Kalender Kebudayaan Nias 2011
August 18, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Budaya, Buku & Publikasi
Walaupun kita masih berada di tahun 2010, namun kita juga perlu memandang ke depan khususnya ke tahun berikutnya, yaitu tahun 2011. Dalam rangka menyongsong tahun 2011 ini, Museum Pusaka Nias telah merencanakan promosi kebudayaan masyarakat Nias melalui pembuatan Kalender Kebudayaan Nias 2011. Kalender ini bertema: TANÖ NIHA Berlimpah Kekayaan Budaya dan Kesenian.
Kalender ini telah didesign sedemikian rupa dengan menampilkan gambar-gambar tentang kebudayaan Ono Niha, antara lain: tari, seni bela diri, obat tradisional, alat musik, batu megalit, Omo Hada, dsb. Gambar-gambar ini dilengkapi dengan beberapa kalimat/seruan ajakan untuk memelihara kebudayaan dan tradisi para leluhur Ono Niha. Perpaduan gambar dan kalimat tersebut membuat kalender ini “berbicara” kepada orang-orang yang melihatnya.
Leluhur masyarakat Nias juga mengenal perhitungan waktu berdasarkan posisi/bentuk bulan. Karena itu, masyarakat Nias juga mempunyai sebutan-sebutan waktu berdasarkan letak/bentuk bulan tersebut, yakni antara lain: d(t)ohare, tesa’a, tuli, dst. Dalam Kalender Kebudayaan Nias ini, hal itu tampak dalam bentuk gambar bulan: Bulan Penuh (purnama), Bulan Setengah (mulai hilang), Bulan Hilang atau Ilumö’ö, Bulan Setengah (mulai muncul).
Banyak hal yang mau diungkapkan dengan Kelender ini. Bila anda ingin mengetahui lebih lanjut dan ingin memesan Kalender Kebudayaan Nias ini, silahkan langsung menghubungi kami (lihat halaman Contact di atas).
Adapun spesifikasi kalender ini adalah, sbb:
Ukuran : 29.7 X 42 Cm
Jlh Hal Cover : 1 Lbr; Cetak 4/0
Jlh Hal Isi : 6 Lbr; Cetak 4/4
Jilid : Spiral + Pakai Gantungan Besi
Jenis Kertas : AP 120 Gr
Popularity: 4% [?]
Melestarikan Warisan Leluhur
July 5, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Budaya, Buku & Publikasi

Buku yang sudah diterbitkan oleh MPN tentang Obat Tradisional Nias
Sejak Museum Pusaka Nias (MPN) berdiri tahun 1991, museum ini telah berupaya mengembangkan pengetahuan, kearifan dan nilai – nilai budaya Nias yang masih ada. Salah satu upaya yang sudah dan terus dilakukan oleh MPN ialah membudidayakan dan mengelola beberapa tanaman obat tradisional menjadi obat – obat herbal (herbal medicine). Untuk menunjang kegiatan ini, telah diadakan Semiloka ( Seminar & Lokakarya ) Tanaman Obat Tradisional. Pertama: pada 7 Desember 2000; kedua: pada 8 s/d 10 Oktober 2002 dan yang ketiga: pada 26 s/d 29 Januari 2004. Hasil lokakarya ini telah dicetak menjadi satu buku dengan judul : “Obat Tradisional Nias: Manfaat & Teknik Penggunaannya “.
Peningkatan SDM dibidang ini juga telah dilakukan yakni dengan mengutus 3 orang karyawan MPN (Hatima Farasi, Lusia Sutrisni Telaumbanua dan Petrus Gea) ke PT. Martina Berto, sebuah perusahaan (milik Ibu DR. MARTHA TILAAR) yang mengelola tanaman obat menjadi jamu dan kosmetik, pada 15 Maret – 3 April 2004 di Jakarta.
Program lain adalah pengadaan bibit pohon mahoni. Sejak Pebruari 2009 sampai dengan Juni 2010 telah terjual 4.881 polybag bibit mahoni yang tersebar di berbagai daerah seperti Telukdalam, Mandrehe, Alasa, Gidõ, Gunungsitoli, Lahewa, Lõlõmatua, Idanõ Gawo.
Pengadaan atau pembibitan beberapa pohon langka telah dilakukan berkali – kali namun selalu mengalami kegagalan. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan habitat, iklim yang tidak sesuai.
Pengelolaan dan pemanfaatan tanaman obat menjadi obat herbal mengalami peningkatan, terutama tanaman yang telah diolah menjadi bentuk instant seperti temulawak (undre gaza), kunyit (undre manu), jahe (lahia); dan dalam bentuk simplisia seperti herba sambiloto (kanina), racikan mahkota dewa.
Berikut tabel penjualan beberapa obat herbal di depot obat M P N :
| No. | Uraian | Tahun | |||||
| 2005 | 2006 | 2007 | 2008 | 2009 | 2010 | ||
| 1. | Herba Sambiloto | 59 bks | 91 bks | 112 bks | 45 bks | 66 bks | Sampai Juni, 24 bks |
| 2. | Racikan Mahkota dewa | 39 bks | 79 bks | 34 bks | 116 bks | 102 bks | Sampai Juni, 112 bks |
| 3. | Kunyit Instan | _ | _ | _ | 79 bks | 79 bks | Sampai Juni, 34 bks |
| 4. | Jahe Instan | _ | _ | _ | 20 bks | 39 bks | Sampai Juni, 41 bks |
| 5. | Temulawak Instan | _ | _ | _ | 122 bks | 184 bks | Sampai Juni, 100 bks |
Tanaman obat yang lain juga tersedia, seperti tapak liman, beluntas, brotowali, ekor kucing, mengkudu, kembang sepatu, jarak pagar, gandarusa, bengle, lempuyang, kecombrang, kejibeling, dll, yang lebih sering di konsumsi dalam keadaan segar. Sementara, beberapa tanaman herba masih belum diketahui penamaannya dalam bahasa Indonesia dan Latin, misalnya sotanga gari, tugala dan boli.
Melalui tulisan ini kita semua berharap agar segala kearifan lokal, dalam aneka bentuknya. dapat terus dipelihara dan diwariskan sepanjang hayat di kandung badan. Dengan itu keseimbangan alam yang telah terganggu dapat tercipta lagi sehingga anak cucu kita pun masih bisa menikmati indahnya alam ini, segarnya udara pagi dan warna – warni sang kembang di taman. (Ditulis dan Dilaporkan Oleh: Lusia Sutrisni Telaumbanua/MPN’07/10).
Popularity: 5% [?]
City Tour of Gunungsitoli
June 28, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, English

Tumöri Balöhili village
Text and photo: Tikwan Raya Siregar
After descending from the Merpati Nusantara Airlines flight on the 30th of April 2010, I was invited to the Bandara Binaka VIP Room. The Director of the Malaysian Tourism Promotion Board in Medan, Noor Azman Samsudin, and the Consulate General of the USA, Stanley Harsha, were going to be there too. The head of Tourism and Culture in Gunung Sitoli, Yulianus Harefa, honoured to receive the consulate and the director, had prepared some welcome snacks. We were involved in a light discussion before our departure for Gunung Sitoli. Stanley said that he was curious to see how Nias had changed since his last visit. Mr. Yulianus Harefa said that he was sure much had changed.
“Before, it look 8 hours from Gunungsitoli to Teluk Dalam. We even had to wait for the tides in some rivers before being able to cross,” remembers Stanley. They discuss a number of other memories, a discussion I am not involved in, because I have never been to Nias. As it is my first visit, I don’t have any previous memories to compare to, except for the news of the backwardness, tourism, and political conflict after the achievement of autonomy. Of course, the 2004 tsunami, which had completely rearranged the structure of Tanö Niha. The national and international help efforts had helped to improve the infrastructure of Nias, in particular air access to the island.
A half hour later we are accompanied to Miga Beach Hotel in Gunung Sitoli, which is said to be the best hotel in this city. If this is the best, by Gunungsitoli standards, then my perception changed as we entered the lobby.
Let me tell you a little about the lobby. Open walls. The middle of the room has a natural wood structure about 50 cm in diameter. Traditional Nias statues in pagan nudity stand in front of the receptionist’s desk. A wooden bench runs along 4 of the 6 sides of the building, for guest to sit on while checking in or out. The roof of the lobby is thatched in the tradition of the North Nias ethnic group. I feel as it I have been taken back to the Flintstone era.
Around the lobby, there is the atmosphere of a calm Nias village with an open cottage hall, small huts for relaxing and a peer for ships to dock stretching into the sea. Stanley and Noor Azman didn’t think that they would find such a thought out modern concept in Nias. The room have a natural touch, with antique furniture. North Nias accessories are used to decorate the rooms. This hotel is our first surprise on our visit to Gunungsitoli.
***

Traditional house miniature in the Nias Heritage Museum pavilion
There were two reasons for coming to Gunung Sitoli. Firstly, we were going to join the “Tourism Revival in Nias” (“Kebangkitan Pariwisata Nias”) seminar, organized by the Head of Culture and Tourism in Gunungsitoli, Yulianus Harefa. The seminar, followed by more than 400 participants was to conceive a strategy and unite the views of all the autonomous regions in Nias in order to revive the tourism industry.
Apart from Stanley Harsha and Noor Azman Samsudin, a number of other speakers were invited to speak on this day, including Frans Teguh, Head of Planning, the Director General of Tourism Development, ILO activitiests from a number of countries, Cosmas Harefa from Medan Tourism Academy, and a number of consulates from various European countries. This programme invited the heads of a number of autonomous regions in Nias, including the Mayor of Gunungsitoli, Martinus Lase.
A day before the seminar, we were invited on city tour of Gunungsitoli. And one of the activities for was visiting a traditional Nias village in the north of Nias. The village is named Tumöri Balöhili in the West Gunungsitoli district. It is only about 8 km from the city centre by a smooth but quite narrow road. Tourists who enjoy cycling would enjoy coming to this location by bicycle, an old village settlement on the top of a low hill.

Drink Nias palm wine or tuak
Besides the warm welcome we received in this village, the interesting thing was the completeness of cultural items in each house. The most interesting and important of which is a stone sculptured to look like a deer head (osa-osa). This stone is an important status symbol. The more stones (a megalithic cultural inheritance) placed in front of house, the higher their social status. In order to obtain the rights of the stone, one must first sacrifice a pig.
Pigs are very important in Nias tradition. Bride price on Nias is measured in pigs. For a wedding, the bridegroom’s family must prepare at least 22 pigs to be slaughtered. This rule has made the Nias women famous as the most “expensive” women in Indonesia, when seen from cultural traditions.
Tradition Nias houses have a stable construction, mainly formed from a criss-cross wooden foundation without nails. Perhaps this construction was what saved every single traditional house on Nias during the earthquake and tsunami in 2004. The living room is the most important part of the building, which is where the family portraits and status symbols are hung. Status in very important for the people of Nias.

Surfer in Telukdalam
The houses in the north and the south of Nias are slightly different, the most noticeable difference being in the roof. Innorthern Nias, the roofs are pointed, while the South Nias roofs are longer. Even though both the ethnic groups are Nias people, the two ethnic groups have different social characters and respond differently to outsiders. The people in North Nias are more educated and aware of the importance of tourism. This is possibly due to the better access to the outside world; including a dock, an airport and better infrastructure.
Gunungsitoli itself was the capital of North Nias regency before the island was divided to become 5 autonomous regions. Meanwhile, the people of South Nias, in particular those who live in traditional villages are still quite wild and shut themselves off from the outside world.
The village of Tumöri Balöhili itself, is part of the Gunungsitoli tourism programme. Despite this, until today, there is no special culinary or dishes to be found in this village. The only entertainment to be had was the traditional palm wine tuo ni faro from the small shops next to the road. Stanley Harsha was curious about what he had heard about Nias palm wine or tuak, and wished to try. He had only had one at a palm wine shack, when his face began to turn red and he began to talk about the differences between Asian and European women. When we accused him of being drunk, he denied it and wanted everyone to sing.
The village of Tumöri Balöhili and its hard liquour was the second surprise for us.
***

Nias Heritage Museum beach
However, the high point of our short visit to Gunungsitoli is a project called Nias Heritage Museum (Museum Pusaka Nias), passionately run by Pastor Johannes M. Hämmerle, a Catholic priest. Nias Heritage Museum dedicated to collecting hundreds of cultural items from all over Nias. Some of the artifacts are thousands of years old. This project is valuable due to its age and the variety of the different cultural items. For example, there are traditional costumes from different periods. The oldest is a costume made from bark and animal skins. The newest costumes are the product of modern weaving techniques showing the evolution of Nias identity.
The pastor is not only a collector of artifacts, but has written more than 8 books about Nias culture, folklore, ethnography, art and the story of Catholic missionaries in Nias. All visitors agree that the Museum Pusaka Nias is run at an international standard. If it is seen from the concept, technology and the unique culture to be found here, then this museum is the best city museum in Sumatera, alongside the Rahmat International Wildlife Gallery and the Museum Negeri Sumatera Utara (North Sumatera National Museum). The people of Gunungsitoli should be proud of this project because even Medan, as the capital of North Sumatera, doesn’t have a city museum (the national museum is run by the provincial government although it’s situated in Medan).

Protestant clergyman, Serius T. Lase (left) and Nias Heritage Museum staff were playing the tools of traditional music.
Another unique fact about the Museum Pusaka Nias is that their work is not limited to the museum complex itself. At the moment, Pastor Johannes and the museum staff which consists of original Nias people are running the “living museum” programme, which is aimed at conserving the traditional culture in Nias’ exotic and culture is an integral part of their daily lives. One of the other activities run by the museum is implementing cultural heritage curriculum in village elementary schools.
It is practically unbelievable that the person behind this labour of love is a German priest who originally didn’t feel an emotional tie to Nias. In the midst of a trend towards cultural items that should have been protected getting lost or destroyed, pastor Johannes has been struggling to stem his flow since 1995. The income from the museum is around Rp 50 million a month, however the expenses are about Rp 50 million a month , not including funds for developing the museum. However, due to the pastors seriousness and passion, a number of personal relations have donated money to the museum. Unfortunately the help is not continuous or reliable, that the continuation of the museum is still under threat and dependant on the figure of pastor Johannes who is now 69 years old.
This private museum is open to the public. If you wish to stay longer, they have a mess in the complex on the sea. The museum is situated next to a beach with crystal clear waters. The pastor has had a hand at providing a shady, cool resting place by planting big trees and bamboo. Staying here is an alternative way of enjoying Gunungsitoli.
***

One of the rooms in the Miga Beach hotel
Gunungsitoli has number of beaches, where you can do a number of marine activities. At the moment, there are a few restaurants on the seafront serving seafood. In Gunungsitoli, you can find suppliers of accommodation, transportation and other services to help you explore the whole island of Nias. You can visit the village of Bawo Mataluo in south Nias, about 3 hours from Gunung Sitoli. This village on a hill is the most popular village for tourists on Nias, because here the stone jumping attraction can be performed on demand in its original location. As many as 98% of the houses are still the same as when they were first built.
Or if you’re in to surface, of course Nias is the place to be. Surfers all over the world have noted Nias as a prime surfing a spot. Apart from the great waves, surfers love the warm sea. Before the recent global economic crisis, a number of international surfing competitions were held here.
And if you’re in to fishing and diving, west Nias and Teluk Dalam is your destination. Prepare your line for the fierce fish and you can go and isolate yourself on one of the many small islands off the coast of Nias. Ya’ahowu!. (Source: “Inside Sumatera”, June 2010, page, 44-51)
Popularity: 6% [?]
Hoe een bijdrage te leveren aan de toekomst van het Nias-ErfgoedMuseum
June 14, 2010 by nataalui.duha
Filed under Artikel, Budaya
Vanaf het leggen van de eerste steen van het hoofdgebouw voor het Nias-ErfgoedMuseum op 10 november 1995 lukt het om stap voor stap alles in orde te krijgen. De gebouwen als materieel nood-zakelijke basisvoorziening worden voortdurend beter afgewerkt. Zo is ook het hoofdprogramma: het organiseren van de vaste collectie als middel tot studie van de cultuur en als middel om de inspiratie bij het publiek te wekken, inmiddels behoorlijk op orde. De verschillende middelen en voorzieningen van een ideaal museum worden ook voortdurend herzien en bijgewerkt, waarbij wel wordt vastgehouden aan het principe: zo natuurlijk mogelijk (Blijf lezen van dit artikel als een pdf hieronder–>).
Popularity: 4% [?]
Menguak Roh Pemikat Suatu Situs
June 11, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Budaya
Di bawah ini, Nata’alui Duha menulis sebuah artikel berjudul “Menguak Roh Pemikat Suatu Situs“. Judul ini seolah mengajak kita untuk mengingat teori dualisme dalam dunia filsafat. Dalam dunia filsafat, pemikiran dualisme ini dikenal sejak zaman Plato dan Aristoteles dan kemudian diikuti serta dikembangkan oleh beberapa filsuf mazhab sesudahnya. Dalam pandangan dualisme dikatakan bahwa terdapat dua substansi: roh dan materi, jiwa dan raga, roh dan badan, ide-ide dan realitas, dan seterusnya.
Karena itu muncul pertanyaan kita: apakah artikel ini mau menguraikan perbedaan antara roh dan badan? Atau barangkali melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan suatu pesan bagi sang pembaca tanpa bermaksud menguraikan masalah dualisme filosofis. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan membaca dan menyimak baris demi baris tulisan Nata’alui Duha yang kami kemas dalam bentuk PDF flash di bawah ini.
Popularity: 5% [?]
The Golden Pig
June 4, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Video
Video ini merupakan film dokumenter tentang P. Nias, yang dibuat oleh Joel Peterson. Cukup menarik mengikuti isi video ini. Pada bagian awal ditampilkan legenda tentang “Babi Emas” (The Golden Pig). Konon, adalah seekor babi di Nias. Babi ini bukanlah sembarang babi, berbeda dengan babi lain. Keunikan babi ini terletak pada kotorannya. Setiap kali dia mengeluarkan kotorannya, kotorannya selalu berupa emas. Kenyataan ajaib ini cukup menggoda pemilik babi ini. Dia pun tidak sabar lagi menunggu kotoran berupa emas itu sehingga ia memasukkan tangannya melalui dubur babi untuk mengambil kotorannya. Babi emas pun marah dan kemudian lari/pergi entah kemana.
Itulah dialog pembuka yang ditampilkan di dalam video berdurasi panjang ini. Dari legenda itu, sang sutradara merekam kenyataan hidup yang terjadi di masyarakat, terutama di sekitar Lagundri-Sorake. Sorake adalah sebuah nama tempat yang sudah tidak asing lagi bagi telinga orang yang pernah mengunjunginya. Ombak yang begitu bagus untuk Surfing seolah memanggil banyak tamu dari luar negeri untuk datang ke Sorake. Dan memang, tidak sedikit orang dari mancanegara yang datang ke Sorake untuk berselancar di atas gulungan ombak yang indah.
Pertanyaannya ialah apa hubungan The Golden Pig” dengan Surfing? Bila ingin tahu jawabannya jangan lewatkan menonton video ini.
Popularity: 5% [?]
Peperangan Antara Niha Raya vs Niha Yöu
July 14, 2009 by nataalui.duha
Filed under Artikel
Oleh: Fogöli Harefa
Salah seorang dari putera Raja Sirao bernama Gözö Helahela Danö, diturunkan di sebelah barat Hilimaziaya yang dahulu sebelum pemekaran masuk dalam wilayah kecamatan Lahewa Kabupaten Nias. Keturunannya berkembang hingga ke Luzamanu, Afia dan Afulu. Keturunan Gözö ini disebut Mado Baeha dengan perawakan tubuh yang besar-besar dan kuat, mereka disebut Niha Yöu.
Sementara itu, terdapat juga kerajaan lain di sungai Idanoi kecamatan Gunung Sitoli, yaitu:
- Öri Talu Idanoi (mado Harefa)
- Öri Laraga (mado Zebua).
Ketika mereka melakukan Fondrakö di Talu Idanoi dan di Laraga, semua kerajaan yang berdekatan ini telah berjanji untuk saling membantu dalam segala hal terutama dalam peperangan. Mereka ini disebut Niha Raya.
Jumlah Niha Yöu lebih banyak dari Niha Raya. Tapi Niha Raya lebih berani, lebih cerdik dan lebih bijaksana.
Raja Niha Yöu yaitu Taniwaha’ambö yang berkedudukan di Helakha, sedangkan Raja Niha Raya di Talu Idanoi ialah Tumba Ana’a dan raja di Laraga yaitu Ononamölö. Tumba Ana’a berkedudukan di Onozitoli dan Tumba Ononamölö berkedudukan di Ononamölö. Kedua kerajaan ini disebut “Si dombua ba dalu Idanoi.”
Tersiarnya berita bahwa tubuh Niha Yöu itu besar-besar dan kuat, maka raja-raja Niha Raya menjadi kuatir jika suatu saat kekuasaan Niha Yöu sampai ke daerah mereka.
Suatu hari raja Talu Nidanoi bernama Tumba Ana’a melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaan raja Niha Yöu bernama Taniwaha’ambö. Kedatangan Tumba Ana’a bersama rombongannya disambut dengan upacara kehormatan oleh raja Niha Yöu.
Selama Tumba’a Ana’a berada di situ, ia sempat melihat seorang gadis yang berparas cantik sekali bernama Silewe Kana’a. Ia jatuh cinta pada gadis itu. Gadis itu adalah putri dari raja Taniwaha’ambö.
Karena itu ia mengirim utusan kepada Taniwaha’ambö untuk menyampaikan bahwa ia ingin meminang dan memperisterikan Silewe Kana’a.
Taniwaha’ambö menerima lamaran raja Tumba Ana’a sebagai menantunya. Singkat cerita, Tumba Ana’a membayar semua kewajiban adat “böwö” yang dipersyaratkan kepadanya.
Tujuh hari setelah pesta perkawinan, maka Tumba Ana’a melakukan acara “famuli nukha.” Pada saat itu pihak keluarga raja Tumba Ana’a dan raja Tuniwaha’ambö saling memberi “böwö” dalam bentuk ayam, babi hidup dll. Namun salah seekor dari babi yang diberikan oleh Taniwaha’ambö kepada keluarga menantunya adalah seokor babi jantan “la’imba.”
Karena begitu banyaknya hewan pemberian dari keluarga orangtua Silewe Kana’a, maka Tumba Ana’a meminta agar ia tidak membawa ke Talu Idanoi babi jantan “la’imba” pemberian mertuanya, akan tetapi tinggal dan dipelihara saja dulu oleh mertuanya dan kelak akan dimbilnya. Ia sendiri yang meminta demikian dan mertuanya pun mengabulkan permintaan itu.
Akan tetapi sebagaimana lazimnya jika babi jantan dilepas begitu saja, maka babi itu akan menjadi sangat liar dan galak. Begitulah babi tersebut sungguh liar, agresif mengejar dan menggigit orang serta babi-babi lain. Sehingga Anak-anak di kampung itu menjadi tidak aman. Babi Tumba Ana’a pemberian mertuanya itu telah membuat resah seisi kampung.
Karena itu, raja Taniwaha’ambö mencari akal agar babi itu jinak dan tidak liar lagi. Lalu ia menyuruh orang untuk mengebirinya “lakhai.” Dan hasilnya, babi itu tidak lagi agresif dan akan tetapi menjadi jinak.
Suatu saat, sekitar tiga bulan setelah acara “mamuli nukha,” Silewe Kana’a merasa rindu kampung halamannya. Lalu ia pergi ke sana diantar oleh suaminya Raja Tumba Ana’a dan sejumlah pengiring lainnya.
Kedatangan mereka disambut oleh Raja Taniwaha’ambö. Lalu, ia juga menjelaskan bahwa babi jantan yang dulu mereka tinggalkan telah meresahkan warga kampung. Dan untuk mencegah keliaran babi, ia telah menyuruh orang untuk mengebirinya. Dan kemudian babi itu tidak lagi menggigit orang dan bahkan sudah menjadi besar.
Raja Tumba Ana’a tidak bisa menerima penjelasan mertuanya. Ia langsung naik pitam. Ia bahkan salah pengertian atas tindakan itu. Ia mengibaratkan babi jantan itu sebagai simbol kerajaan Niha Raya yang sudah dikebiri oleh raja Niha Yöu.
Raja Taniwaha’ambö, mertuanya mencoba menjelaska sejelas dengan tenang dan sabar bahwa ia sama sekali tidak maksud demikian. Tetapi Tumba Ana’a tetap ngotot dan menyimpan dendam kepada mertuanya.
Tumba Ana’a pulang ke Talu Idanoi. Di sana ia menyebarkan berita dan memprovokasi warganya serta raja-raja lain dengan isu babi jantan tadi yang sudah dikebiri. Ia mengatakan bahwa Raja Taniwaha’ambö telah mengebiri Niha Raya. Niha Raya yang disimbolkannya dengan babi itu telah dikebiri agar tidak melawan lagi dengan kata lain menurut saja. Bahkan ia menambah kata-kata yang lebih tajam agar raja Tumba Ononamölö menjadi marah dan emosi. Namun terdapat juga di antara para tokoh yang hadir di situ, mengatakan bahwa tidak cukup alasan untuk menyerang kerajaan Niha Yöu apa lagi dengan mertuanya sendiri.
Masukan dari para tokoh itu tidak mengurungkan niat raja Tumba Ana’a. Malah ia semakin marah dan berusaha mencari alasan untuk berperang, sehingga ia mengatakan “Jika demikian aku pergi sekali lagi ke Niha Yöu mencari sesuatu sebab yang lain, agar peperangan terjadi.”
Karena itu, Raja Tumba Ana’a pergi ke kampung mertuanya. Pada saat sedang berada di sana ia nongkrong di tempat pandai besi ‘ambukha.’ Di tempat itu mereka membuat berbagai jenis senjata berkualitas sangat bagus seperti pedang, keris dan tombak dll. Seperti biasanya di situ ada sejumlah laki-laki termasuk Raja Taniwaha’ambö yang sedang mengamati karya warganya. Mereka senang melihat kedatangan menantu Raja Niha Yöu itu lalu mereka mengajaknya ngombrol dan bergurau. Mereka duga bahwa menantu raja itu ramah. Lalu salah seroang dari mereka yang hadir disitu meminta keris yang telah terselip di pinggang Tumba Ana’a dengan maksud untuk memperhatikannya. Tetapi keris buatan Niha Raya itu tipis dan kecil serta buatannya tidak kuat. Sedangkan keris buatan Niha Yöu besar dan tebal, bagus bentuknya serta dari bahan yang kuat. Lalu, para pandai besi tadi mengajak Raja Tumba Ana’a untuk bertukar keris dengan cara bergurau.
Karena Tumba Ana’a semata-mata hendak mencari pokok perselisihan, maka semua perkataan dan gurauan itu disalah artikannya. Lalu, katanya: “Keris saya ini, walaupun demikian keadaannya, tak maulah saya rasanaya bertukar walaupun dengan sepuluh keris buatan lain. Keris buatan Niha Raya selalu bertuah dan keramat.”
Ia menyampaikan hal itu dengan wajah serius, tepi para tukang besi itu hanya menanggapinya dengan bergurau, sehingga ada yang mengatakan: “jika Raja suka dan berani marilah kita mengadu ketua mata keris ini, mana yang sumbing matanya atau patah, itulah yang kalah.”
Perkataan itu di jawab oleh raja Tumba A’na’a, katanya: sekarang saya tidak mau mengadu keris pada saat itu, karana ia belum meminta izin dari rakyatnya. Ia mengatakan jika permintaan sungguh-sungguh agar diberi waktu dan ditunda dulu dan dilakukan pada saat ia datang sekali lagi di tempat itu. Para tukang itu menyetujui permintaan itu raja Tumba Ana’a sambil bercanda.
Semua hal itu menambah dendam kesumat dalam hati raja Tumba Ana’a. Oleh karena telah terlanjur berjanji untuk mengadu keris, dan Raja Tumba Ana’a menduga bahwa akan memenangkan pertandingan itu, lalu ia pulang ke Talu Idanoi.
Setibanya di sana ia menghadap Raja Tumba Ononamölö di Laraga dan menyampaikan segala rencana. Setalah mendengar penjelasan, maka Raja Tumba Ononamölö mendapat satu akal, lalu ia mengatkan: “Apabila kekuatan yang diadu, sudaha barang tentu keris kita kalah. Akan tetapi dalam hal ini, baik dengan akal juga. Tentang mengadu keris macam itu, salah satu keris harus dipotong, sedangakan yang satu ditahan dan letakkan di atas landasannya. Bila terjadi demikian harus keris kita ini dengan tipu muslihat diputar balikan pada landasannya hingga tidak terlihat oleh orang lain karena kecepatannya. Jadi ada harapan keris musuh rusak, karena bila mengenai bagian belakang keris ini, maka sumbing atau patahlah matanya.”
Raja Tumba Ana’a menerima masukan dari Raja Tumaba Ononamölö. Lalu pergi ke wilayah Niha Yöu untuk menetapkan waktu pertandingan mengadu keris.
Setelah tiba waktu yang telah disepakati, maka kedua belah pihak berkumpul di halaman disaksikan oleh banyak orang. Dan pertandingan adu keris pun di mulai.
Raja Tumba Ana’a melakukan segalah petunjuk tipu muslihat yang telah disampaikan oleh Raja Tumba Ononamölö kepadanya. Karena itu dengan sangat mengejutkan, tiba-tiba daun keris buatan Niha Yöu patah, sedangkan keris Niha Raya tetap utuh tanpa cacat sedikitpun. Niha Yöu menerima kekalahan itu dengan lapang dada, sebab walaupun mereka kalah, kemenangan jatuh ke tangan raja mereka juga, apalagi menurut mereka pertandingan semacam itu tidak begitu berarti.
Raja Tumba Ana’a menjadikan kemenangan ini sebagai kemegahannya, karena itu ia mengatakan “Ezai fogilo, wombali.” Artinya “sebagai pemutar pembalikan,” Lalu ia meneruskan kata-katanya lagi “Seperti keadaan keris inilah keadaan Niha Yöu jika berlawanan dengan Niha Raya.”
Perkataan provokasi itu tidak diperdulikan oleh orang-orang yang hadir di situ, terlebih Raja Taniwaha’ambö, sebab menurut dia, ucapan itu hanya sekedar kata-kata yang tidak mengandung arti jahat.
Setelah itu, Raja Tumba Ana’a kembali ke kampungya di Talu Idanoi. Segala peristiwa tentang pertandingan adu keris itu diceritakannya kepada Raja Tumba Ononamölö yang bijaksana.
Tidak berapa lama kemudian kedua raja di Talu Idanoi itu bersepakat untuk menghimpun rakyat dan mengumumkan perang dengan Niha Yöu. Raja Tumba Ana’a memperovokasi rakyat dengan berpura-pura dihina oleh mertuanya dan menjelek-jelekannya di hadapan rakyatnya jika ia berkunjung kesana. Karena itu, ia merasa terhina dan wajahnya tercoreng serta menanggung malu. Ia tidak tahu bagaimana cara membela diri. Rakyat pun percaya begitu saja.
Karena itu raktyat bersama seluruh pemebesar khususnya Raja Tumba Ononamölö di Laraga terpaksa bersatu membulatkan tekat untuk memerangi Niha Yöu. Ia percaya bahwa Raja Tumba Ana’a tidak mungkin mengkhianati mertuanya, karena itu ia yakin bahwa segalah perkataan Raja Tumba Ana’a adalah benar.
Untuk mempersiapkan peperangan dengan dengan Niha Yöu, Raja Tumba Ana’a dan Raja Tumba Ononamölö mengutus seseorang berkeliling untuk memberitahukan kepada segenap raja-raja dan seluruh rakyat yang ada wilayah itu agar berkumpul pada suatu tempat yaitu di “Hiligolu,” sebuah gunung yang terletak di dekat Ombölata. Di sebelah barat tempat itu adalah wilaya kekuasaan Mado Harefa hingga sekarang ini. Gunung itu dapat dilihat dari kapung Faekhu, sekitar 10-11 km dari Gunung Sitoli.
Konon certianya, dengan kesaktiannya, Raja Tumba Ana’a menghentakkan kakinya di atas tanah di puncak gunung itu, dan pada saat ia mengangkat kakinya, keluarlah air dari dalam tanah. Itulah mata air di atas bukit Hiligolu yang ada hingga sekarang ini.
Di tempat itulah dibiputuskan siapa yang memimpin peperangan melawan Niha Yöu yaitu: Raja Tumba Ana’a dan Tumba Ononamölö.
Demikian juga perbelanjaan (logistik) selama peperangan, yaitu seuntai kalung emas ‘nifatali’ seberat 120 pao diberi oleh Tumba Ana’a, karena dialah yang menyulut peperangan “Börö horö.” Selain itu, keperluan perang dibagi tiga yaitu: Sepertiga ditangung oleh Tumba Ana’a, Sepertiga dari Tumba Ononamölö dan yang sepertiga lagi ditanggung oleh raja-raja yang lain yang telah berjanji pada saat melakukan perumusan dan pembaharuan hukum “Modrakö.” Peraturan dipakai sebagai ketentuan dalam pembagian kewajiban dan tanggungjawab untuk melawan musuh di daerah Niha Raya.
Setelah disepakati, maka diutuslah beberapa orang kepada Raja Taniwaha’ambö untuk mengumumkan perang.
Raja Taniwaha’ambö, para pembesar dan rakyatnya sangat terkejut mendengar berita dari utusan itu serta tindakan Tumba Ana’a yang sangat menaruh dendam kepada Niha Yöu yang hanya dipicu oleh hal-hal kecil. Mereka mingira segala kejadian itu hanya sekedar gurauan dan tak ada maksud jahat di balik itu.
Seketika itu pulalah, Raja Taniwaha’ambö sadar akan segala tingkah laku menantunya yang aneh selama ini yang hanya semata-mata mencari bibit permasalahan. Karena itu, Raja Taniwaha’ambö sangat murka sehingga ia mengerahkan seluruh hamba dan rakyatnya untuk berperang melawan Niha Raya.
Ia memesankan kepada para utusan itu bahwa Niha Yöu sangat siap menghadapi serangan serta memusnahkan Niha Raya di bawah komando Tumba Ana’a yang seyogianya tidak patut dendam kepada mertuanya.
Mendengar pesanan itu, Raja Tumba Ana’a bertambah berang. Seluruh rakyat Niha Yöu berikrar untuk membela rajanya yang dipermalukan oleh Tumba Ana’a. Dan yang memimpin peperangan dari Niha Yöu adalah Raja Taniwaha’ambö.
Maka terjadilah peperangan antara Niha Raya melawan Niha Yöu di Helakha, wilayah kekuasaan Niha Yöu.
Di lokasi peperangan itu, ada sebatang pohon beringin “Awöni” yang telah tumbang dan melintang. Pohon itu telah menjadi pembatas wilayah antar Niha Raya dan Niha Yöu. Pohon tersebut sangat besar dan panjang sekali sehingga kita tidak bisa melihat orang yang ada di sebelah.
Sebelah menyebelah dari pohon itu, kedua kubu kerajaan yang sedang berperang saling menunggu dan memprovokasi lawannya untuk menyerang. Karena postu tubuh Niha Raya tidak begitu besar maka mereka tidak bisa melompati dan melewati pohon tersebut untuk menyerang lawan. Karena itu mereka mencari akal untuk mengalahkan Niha Yöu yang memiliki postur tubuh besar dan tinggi-tinggi serta gagah berani yang mau menyerang. Mereka memasang perangkap “saiwa” dan ranjau “Bölödi.” Niha Raya bertahan saja sambil memancing Niha Yöu supaya untuk menyerang mereka.
Mendengar seruan provokasi dari Niha Raya, maka pasukan Niha Yöu yang gagah berani itu, langsung melompati batang pohon yang melintang untuk menyerang. Mereka dengan gampang melewati batang pohon itu dengan melompat.Tapi, sayang, setiap orang yang lewat, langsung masuk perangkap sebelum menginjakkan kaki ke tanah. Dan setelah itu dihantam oleh ranjau “bölödi,” sehingga mereka dengan mudah dibunuh oleh pasukan Niha Raya yang sedang menanti musuh.
Lebih separoh dari pasukan Niha Yöu sudah melewati batang pohon itu. Mereka tidak mengetahui bahwa pasukan mereka telah mati dibunuh oleh Niha Raya. Lalu salah seorang dari pasukan Niha Yöu yang postur tubuhnya kecil dan gemuk, melompati batang pohon menyusul kawan-kawannya untuk melakukan penyerangan. Tapi karena gemuk dan tidak kuat ia sangkut di atas batang pohon itu. Ia tidak bisa lewat. Ia hanya sampai di atas batang pohon dan berdiri. Lalu ia melihat di sebelah, ternyata semua kawannya mati terbunuh. Tak ada satu pun yang masih hidup, termasuk raja dan pemimpin pasukan mereka Raja Tanihawaha’ambö.
Melihat kejadian itu, ia segera mundur dan dan memberitahukan kepada seluruh pasukannya yang masih tersisa. Lalu tanpa, menunggu lagi, seluruh anggota pasukan Niha Yöu takut dan langsung melarikan diri.
Pasukan Niha Raya mengejar musuh, menyerang dan membakar perkapungan Niha Yöu sehingga banyak perkampungan yang hancur. Akibat peperangan ini, jumlah penduduk Niha Yöu semakin berkurang jumlahnya. Raja Taniwaha’ambö ditangkap oleh Niha Raya dan lalu membunuhnya.
Oleh karena itu pula, sebagian tanah dan wilayah Niha Yöu diduduki oleh Niha Raya. Mado Harefa menduduki wilayah Luzamanu dan Mado Zebua (keturunan Hinomanofu) mengusai wilayah Sowu hingga Afia. Sejak itu, Niha Raya berangsur-angsur pindah ke tanah Niha Yöu. Itulah sebab di bagian utara pulau Nias kita banyak menjumpai suku dan marga yang bukan keturunan Gözö Hela-hela Danö.
Sumber asli: Faogöli Harefa, Hikajat dan tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Poelaoe Tello, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939, hal 104 – 113.
Ditulis kembali oleh: Nata’alui Duha
Popularity: 26% [?]
Uli Danö Saukhu dan Disain Nias yang Serba Tergantung
January 30, 2008 by fabius.ndruru
Filed under Artikel
Oleh: Nata’alui Duha, S.Pd. (Media Warisan Edisi No. 61)
Uli Danö Saukhu, pemanasan global (global heat) merupakan isu yang paling dibicarakan dan dikuatirkan di penghujung tahun 2007, menyongsong 2008. Konferensi Dunia Perubahan Iklim di Bali pada 13-14 Desember 2007, telah menghasilkan berbagai kesepakatan dan menggalang kesadaran akan usaha penurunan emisi gas yang berdampak pada peningkatan suhu bumi yang sangat ekstem akhir-akhir ini.
Bumi yang panas itu ditandai dengan berbagai bencana alam yang mematikan dan menyengsarakan manusia di berbagai belahan dunia. Segala aktivitas manusia yang mengakibatkan peningkatan emisi CO2, secara langsung menciptakan neraka dunia dan menggali liang kuburan massal. Banjir bandang, longsor, angin puting beliung, badai, topan, musim yang tidak teratur dan peningkatan suhu bumi yang sangat menyengat dll., semua membawa malapetaka bagi manusia.
Popularity: 14% [?]
Sawuyu: Adakah Jasa-mu?
December 13, 2007 by fabius.ndruru
Filed under Artikel
Semenjak negeri ini merdeka, masyarakat Nias tidak tertarik membicarakan hal-hal yang bersinggungan dengan kehidupan para abdi atau budak “Sawuyu.” Seolah trauma dengan kata itu. Tak ada lagi perbudakan dan penjajahan baik oleh para Si’ulu/Balugu/Salawa Nias dulu sebagai penjajah internal maupun Belanda dan Jepang sebagai penjajah external.
Sawuyu berakar dari kata Si ’yang’ – awuyu ’muda.’ Yang muda merujuk pada kelompok orang yang masih kecil dan belum dewasa. Orang yang belum dewasa otomatis belum menikah dan yang belum menikah juga belum termasuk pada struktur kemasyarakatan secara penuh sehingga hak-hak mereka secara adat tidak diperhitungkan. Dalam strata masyarakat Nias, mereka tergolong masyarakat lapisan terakhir setelah masyarakat biasa/kebanyakan ’sato,’ sedangkan Si’ulu/salawa/balugu berada pada posisi yang tertinggi (Wolfgang Marschall, www.nirn.org, 2007, 1).
Sering kita mendengar istilah “iraono“ atau “iraono na sa” yang tidak hanya ditujukan kepada orang yang belum dewasa, melainkan kepada mereka yang belum berjasa dan tidak pantas menjadi pemimpin. Selain itu, masih ada juga istilah lain terhadap para abdi antara lain harakana, binu sauri dll.
Perbudakan “fan(g)osawuyu“ merupakan lembaran hitam yang harus ditutup, karena kegetiran dan penderitaan yang dialami oleh mereka yang telah dijadikan sawuyu di Nias. Martabat dan harga diri mereka sungguh-sungguh direndahkan bahkan tidak dianggap sebagai manusia yang utuh hingga anak-cucu. Mereka selalu dijuluki sebagai kelompok terpinggirkan yang tidak pernah diperhitungkan. Mereka selalu diberi predikat negatif. Hingga kini, kita masih bisa mendengar jika ada seseorang yang berperilaku kurang etis, kurang sopan atau tidak tahu adat, sering disindir sebagai “sawuyu.“
Popularity: 16% [?]
Pembangunan
Pembangunan Nias “Bagaikan Jamur di Musim Hujan”
Bagi kebanyakan orang, hujan biasanya dipandang sebagai musim yang membawa sial ketimbang musim kemarau. Sepanas-panasnya terik, orang masih lebih menyukainya. Padahal hujan dapat menyuburkan tanaman. Setelah berlangsung musim hujan selama beberapa waktu, seperti akhir-akhir ini, biasanya jamur tumbuh dimana-mana.
Bahkan terkadang, pada batang pohon yang masih hidup, tapi kulitnya busuk karena terlalu lama kena air hujan. Ada jamur yang bisa dikonsumsi karena bergizi, banyak juga jamur yang bisa bawa penyakit. Demikianlah arus pembangunan di Nias setelah bencana alam gempa bumi. Di sana-sini dibangun berbagai prasarana dan sarana fisik agar kondisi Nias pulih dan menjadi lebih baik.
Kran kesempatan dan peluang sudah terbuka lebar dan terus datang. Di satu pihak tidak sedikit yang kaya mendadak, dan di pihak lain yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin merana. Pokoknya peluang itu selalu ada kendatipun hanya bisa direbut oleh orang-orang pintar.
Karenanya, semua orang menjadi oportunis. Jika tidak cerdik menggunakan kesempatan, maka akan ketinggalan dan hanya menonton orang lain yang menikmati kucuran uang dari arus pembangunan itu. Begitu banyaknya peluang, hingga orang menjadi seperti tikus masuk karung beras. Bingung, mau makan apa.
Popularity: 9% [?]







