang aman. Rumah telah menjadi momok yang menakutkan karena bisa merenggut jiwa orang yang tinggal di dalamnya, tidak perduli apakah dia adalah pemilik, penyewa, sekedar pengunjung dsb. Betapa tidak, berdasarkan data sementara di seluruh pulau Nias tercatat 839 orang meninggal dunia dan puluhan ribu orang mengalami luka berat dan ringan karena tertindih reruntuhan bangunan rumah yang selama ini menjadi tempat perlindungan mereka.
Kegelisahan masyarak at di pusat wilayah gempa seperti pulau Nias semakin menjadi parah karena masyarakat yang terkenal dengan arsitektur rumah tradisionalnya “Omo hada“ yang memiliki ketahanan terhadap gempa, ternyata turut menjadi korban keganasan gempa.

Gempa telah membuyarkan harapan dan keyakinan masyarakat Nias akan konstruksi rumah beton. Selama ini rumah beton menjadi primadona dan tempat hunian impian bagi setiap orang, karena materialnya terdiri dari bahan yang keras dari jenis batuan dan besi. Selain karena materialnya yang keras, rumah beton juga dipandang lebih praktis, fleksibel, tidak merepotkan, tidak mudah terbakar api, terasa lebih nyaman dan kita membuatnya sesuai dengan gaya dan model yang diinginkan. Sementara jika membangun dengan arsitektur tradisional, gayanya terkesan seragam dan cepat lapuk karena bahanya yang terdiri dari kayu.

Namun, apa yang telah diyakini oleh masyarakat tadi seolah tidak memiliki kebenaran, karena alam tidak bisa diajak kompromi oleh manusia. Bencana alam tidak akan pernah bisa diketahui kapan waktunya dan dimana lokasinya yang pasti. Manusia hanya boleh meramal dan memperkirakan tapi tidak dapat memastikan, sementara bangunan rumah berada di dalam kekuasaan alam. Memang ada juga bangunan rumah beton yang masih bertahan pada saat gempa terjadi, namun jumlahnya sedikit dibandingkan dengan rumah kayu.

Pulau Sumatera, terturama pulau Nias merupakan wilayah yang dilewati jalur gempa, karena itu masyarakat setempat harus belajar dari sejarah dan pengalaman yang pahit. Sebab gempa tidak dapat dihentikan dan dialihkan. Karena itu untuk menghindari korban jiwa pada masa yang akan datang, maka konstruksi rumah-rumah penduduk harus dibangun sesuai dengan kondisi daerah yang sering diguncang oleh gempa.

Dari pengamatan sepintas penulis menunjukkan bahwa rumah-rumah adat Nias “Omo hada“ yang terdiri dari bahan kayu dan memiliki pilar-pilar melintang pada struktur bagian bawah lebih memiliki daya tahan dan fleksibilitas pada saat gempa. Buktinya kerusakan yang terjadi pada rumah-rumah adat pada saat gempa lebih kecil dari pada rumah beton. Kalaupun rusak dan roboh, resikonya lebih sedikit karena bahannya lebih ringan dari bahan rumah beton, sehingga jika menimpa manusia resikonya lebih kecil pula. Kalaupun terdapat korban jiwa karena ditimpa oleh reruntuhan banguan, evakuasi mayat dan korban jauh lebih mudah dilakukan dari pada di rumah beton. Ini salah satu alasan mengapa tulisan ini saya sajikan agar masyarakat kembali mencintai arsitektur tradisional dengan modifikasi-modifikasi.

Dengan melihat dan menyadari kelemahan rumah adat Nias “Omo Niha,“ maka kita masih dapat meminimalisir resiko dengan mengembangkan arsitektur rumah itu. Misalnya: Rumah adat dibangun di atas tanah yang datar atau telah didatarkan. Di sekitar lokasi rumah adat harus dibuat pondasi beton yang kokoh sehingga tiang-tiang rumah tidak langsung menyentuh tanah yang dapat mempercepat proses pembusukan kayu. Akan tetapi pada setiap pangkal bawah setiap tiang seharusnya di tanam besi pipih antikarat yang telah menyatu dengan dengan fondasi, sehingga tidak mudah bergeser pada saat gempa. Contoh yang menarik untuk ini bisa dilihat di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli.

Sedangkan untuk menghindari kebakaran, maka bagian belakang rumah masih bisa dimodifikasi dengan menambah atau mendirikan dapur yang bahanya terdiri dari beton. Artinya tempat hunian dasar harus terbuat dari kayu, sedangkan dapur dan kamar mandi bisa dibuat dari beton.

Arsitektur tradisonal yang dirancang oleh para leluhur kita ratusan tahun lalu dan kemudian lama-kelamaan kita tinggalkan ternya lebih bersahabat dengan alam. Bencana dan fenomena alam yang tidak dapat dikendalikan oleh ilmu pengetahuan sampai sekarang ini, ternyata telah disadari oleh para lelur kita.

Kita tidak mungkin menantang fenomena alam, melainkan hanya dapat menyesuaikan diri dengannya agar kita bisa selamat. Begitu pula pada konstruksi rumah, seharusnya kita menyesuaikan diri dengan alam Nias yang sering diguncang oleh gempa dan kemungkinan digulung oleh tsunami. Oleh karenanya paling tidak ada 4 model rumah yang bisa dikembangkan pada masa depan di daerah gempa:

a) Arsitektur rumah tradisional Nias “Omo hada“ merupakan salah satu model rumah masa depan yang menjanjikan keselamatan bagi penghuninya. Keunggulan dari rumah ini adalah adanya tiang-tiang yang melintang (menyalip di bagian bawah yang menopang rumah pada kondisi kegempaan.

b) Rumah Melayu “Omo Ndrawa“

c) Rumah Melayu yang bahanya setengah beton.

d) Rumah beton total tidak bertingkat, akan tetapi harus memiliki tapak (kaki) gajah dan fondasi yang kokoh dengan perpandingan bahan yang memadai.

Yang menjadi permasalahan besar adalah tidak mungkin lagi membagun rumah-rumah adat itu sebagai hunian yang nyaman dalam waktu secepat mungkin, sebab di Nias sudah tidak ada lagi hutan yang menyediakan berbagai bahan kayu yang keras. Kita terlalu cepat merambah hutan dan menggantinya dengan tanaman havea (karet) dan nilam. Kita tidak bijaksana menanggapi fenomena alam ini sehingga kita sempat menjadi korban keganasannya, barulah kita menyadarinya kembali.

Selain karena kelangkaan bahan baku kayu, kelemahan dari rumah kayu adalah sifatnya yang mudah terbakar. Namun sesungguhnya, kebakaran masih dapat dihindari dan dikendalikan, akan tetapi gempa bumi tidak mungkin dikendalikan oleh manusia.

Tantangan lain pada rumah kayu adalah sifat kayu yang cepat busuk jika sering kena air hujan. Hal ini akan mempercepat kerusakan pada pada rumah.

Selain arsitektur rumah tradisional Nias, mungkin juga model rumah Melayu akan dapat menjadi bahan pertimbangan sebagai konsep rumah masa depan di daerah gempa.

Faktor lain yang harus diperhatikan dalam pembangunan rumah adalah faktor lokasi dan struktur tanah dimana bangunan didirikan. Bangunan apa pun yang didirikan di atas tanah yang labil dan tidak datar akan menjadi sasaran gempa bumi. Buktinya, tidak sedikit pula rumah adat “Omo Niha“ yang terjungkal karena tanahnya yang labil, miring dan ditambah lagi dengan kondisi rumah yang sudah lapuk dan busuk tanpa perawatan dan pemeliharaan. Biaya pemeliharaan rumah kayu jauh lebih besar dari rumah beton. Namun demikian, arsitektur berbahan kayu adalah suatu rumah harapan di masa depan.

Jika diperhatikan, ternyata banyak sekali bangunan yang terletak di pinggir-pinggir sungai, pinggir laut dan daerah yang tanahnya tidak keras cenderung rusak total dibanding dengan rumah yang terletak pada pegunungan atau perbukitan yang berbatu dan memiliki tanah yang kuat serta agak jauh dari aliran air.

Pengalaman lain yang patut dipertimbangkan adalah bangunan-bangunan tua semisal gereja-gereja dan rumah-rumah yang dirancang oleh para misionaris atau para pastor, dimana di dalam dinding-dinding bangunan telah dibuat rangka-rangka dari nibung. Kemudian di luar nibung dilapisi dengan semen. Konstruksi semacam ini pada umumnya banyak yang bertahan.

Kendatipun demikian, apapun model rumah dan bangunan, faktor cara pengerjaan (meliputi konstruksi dan arsitektur), kualitas bahan dan letak (tanah) merupakan unsur terpenting yang harus diperhatikan dalam pembangunan sebuah rumah, sehingga tidak mudah roboh pada saat terjadi gempa. Dan yang paling penting adalah agar tidak menelan korban jiwa manusia.

Kelemahan lain dari seluruh model rumah tersebut di atas adalah akan membutuhkan lokasi tanah yang luas. Padahal, sekarang ini tanah sudah semakin sempit dan mahal.

Kemungkinan lain yang masih bisa dikembangkan adalah rumah berlantai dua, dimana di bagian bawahnya adalah beton total dengan kaki gajah dan perbandingan bahan yang memadai dengan rangka besi yang saling mengikat di dalam. Sedangkan bagian atas lantai dua sebaiknya terbuat dari bahan kayu. Agar bagian atas lebih ringan, maka bagian lantai tingakt dua tidak perlu dicor dari semen, melainkan dari papan kayu. Tujuannya adalah agar bangunan tersebut seimbang dan bebannya tidak terlalu berat dari atas.

Cara untuk mengatasi kesulitan bahan kayu sekarang ini adalah dengan mencari alternatif bahan lain misalnya pohon kelapa tua. Pohon-pohon kelapa yang sudah tua dan tidak produktif lagi sebaiknya ditebang dan dijadikan sebagai bahan baku rumah.

Dimasa depan, kesulitan bahan baku ini harus bisa di atasi. Artinya sekarang dan dimasa depan seluruh masyarakat Nias harus mempersiapkan diri menghadapi resiko gempa bumi yang kerap melanda. Maka diperlukan keseriusan dan perhatian setiap orang untuk menanam pohon yang bisa dipakai sebagai material rumah di masa yang akan datang. Lahan-lahan yang masih kosong harus ditanami dengan pohon yang bermanfaat untuk konstruksi rumah di masa depan.

Kita tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi dimana rumah-rumah beton bertingkat telah menelan korbanya jiwa yang tidak sedikit. Selain itu kerugian material dan psikologis atas peristiwa itu cukup besar. Bagaikan pagar makan tanaman. Rumah memangsa tuannya. Begitulah yang terjadi pada rumah beton yang bertingkat dengan konstruksi yang asal-asalan.

Mungkin ini semua ada hikmahnya. Selama ini kita menyadari dan mengakui bahwa arsitektur rumah tradisional Nias merupakan bangunan yang memiliki ketahanan pada gempa, namun kita tidak mau mempertahankan dan meneruskannya. Kita cenderung meninggalkanya hanya karena alasan modernisasi, tidak mau ketinggalan jaman. Ada hikmah yang harus kita selami setelah bencana gempa ini, yaitu kita harus kembali menyesuaikan diri dan menghormati alam, yang pada suatu ketika tidak dapat diajak kompromi.

Penulis: Nata’alui Duha

Sumber : Media Warisan, Edisi No. 49 Tahun 5 April – Mei 2005, halaman 6 dan 12

Popularity: 19% [?]

Dongeng: Silewe Mazauwu di Sungai Helaowo Sidele Gi’a

July 3, 2007 by nataalui.duha  
Filed under Budaya

Lokasinya tidaAir Terjun “Helaowo Sidele Gi’a” di Gomok jauh dari kecamatan Gomo, sekitar 3 kilometer saja jauhnya dari ibu kota kecamatan. Di situ ada sungai yang diberi nama Helaowo. Lalu, tanpa diketahui persis entah sejak kapan, tempat itu disebut Helawo Sidele Gi’a. Ada pun alasan pemberi nama tempat itu, karena bertepatan di lokasi itu aliran sungai Helaowo memiliki air terjun. Persis pada kawah jatuhnya air terjun yang tidak begitu tinggi itu, terdapat lubuk sungai yang juga tidak begitu dalam, akan tetapi cukup bagus sebagai tempat pemandian dan arena belajar berenang bagi anak-anak usia SD. Konon ceritanya, dahulu, tempat itu dijaga oleh seorang Dewa yang menurut pengakuan warga sekitarnya berjenis kelamin perempuan dan tergolong makhluk halus. Dewa ini bernama Silewe Mazauwu. Silewe Mazauwu adalah dewi yang baik, namun menurut ceritera orang-orang tua di situ, jika ada warga yang melakukan perbuatan terlarang oleh Dewi Silewe Mazauwu, maka yang bersangkutan jatuh sakit, karena sang Dewi penjaga air terjun itu marah.

Perbuatan yang dilarang disitu misalnya menangkap ikan dan meracuninya dengan memberikan tuba alamiah yan diracik dari tumbuh-tumbuhan. Akibat ceritera tersebut maka, warga tidak berani menangkap ikan dan hewan air yang hidup subur di sungai itu. Karena warga sekitar tempat itu takut dan lama sekali tidak pernah menangkap ikan yang ada di lubuk air terjun yang dikelilingi oleh pepohonan yang rindang itu, maka ikan-ikan dan binatang air lainya berkembang melimpah ruah hingga ukurannya besar.

Suatu petang, menjelang matahari terbenam, adalah seorang warga yang kebetulan lewat di dekat salah satu tepi lubuk air terjun itu. Mendengar adanya suara ribut ’mudele,’ maka orang tersebut pergi menghampirinya ke arah lubuk kawah air terjun, lalu dia menyaksikan kerumunan ikan dan baru mengetahui bahwa suara ikan-ikan itulah yang membuat keributan. Dan lebih mengherankan lagi, karena ia dengan sepintas melihat salah seekor dari ikan-ikan itu yang berpenampilan aneh dengan tubuh hanya sebelah bagaikan ikan yang telah dibelah dua dari kepala hingga ke ekornya.

Sejak peristiwa itu kawah air terjun di sungai itu disebut “Helaowo Sidele Gi’a“ artinya kawah air terjun dimana ada ikan-ikan yang bersuara ribut.

Pesan dan makna ceritera

Si penutur awal ceritera tersebut merupakan sosok pertama yang memberi perhatian pada konservasi alam. Ketika ia melihat adanya dampak negatif yang berakibat pada kerusakan lingkungan dan ekosistem dari pengetahuan yang baru dikuasai oleh warga Nias di wilayah itu dalam hal meracik racun atau tuba “tuwa“ dari tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk menaklukan isi sungai demi pemenuhan protein.

Penutur menggunakan jalur religi untuk melarang masyarakat agar tidak menangkap ikan dengan cara menggunakan tuba. Karena dengan metode ini, semua hewan air baik yang kecil maupun yang besar akan mati jika kena air tuba. Dan jika hal ini terjadi maka kehidupan yang bergantung pada alam akan terganggu karena seumber protein akan punah. Namun penutur sadar bahwa warga baru bisa mengikuti larangannya untuk tidak merusak lingkungakan jika larangan dan ajakan itu dihubungan dengan dewa yang bisa memberi ganjaran pelanggaran mereka. Bisa jadi, karena secara psikologis warga sudah menakuti larangan itu, maka ketika mereka melanggarnya, mereka sungguh merasa bersalah dan jatuh sakit.

Ditulis kembali oleh: Nata’alui Duha. Sumber: Media Warisan, Edisi No. 58, Tahun 6 Maret – April 2007, halaman 6

Popularity: 6% [?]

Budaya Nias di Tengah Perkembangan Zaman

July 2, 2007 by fabius.ndruru  
Filed under Artikel

Budaya merupakan nilai-nilai luhur peninggalan leluhur yang telah bertahan selama berabad-abad menjadi aturan-aturan, norma-norma atau adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat dan generasi berikutnya secara turun-temurun. Tentu saja begitu juga dengan Budaya Nias, bahwa budaya yang dimiliki saat ini merupakan nilai-nilai yang diturunkan oleh nenek moyang, yang telah menjadi falsafah, cara berpikir, tujuan dan cita-cita yang dimiliki, dipilih dan dipelihara. Semuanya itu memang nyata dan telah terukir dalam sejarah. Yang menjadi pertanyaannya ialah seberapa besar relevansi budaya itu terhadap keberadaan zaman sekarang ini?

Budaya memiliki sifat yang dinamis atau tidak statis. Artinya bahwa budaya itu tidak selamanya tetap dipertahankan sebagaimana originalnya. Budaya bisa saja berubah, apa itu ditinggalkan, dipertahankan, dikembangkan bahkan juga diadopsi. Kondisi ini terutama untuk budaya abstrak dan aktifitas. Budaya yang besar ialah budaya dimana bisa bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan zamannya, hingga mencapai suatu puncak peradaban tertentu. Mungkin budaya kita sudah mencapai puncak kejayaannya dulu, lalu bagaimana sekarang? Berikut ini akan dibahas sedikit tentang budaya kita yang perlu ditinggalkan, dipertahankan dan bagaimana budaya sebagai filter perubahan zaman.  

Read more

Popularity: 18% [?]