Laporan Kegiatan Museum Pusaka Nias Pasca Bencana Gempa Bumi tgl. 28 Maret 2005 s/d. Desember 2006
January 30, 2007 by fabius.ndruru
Filed under Laporan Kegiatan
I. PENDAHULUAN
Pasca bencana tsunami menimpa sebagian wilayah pulau Nias pada bulan Desember 2004 dan bencana gempa tektonik bulan Maret 2005, sebagai salah satu NGO yang berdiri sejak tahun 1991 di Nias telah memberi perhatian penuh untuk memfasilitasi masyarakat dalam mempertahankan dan mengembangkan pengetahuan, kearifan dan nilai-nilai budaya Nias yang masih ada untuk menjadikannya sebagai sumber pendidikan tentang manusia yang beradab dan memiliki identitas tersendiri.
Sebagai bukti kepedulian dan usaha nyata dalam menyelamatkan budaya material Nias berikut nilai-nilainya, Museum Pusaka Nias telah menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan baik berupa barang maupun uang tunai yang bertujuan untuk memotivasi masyarakat mempertahankan identitas Nias lewat budayanya. Usaha Museum Pusaka Nias tersebut terpusat pada manusia, Ono Niha, serta habitatnya yakni Omo Niha, Omo Hada tempat di mana terpusat adat dan budaya masyarakat Nias.
Fokus bantuan tersebut diarahkan pada restorasi rumah-rumah tradisional Nias baik di kabupaten Nias maupun di kabupaten Nias Selatan. Tujuan adalah agar pemilik rumah tradisional merasa diperhatikan, disemangati dan diberi kepercayaan kepada pemilik rumah adat untuk merehabilitasi rumahnya sendiri. Maka untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat perlu kerja sama pelbagai pihak untuk menyelamatkan rumah adat mereka sendiri. Karena rumah tradisional sangat besar pengaruhnya dalam budaya baik adat istiadat, kesenian, wisata maupun jati diri masyarakat itu sendiri.
Popularity: 11% [?]
Anak Kijang Putih
January 29, 2007 by fabius.ndruru
Filed under Berita
Überrasung ! Kejutan!
Pada 26 Januari 2007 lahir
seekor anak kijang putih di museum; lht. foto arsip mpn.
Dengan demikian bertambah penghuni baru di Museum kita.
Sambil menunggu para pengunjung untuk memberi selamat.
Anak kijang putih tersebut, masih belum mendapat nama, diharapkan para pengunjung memberi usulan nama yang cocok, dan nanti akan dipilihkan salah satu nama dari usul-usul para pengunjung.
Popularity: 6% [?]
Hukum Adat Perceraian di Nias: Adilkah?
January 26, 2007 by fabius.ndruru
Filed under Budaya
Suami dapat menceraikan isteri
Perceraian sangat tidak menarik dibicarakan, karena setiap keluarga tidak ada yang menghendaki perceraian setelah menikah. Perceraian hanyalah akan menurunkan martabat seseorang yang melakukannya.
Bamböwö Laiya mengatakan bahwa “Perceraian sangat jarang terjadi di Nias, karena selain jujuran yang tinggi yang menyulitkan seseorang untuk kawin kembali, juga karena laki-laki yang menceraikan isterinya dan wanita yang diceraikan suaminya kurang dihargai di dalam desa. Si laki-laki akan dikecam sebagai orang yang tak bertanggungjawab sedangkan si wanita akan dituduh sebagai isteri yang tidak becus. Baik si laki-laki maupun si wanita yang telah bercerai sama-sama menghadapi kesukaran untuk mendapatkan jodoh kembali (Bamböwö Laiya, 1993:53).
Popularity: 16% [?]
Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?
(Pengantar: Tulisan ini pertama sekali terbit di situs NiasIsland.Com, 28 December 2006. Atas izin penulis, dimuat di sini untuk melengkapi publikasi nilai-nilai budaya dan adat).
Oleh Postinus Gulö
Umumnya, orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karena itu, ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, keragu-raguan. Dan, tentu hal ini adalah kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Dalam artikel ini, ada baiknya saya membeberkan fakta.
Sebelum tahun 1990-an (dan mungkin masih diterapkan sampai sekarang), böwö dalam adat perkawinan Nias masih terasa mahal (fakta ini berdasarkan pengalaman saya di kampung halaman yakni di Dangagari, Kecamatan Mandrehe).
Padahal etimologi böwö adalah hadiah, pemberian yang cuma-cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu, dsb., lalu kita beri “fegero” kepada tetangga kita. Ini bukti kepekaan untuk selalu memperhitungkan orang lain di sekitar kita. Lantas kenapa böwö itu kayak dikomersialkan? Kalau pertanyaan ini kita lemparkan ke orangtua kita atau ke orang zaman dahulu, pasti salah satu jawabannya adalah: da’ana hada Nono Niha (ini adalah adat Nias). Pernyataan semacam itu tentu mengokohkan dimensi statis budaya Nias. Padahal seharusnya, budaya itu dinamis sesuai perkembangan zaman. Bahkan dalam pernyataan itu seolah adat yang terpenting dan bukan manusianya. Saudaraku, adat dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk adat.
Popularity: 26% [?]
Gempa Bumi Dalam Sejarah Nias
January 26, 2007 by fabius.ndruru
Filed under Sejarah
§ 1359
Yang menyangkut gempa bumi, Nias adalah suatu daerah yang istimewa. Secara periodik gempa bumi muncul di situ dengan sangat dahsyat. Jangka waktu berbeda. Pada umumnya gempa bumi yang dahsyat disusul dengan Tsunami. … Kita dapat membedakan tiga gempa bumi besar. Ciri khasnya masing-masing kami uraikan di bawah ini, yakni:
A. Gempa bumi tertanggal 5 – 6 Januari 1843
B. Gempa bumi tertanggal 16 Februari 1861
C. Gempa bumi tertanggal 4 Januari 1907.
Popularity: 20% [?]
Perlengkapan Kematian
Masyarakat Nias sejak berada dalam kandungan sampai meninggal dunia tidak terlepas dari hukum adat. Kepadanya diberlakukan atauran-aturan yang berlaku umum pada komunitasnya dengan menjalani strata sosial (Bosi) dari awal sampai akhir hidupnya. Jika aturan-aturan sosial tersebut tidak diikuti dan tidak dijalankan seperti biasanya, maka hal itu merupakan aib terhadap keluarga pelanggarnya. Warga lain dan bahkan para sanak saudaranya sendiri menjauhkan diri dari padanya sehingga lama-kelamaan terisolir dari komunitasnya. Norma-norma itu menjadi tali pengikat yang mempersatukan masyarakat dalam satu komunitas desa. Tidak ada seorangpun yang hidup dalam dunia dan caranya sendiri.
Pelaksanaan aturan dan tata hidup kemasyarakatan lebih terbeban kepada golongan masyarakat tertentu. Dalam masyarakat Nias terjadi penggolongan masyarakat sebagai berikut;
- si’ulu (Balugu/Salaŵa), yaitu: golongan masyarakat yang mempunyai kedudukan tertinggi secara turun-temurun, akan tetapi pengukuhannya melalui proses pelaksanaan pesta kebesaran (Owasa/fa’ulu). Bangsawan yang telah memenuhi kewajiban adatnya melalui proses Owasa/fau’ulu disebut Si’ulu si ma’awai dan menjadi Balö zi’ulu yaitu bangsawan yang memerintah;
- ere, yaitu: para pemimpin agama kuno. Sering juga, oleh karena kepintaran seseorang dalam hal tertentu, maka dia disebut Ere, umpamanya Ere huhuo yaitu seseorang yang sangat pintar dalam berbicara terutama menyangkut adat-istiadat. Secara garis besar terdapat 2 (dua) macam ere, yaitu: Ere Börönadu dan Ere Mbanua;
- si’ila, yaitu: kaum cerdik-pandai yang menjadi anggota badan musyawarah desa. Mereka yang selalu bermusyawarah dan bersidang (Orahu) pada setiap masalah-masalah yang dibicarakan dalam desa, dipimpin oleh Balö zi’ulu dan Si’ulu lainnya;
- sato, yaitu: Masyarakat biasa (masyarakat kebanyakan) juga sering disebut Ono mbanua atau si fagölö-gölö atau niha si to’ölö;
- sawuyu (harakana), yaitu: golongan masyarakat yang terendah. Mereka berasal dari orang-orang yang melanggar hukum dan tidak mampu membayar denda yang dibebankan kepadanya berdasarkan keputusan sidang badan musyawarah desa. Kemudian mereka ditebus oleh seseorang (biasanya para bangsawan), oleh karenanya semenjak itu mereka menjadi budak (abdi) bagi penebus mereka. Mereka juga berasal dari orang-orang yang tidak mampu membayar utang-utangnya, orang-orang yang diculik atau orang-orang yang kalah dalam perang, kemudian mereka menjadi budak.
Popularity: 12% [?]
Megalit
Suku Nias terkenal dengan kebudayaan megalitik dalam bentuk dolmen dan menhir sebagai monumen atas peristiwa-peristiwa pelaksanaan pesta kebesaran yang bertujuan untuk mendapatkan pengakuan status dalam masyarakat. Tugu-tugu batu yang didirikan tidak hanya sekedar monumen, tetapi lebih bertujuan untuk mengabadikan dan mengkomunikasikan suatu peristiwa sehingga generasi berikutnya dan orang lain dapat mengetahui apa yang telah terjadi pada masa lampau. Pada megalith tersebut dipahat berbagai ukiran sehingga menjadi ornamen yang merupakan simbol-simbol. Simbol-simbol tersebut diinterpretasi dan dipahami oleh masyarakat yang melihatnya. Biasanya bertujuan khusus untuk menggambarkan bagaimana kualitas kehidupan pemiliknya. Para leluhur menempuh cara ini karena mereka tidak mengenal aksara (budaya tulisan tidak mereka kenal).
Pengkomunikasian pesan moral dan penggambaran peristiwa masa lalu hanya dapat diketahui melalui simbol-simbol atau ornamen-ornamen yang telah diukir serta melalui syair-syair kuno (Hoho), dan cerita-cerita rakyat. Pesta kebesaran merupakan kualifikasi seseorang untuk meraih posisi yang lebih tinggi. Karena suatu prestasi telah dicapai maka kepadanya diberikan penghargaan berupa tugu batu dan nama gelar kebesaran.
Popularity: 17% [?]
Perhiasan, Senjata dan Pakaian (2)
77
Nomor Inventaris : 03-0538
Nama / Name
Nias : Zolo-zolo
Indonesia : Kalung
English : Necklace
Asal / Origin : Bawömataluo, Telukdalam
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
Necklace of royal family. It’s made of glass stone.
Kalung leher keluarga bangsawan yang terbuat dari batu-batu kaca yang telah disusun hingga membentuk lingkaran dengan diameter 25,5 cm.
78
Nomor Inventaris : 03-0046
Nama / Name
Nias : Awi mani-mani
Indonesia : Stagen
English : Girdle
Asal / Origin : Bawömataluo, Telukdalam
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
Girdle of royal’s wife that is made of beads.
Ikat pinggang istri bangsawan yang terbuat dari biji manik-manik yang telah disusun hingga terbentuk menjadi stagen. Panjang 82 cm dan lebar 23,5 cm.
Popularity: 15% [?]
Perhiasan, Senjata dan Pakaian (1)
Pakaian, perhiasan dan senjata di Nias sangat beraneka ragam serta diberi warna dan hiasan (ukiran) yang bermacam-macam pula. Dalam upacara adat atau upacara kebesaran, pakaian dan perhiasan yang berwarna keemasan atau kekuning-kuningan sangat digemari selain kombinasi beberapa warna lain seperti hitam, merah dan putih. Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran. Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit. Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan. Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.
Untuk melengkapi keagungan dan kemegahan penampilan dalam suatu upacara kebesaran (Owasa/ fa’ulu), seorang pria dewasa harus menyelipkan senjata di pinggangnya. Tolögu dan Gari si so rago merupakan senjata yang sangat disukai oleh kalangan bangsawan, panglima dan para prajurit. Pada senjata atau hiasan sering sekali diberi kepala monster (Lasara) atau ukiran-ukiran binatang buas yang angker yang menggambarkan keperkasaan, keberingasan, dan kekuatan kekuasan seseorang.
70
Nomor Inventaris : 03-0659
Nama / Name
Nias : Sialu
Indonesia : Anting
English : Earring
Asal / Origin : Hiliganöwö, Telukdalam
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
A male royal class’ earring that is simply put on the right ear.
Anting-anting kaum bangsawan yang digunakan oleh kaum laki-laki pada telinga sebelah kanan saja. Tinggi 17,8 cm seberat 50 gram.
Popularity: 29% [?]
Peralatan Musik
Alat musik pukul, gesek, tiup dan petik juga terdapat di Nias. Alat-alat musik tersebut dibunyikan pada saat pesta. Pada upacara kebesaran, pesta perkawinan dan kematian, Aramba (Gong), Faritia (canang) dan Göndra (gendang), Fondrahi/tutu (tambur) dibunyikan berhari-hari sebelum pesta berlangsung agar masyarakat dan desa tetangga mendengarnya. Alat musik Lagia, Ndruri, Doli-doli, dan Surune sering dibunyikan oleh masyarakat pada saat mereka sedang santai, kesepian atau sedih agar mereka dapat terhibur.
Di Nias Selatan, selain pada upacara kebesaran (Fa’ulu), pada upacara kematian seorang bangsawan yang dihormati, gong dan gendang juga dibunyikan. Sementara pada upacara pemujaan dewa-dewa, para pemuka agama kuno (Ere) selalu membunyikan Fondrahi sambil mengucapkan mantra-mantra tertentu dalam bentuk syair atau pantun (Hoho).
Popularity: 100% [?]






