Judul dan harga buku terbitan Museum Pusaka Nias

September 7, 2010 by fabius.ndruru  
Filed under Museum

Bahasa Indonesia

No Judul Buku Penulis Ukuran Tebal Harga
1 Asal Usul Masyarakat Nias, Suatu Interpretasi P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 15 x 21 cm 325 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik 40.000
2 Catatan tentang Gerakan “Fa’awösa” di Nias P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 13,5 x 20 cm 85 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik 25.000
3 Obat Tradisional Nias, Manfaat dan Tekhnik Penggunaannya Tim 13,5 x 20 cm 68 halaman, diluar foto-foto 17.500
4 Daeli Sanau Talinga P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 13,5 x 20 cm 128 halaman, diluar foto-foto 22.500
5 Tuturan Tiga Sosok Nias
  1. Mangaraja Famahela Hia
  2. Pendeta Alui Maru’ao
  3. M.I. Polem, D. Polem dan A.H. Polem
16,5 x 21,5 cm 199 halaman, diluar foto-foto 45.000
6 Sampai ke Pulau-piulau yang Jauh Karya Misi Provinsi Renano-Westfalica 195 halaman, diluar foto-foto 32.500

Bahasa Jerman

7 Nias – eine eigene Welt:

Sagen Mythen, Überlieferungen

P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 16,5 x 24 cm 407 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik 532.500

Bahasa Inggris

8 Traditional Architecture of Nias Island Alain M. Viaro dan Arlette Ziegler 21 x 29 cm 113 halaman, diluar sketsa 52.500

Bahasa Nias

9 Hikaya Nadu P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 15 x 21 cm 662 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik 25.000
10 Omo Sebua P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 15 x 21 cm 188 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik 12.000
11 He’iwisa ba Danö Neho P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 15 x 21 cm 187 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik 17.500
12 Nidunö-dunö ba Nöri Onolalu P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 15 x 21 cm 162 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik 20.000

Popularity: 1% [?]

Kalender Kebudayaan Nias 2011

August 18, 2010 by Frans R. Zai  
Filed under Artikel, Budaya, Buku & Publikasi

Walaupun kita masih berada di tahun 2010, namun kita juga perlu memandang ke depan khususnya ke tahun berikutnya, yaitu tahun 2011. Dalam rangka menyongsong tahun 2011 ini, Museum Pusaka Nias telah merencanakan promosi kebudayaan masyarakat Nias melalui pembuatan Kalender Kebudayaan Nias 2011. Kalender ini bertema: TANÖ NIHA Berlimpah Kekayaan Budaya dan Kesenian.

Kalender ini telah didesign sedemikian rupa dengan menampilkan gambar-gambar tentang kebudayaan Ono Niha, antara lain: tari, seni bela diri, obat tradisional, alat musik, batu megalit, Omo Hada, dsb. Gambar-gambar ini dilengkapi dengan beberapa kalimat/seruan ajakan untuk memelihara kebudayaan dan tradisi para leluhur Ono Niha. Perpaduan gambar dan kalimat tersebut membuat kalender ini “berbicara” kepada orang-orang yang melihatnya.

Leluhur masyarakat Nias juga mengenal perhitungan waktu berdasarkan posisi/bentuk bulan. Karena itu, masyarakat Nias juga mempunyai sebutan-sebutan waktu berdasarkan letak/bentuk bulan tersebut, yakni antara lain: d(t)ohare, tesa’a, tuli, dst. Dalam Kalender Kebudayaan Nias ini, hal itu tampak dalam bentuk gambar bulan: Bulan Penuh (purnama), Bulan Setengah (mulai hilang), Bulan Hilang atau Ilumö’ö, Bulan Setengah (mulai muncul).

Banyak hal yang mau diungkapkan dengan Kelender ini. Bila anda ingin mengetahui lebih lanjut dan ingin memesan Kalender Kebudayaan Nias ini, silahkan langsung menghubungi kami (lihat halaman Contact di atas).

Adapun spesifikasi kalender ini adalah, sbb:

Ukuran : 29.7 X 42 Cm
Jlh Hal Cover : 1 Lbr; Cetak 4/0
Jlh Hal Isi : 6 Lbr; Cetak 4/4
Jilid : Spiral + Pakai Gantungan Besi
Jenis Kertas : AP 120 Gr

Popularity: 4% [?]

Megalit di Öri Huruna – Kecamatan Lölöwa’u Merintih Karena Terabaikan

July 23, 2010 by mpn  
Filed under Aktual, Berita, Budaya, Laporan Kegiatan, Video

Oleh: Arozanolo Gulö

Megalit-megalit rebah di tengah semak belukar. Beberapa di antara megalit-megalit itu dicuri orang tak dikenal.

Siapa menyangka bahwa Öri Huruna, Kecamatan Lölöwa’u, masih menyimpan warisan leluhur yang tiada ternilai harganya. Warisan berharga itu dapat dilihat di Desa Olayama (tepatnya di Dusun Hili’ana’a dan Hilibadalu) dan di Desa Bitaha Soliga (Dusun Bitaha). Batu-batu megalit yang ada di ketiga lokasi itu  (Hili’ana’a, Hilibadalu dan Bitaha) merupakan saksi-saksi sejarah yang mengekspresikan kepercayaan dan kesenian para leluhur mereka. Ketiga lokasi ini masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Nias Selatan.

Megalit-megalit itu diam membisu dalam rasa letih karena terabaikan. Rintihan mereka terdengar samar seolah memohon perhatian dan perlindungan. Sangat disayangkan bahwa warisan yang sangat berharga itu sebagian telah dicuri orang tak dikenal (pencurinya tidak diketahui).

Megalit di Bitaha

Megalit-megalit yang ada di Bitaha semua telah tumbang pada saat gempa bumi, 28 Maret 2005. Syukurlah kebanyakan megalit itu dipahat dari batu yang keras sehingga hanya sebagian kecil mengalami kerusakan berat. Museum Pusaka Nias (MPN) merehab dan mendirikan kembali megalit ini pada tanggal 05 Nopember 2007, bekerja sama dengan masyarakat setempat, tokoh agama dan  tokoh adat. Pada tahun 2008, MPN mendirikan rumah adat di lokasi megalit ini. Tujuannya adalah untuk memulihkan kembali keagungan tempat situs tersebut. Dan juga supaya dengan kehadiran penghuni rumah di situs tersebut, megalit ini terhindar dari pencurian.

Megalit di Hilibadalu

Megalit di lokasi Hilibadalu, ada yang berupa menhir dan ada yang berupa dolmen dan juga berbentuk manusia. Sekarang semua tumbang, patah, dipotong, dicuri dan berada dalam semak-semak. Menurut Bapak Ama Amina Halawa dan Bapak Ama Moda, megalit di Hilibadalu ini banyak dicuri dan pencurinya tidak diketahui. Dulu di lokasi ini ada tiga batu berbentuk manusia. Sekarang tinggal satu, sedangkan yang dua lagi sudah dicuri. Terakhir pada bulan Mei 2010 satu buah patung berbentuk manusia dicuri. Pencurinya tidak diketahui.

Megalit di Hiliana’a

Megalit di Hili’ana’a semua sudah tumbang,  patah dan berada di antara semak-semak. Megalit-megalit ini juga

Megalit ini merintih karena dibiarkan 'berbaring' begitu saja di samping rumah.

pelan-pelan hilang, kata Bapak Amina.

Menuju ke lokasi ini sangat susah. Tidak ada jalan. Jalan setapakpun tidak ada. Jaraknya dari jalan kabupaten ± 1.5 km. Situasi jalan agak sulit, harus naik turun. Di lokasi ini juga banyak pohon karet sebagai penghasil masyarakat setempat.

Ketika mulai terjadi pencurian, MPN telah mendorong masyarakat setempat untuk memindahkan semua megalit di lokasi rumah mereka dan memilih satu tempat yang bagus di mana megalit itu dapat digabungkan. Rencana itu telah mulai diwujudkan dengan kedua pemilik situs megalithik tersebut. Mereka sudah sepakat untuk menyatukan megalit yang mereka miliki itu di suatu tempat dekat jalan kabupaten. Beberapa kali mereka sudah bekerja. Namun akhirnya rencana itu kurang tercapai. Salah satu kendala ialah para pemilik kedua situs itu tidak bersatu. Di samping itu, lokasi yang jauh dari pinggir jalan serta medan perjalanan yang sangat sulit juga menjadi kendala untuk mewujudkan rencana pemindahan megalit-megalit itu. Tentu butuh biaya besar. Karena itu sebagian masyarakat menggugah kembali kesepakatan mereka semula.

Megalit yang telah diangkat ke pinggir jalan raya, sebagian disimpan di samping rumah dan sebagian lagi diletakkan di lokasi dimana hendak didirikan kembali. Juga megalit-megalit yang patah dan bekas-bekas potongan yang ditinggalkan oleh para pencuri di tengah jalan.

Bapak Ama Ami Halawa  yang menemani staf MPN di perjalanan menuju ke kedua situs megalithik itu, adalah seorang tertua yang masih tinggal dari Desa Olayama. Sejak 30 tahun yang lalu bapak Ama Amina tak pernah melintas lagi di lokasi ini. Barulah pada bulan Juli 2010 dia kembali mengunjungi lokasi itu karena diajak oleh Ama Iskar Gulö, staf MPN. Dia sangat kecewa atas kerusakan megalit di kedua lokasi ini. Sewaktu pulang dari sana, sepanjang perjalanan Bapak Ama Ami Halawa selalu berteriak dan mengutuk orang-orang yang mencuri dan merusak megalit ini.

Menurut Bapak Ama Amina Halawa, kalau ada yang memberi perhatian pada megalit di Hili’ana’a dan Hilibadalu ini, maka megalit ini dapat dipindahkan ke tempat yang aman dari pada terus dicuri. Potongan yang patah dapat disambung kembali. Untuk melakukan ini harus ada musyawarah antara semua keturunan yang berhak pada megalit tersebut, dan harus ada gotong-royong untuk mengangkatnya. Untuk mengangkat megalit-megalit tersebut dibutuhkan biaya, tenaga dan juga alat-alat bantu.

Megalit-megalit ketiga situs itu, Hilibadalu, Hili’ana’a dan Bitaha, dapat dilihat dalam buku Hikaya Nadu, yakni pada Cover buku, foto XIX, dan pada lukisan yang disalin dari foto-foto asli: hlm. 324, 327, 329, 330, 331, 334, 344, 345, 349, 354, 358 dan 360.

Popularity: 5% [?]

Komite III DPD-RI Beri Masukkan RUU Cagar Budaya

July 22, 2010 by Frans R. Zai  
Filed under Berita, Budaya

Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD)-RI akan memberikan masukkan tertulis untuk Rancangan Undang-Undang (RUU) Cagar Budaya yang kini segera memasuki tahap pembahasan intensif di tingkat Panitia Kerja (Panja) DPR untuk  RUU Cagar Budaya.

“Komite III DPD-RI akan memberikan masukkan tertulis untuk RUU Cagar Budaya kepada  Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Sulistyo, Ketua Komite III DPD-RI ketika membacakan salah satu risalah rapat dalam Rapat Kerja (Raker) Komite III DPD RI dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ir. Jero Wacik, SE di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (21/7).

Ketua Komite III DPD Sulistiyo yang didampingi Wakil Ketua Komite III DPD Azis Qahhar Mudzakkar dan Darmayanti Lubis dalam raker tersebut menerima sejumlah masukkan dan usulan dari anggota Komite III DPD antara lain perlunya pasal dalam RUU Cagar Budaya yang memberikan adanya penghargaan (reward) maupun sanksi (punishment) kepada masyarakat sebagai  upaya melestarikan dan menfaatkan benda cagar budaya untuk kesejahteraan rakyat.

Menbudpar Jero Wacik mengatakan, selama ini ia  mengaku sering ditelepon oleh anggota dewan terkait pembongkaran bangunan cagar budaya. “Saya langsung telepon ke gubernurnya malam itu juga, tapi besoknya sudah dibongkar. Kami berharap anggota Komite III DPD dapat memberikan masukkan kepada bupati, walikota dan gubernur dalam upaya menyelamatkan bangunan cagar budaya ,” kata Menbudpar.

Dengan adanya payung hukum di bidang cagar budaya, kata menteri, diharapkan tidak akan terjadi pembongkaran maupun dijualnya cagar budaya yang merupakan kekayaan dan nilai sejarah bangsa.

RUU Cagar Budaya dapat memperkuat perlindungan terhadap segala sesuatu yang mempunyai nilai sejarah.  Dalam  salah satu syarat benda dan bangunan yang termasuk kategori cagar budaya dari sisi usia minimal telah memasuki 50 tahun. Salah satu langkah serius pemerintah dalam melindungi cagar budaya adalah telah dibentuknya Panja antar Departemen.

Menurut Menbudpar Jero Wacik, salah satu hambatan dalam RUU ini adalah adanya tumpang tindih dengan UU lain, seperti UU mengenai bangunan, UU konstruksi yang kerap dijadikan alasan untuk merubuhkan bangunan karena dinilai rentan rubuh dan membahayakan keselamatan manusia. (Pusformas)

——–

Sumber: http://www.budpar.go.id, tgl. 22 Juli 2010

Popularity: 2% [?]

Melestarikan Warisan Leluhur

July 5, 2010 by Frans R. Zai  
Filed under Artikel, Budaya, Buku & Publikasi

Buku yang sudah diterbitkan oleh MPN tentang Obat Tradisional Nias

Sejak Museum Pusaka Nias (MPN) berdiri tahun 1991, museum ini telah berupaya mengembangkan pengetahuan, kearifan dan nilai – nilai budaya Nias yang masih ada. Salah satu upaya yang sudah dan terus dilakukan oleh MPN ialah membudidayakan dan mengelola beberapa tanaman obat tradisional menjadi obat – obat herbal (herbal medicine). Untuk menunjang kegiatan ini, telah diadakan Semiloka ( Seminar & Lokakarya ) Tanaman Obat Tradisional. Pertama: pada 7 Desember 2000; kedua: pada 8 s/d 10 Oktober 2002 dan yang ketiga: pada 26 s/d 29 Januari 2004. Hasil lokakarya ini telah dicetak menjadi satu buku dengan judul : “Obat Tradisional Nias: Manfaat & Teknik Penggunaannya “.

Peningkatan SDM dibidang ini juga telah dilakukan yakni dengan mengutus 3 orang karyawan MPN (Hatima Farasi, Lusia Sutrisni Telaumbanua dan Petrus Gea) ke PT. Martina Berto, sebuah perusahaan (milik Ibu DR. MARTHA TILAAR) yang mengelola tanaman obat menjadi jamu dan kosmetik, pada 15 Maret – 3 April 2004 di Jakarta.

Program lain adalah pengadaan bibit pohon mahoni. Sejak Pebruari 2009 sampai dengan Juni 2010 telah terjual 4.881 polybag bibit mahoni yang tersebar di berbagai daerah seperti Telukdalam, Mandrehe, Alasa, Gidõ, Gunungsitoli, Lahewa, Lõlõmatua, Idanõ Gawo.

Pengadaan atau pembibitan beberapa pohon langka telah dilakukan berkali – kali namun selalu mengalami kegagalan. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan habitat,  iklim yang tidak sesuai.

Pengelolaan dan pemanfaatan tanaman obat menjadi obat herbal mengalami peningkatan, terutama tanaman yang telah diolah menjadi bentuk instant seperti temulawak (undre gaza), kunyit (undre manu), jahe (lahia); dan dalam bentuk simplisia seperti herba sambiloto (kanina), racikan mahkota dewa.

Berikut tabel penjualan beberapa obat herbal di depot obat M P N :

No. Uraian Tahun
2005 2006 2007 2008 2009 2010
1. Herba Sambiloto 59 bks 91 bks 112 bks 45 bks 66 bks Sampai Juni, 24 bks
2. Racikan Mahkota dewa 39 bks 79 bks 34 bks 116 bks 102 bks Sampai Juni, 112 bks
3. Kunyit Instan _ _ _ 79 bks 79 bks Sampai Juni, 34 bks
4. Jahe Instan _ _ _ 20 bks 39 bks Sampai Juni, 41 bks
5. Temulawak Instan _ _ _ 122 bks 184 bks Sampai Juni, 100 bks

Tanaman obat yang lain juga tersedia, seperti tapak liman, beluntas, brotowali, ekor kucing, mengkudu, kembang sepatu, jarak pagar, gandarusa, bengle, lempuyang, kecombrang, kejibeling, dll, yang lebih sering di konsumsi dalam keadaan segar. Sementara, beberapa tanaman herba masih belum diketahui penamaannya dalam bahasa Indonesia dan Latin, misalnya sotanga gari, tugala dan boli.

Melalui tulisan ini kita semua berharap agar segala kearifan lokal, dalam aneka bentuknya. dapat terus dipelihara dan diwariskan sepanjang hayat di kandung badan. Dengan itu keseimbangan alam yang telah terganggu dapat tercipta lagi sehingga anak cucu kita pun masih bisa menikmati indahnya alam ini, segarnya udara pagi dan warna – warni sang kembang di taman. (Ditulis dan Dilaporkan Oleh: Lusia Sutrisni Telaumbanua/MPN’07/10).

Popularity: 5% [?]

Newsletter Juni 2010

June 29, 2010 by Frans R. Zai  
Filed under Berita, Deutsch, Newsletter

Der Firstbalken konnte am 29.April 2010 eingesetzt werden. Nach der alten Sitte wurde ein kleines Loch im Firstbalken vom Boli-Baum nach oben hin offen gelassen, damit im Haus Glück und Erfolg Einzug halten können. Lesen Sie mehr in PDF-Form.

Popularity: 3% [?]

City Tour of Gunungsitoli

June 28, 2010 by Frans R. Zai  
Filed under Artikel, English

Tumöri Balöhili village

Text and photo: Tikwan Raya Siregar

After descending from the Merpati Nusantara Airlines flight on the 30th of April 2010, I was invited to the Bandara Binaka VIP Room. The Director of the Malaysian Tourism Promotion Board in Medan, Noor Azman Samsudin, and the Consulate General of the USA, Stanley Harsha, were going to be there too. The head of Tourism and Culture in Gunung Sitoli, Yulianus Harefa, honoured to receive the consulate and the director, had prepared some welcome snacks. We were involved in a light discussion before our departure for Gunung Sitoli. Stanley said that he was curious to see how Nias had changed since his last visit. Mr. Yulianus Harefa said that he was sure much had changed.

Fr. Johannes M. Hämmerle Nias Traditional House

“Before, it look 8 hours from Gunungsitoli to Teluk Dalam. We even had to wait for the tides in some rivers before being able to cross,” remembers Stanley. They discuss a number of other memories, a discussion I am not involved in, because I have never been to Nias. As it is my first visit, I don’t have any previous memories to compare to, except for the news of the backwardness, tourism, and political conflict after the achievement of autonomy. Of course, the 2004 tsunami, which had completely rearranged the structure of Tanö Niha. The national and international help efforts had helped to improve the infrastructure of Nias, in particular air access to the island.

A half hour later we are accompanied to Miga Beach Hotel in Gunung Sitoli, which is said to be the best hotel in this city. If this is the best, by Gunungsitoli standards, then my perception changed as we entered the lobby.

Let me tell you a little about the lobby. Open walls. The middle of the room has a natural wood structure about 50 cm in diameter. Traditional Nias statues in pagan nudity stand in front of the receptionist’s desk. A wooden bench runs along 4 of the 6 sides of the building, for guest to sit on while checking in or out. The roof of the lobby is thatched in the tradition of the North Nias ethnic group. I feel as it I have been taken back to the Flintstone era.

Around the lobby, there is the atmosphere of a calm Nias village with an open cottage hall, small huts for relaxing and a peer for ships to dock stretching into the sea. Stanley and Noor Azman didn’t think that they would find such a thought out modern concept in Nias. The room have a natural touch, with antique furniture. North Nias accessories are used to decorate the rooms. This hotel is our first surprise on our visit to Gunungsitoli.

***

Traditional house miniature in the Nias Heritage Museum pavilion

There were two reasons for coming to Gunung Sitoli. Firstly, we were going to join the “Tourism Revival in Nias” (“Kebangkitan Pariwisata Nias”) seminar, organized by the Head of Culture and Tourism in Gunungsitoli, Yulianus Harefa. The seminar, followed by more than 400 participants was to conceive a strategy and unite the views of all the autonomous regions in Nias in order to revive the tourism industry.

Apart from Stanley Harsha and Noor Azman Samsudin, a number of other speakers were invited to speak on this day, including Frans Teguh, Head of Planning, the Director General of Tourism Development, ILO activitiests from a number of countries, Cosmas Harefa from Medan Tourism Academy, and a number of consulates from various European countries. This programme invited the heads of a number of autonomous regions in Nias, including the Mayor of Gunungsitoli, Martinus Lase.

A day before the seminar, we were invited on city tour of Gunungsitoli. And one of the activities for was visiting a traditional Nias village in the north of Nias. The village is named Tumöri Balöhili in the West Gunungsitoli district. It is only about 8 km from the city centre by a smooth but quite narrow road. Tourists who enjoy cycling would enjoy coming to this location by bicycle, an old village settlement on the top of a low hill.

Drink Nias palm wine or tuak

Besides the warm welcome we received in this village, the interesting thing was the completeness of cultural items in each house. The most interesting and important of which is a stone sculptured to look like a deer head (osa-osa). This stone is an important status symbol. The more stones (a megalithic cultural inheritance) placed in front of house, the higher their social status. In order to obtain the rights of the stone, one must first sacrifice a pig.

Pigs are very important in Nias tradition. Bride price on Nias is measured in pigs. For a wedding, the bridegroom’s family must prepare at least 22 pigs to be slaughtered. This rule has made the Nias women famous as the most “expensive” women in Indonesia, when seen from cultural traditions.

Tradition Nias houses have a stable construction, mainly formed from a criss-cross wooden foundation without nails. Perhaps this construction was what saved every single traditional house on Nias during the earthquake and tsunami in 2004. The living room is the most important part of the building, which is where the family portraits and status symbols are hung. Status in very important for the people of Nias.

Surfer in Telukdalam

The houses in the north and the south of Nias are slightly different, the most noticeable difference being in the roof. Innorthern Nias, the roofs are pointed, while the South Nias roofs are longer. Even though both the ethnic groups are Nias people, the two ethnic groups have different social characters and respond differently to outsiders. The people in North Nias are more educated and aware of the importance of tourism. This is possibly due to the better access to the outside world; including a dock, an airport and better infrastructure.

Gunungsitoli itself was the capital of North Nias regency before the island was divided to become 5 autonomous regions. Meanwhile, the people of South Nias, in particular those who live in traditional villages are still quite wild and shut themselves off from the outside world.

The village of Tumöri Balöhili itself, is part of the Gunungsitoli tourism programme. Despite this, until today, there is no special culinary or dishes to be found in this village. The only entertainment to be had was the traditional palm wine tuo ni faro from the small shops next to the road. Stanley Harsha was curious about what he had heard about Nias palm wine or tuak, and wished to try. He had only had one at a palm wine shack, when his face began to turn red and he began to talk about the differences between Asian and European women. When we accused him of being drunk, he denied it and wanted everyone to sing.

The village of Tumöri Balöhili and its hard liquour was the second surprise for us.

***

Nias Heritage Museum beach

However, the high point of our short visit to Gunungsitoli is a project called Nias Heritage Museum (Museum Pusaka Nias), passionately run by Pastor Johannes M. Hämmerle, a Catholic priest. Nias Heritage Museum dedicated to collecting hundreds of cultural items from all over Nias. Some of the artifacts are thousands of years old. This project is valuable due to its age and the variety of the different cultural items. For example, there are traditional costumes from different periods. The oldest is a costume made from bark and animal skins. The newest costumes are the product of modern weaving techniques showing the evolution of Nias identity.

The pastor is not only a collector of artifacts, but has written more than 8 books about Nias culture, folklore, ethnography, art and the story of Catholic missionaries in Nias. All visitors agree that the Museum Pusaka Nias is run at an international standard. If it is seen from the concept, technology and the unique culture to be found here, then this museum is the best city museum in Sumatera, alongside the Rahmat International Wildlife Gallery and the Museum Negeri Sumatera Utara (North Sumatera National Museum). The people of Gunungsitoli should be proud of this project because even Medan, as the capital of North Sumatera, doesn’t have a city museum (the national museum is run by the provincial government although it’s situated in Medan).

Protestant clergyman, Serius T. Lase (left) and Nias Heritage Museum staff were playing the tools of traditional music.

Another unique fact about the Museum Pusaka Nias is that their work is not limited to the museum complex itself. At the moment, Pastor Johannes and the museum staff which consists of original Nias people are running the “living museum” programme, which is aimed at conserving the traditional culture in Nias’ exotic and culture is an integral part of their daily lives. One of the other activities run by the museum is implementing cultural heritage curriculum in village elementary schools.

It is practically unbelievable that the person behind this labour of love is a German priest who originally didn’t feel an emotional tie to Nias. In the midst of a trend towards cultural items that should have been protected getting lost or destroyed, pastor Johannes has been struggling to stem his flow since 1995. The income from the museum is around Rp   50 million a month, however the expenses are about Rp 50 million a month , not including  funds for developing the museum. However, due to the pastors seriousness and passion, a number of personal relations have donated money to the museum. Unfortunately the help is not continuous or reliable,  that the continuation of the museum is still under threat and dependant on the figure of pastor Johannes who is now 69 years old.

This private museum is open to the public. If you wish to stay longer, they have a mess in the complex on the sea. The museum is situated next to a beach  with crystal clear waters. The pastor has had a hand at providing a shady, cool resting place by planting big trees and bamboo. Staying here is an alternative way of enjoying Gunungsitoli.

***

One of the rooms in the Miga Beach hotel

Gunungsitoli has number of beaches, where you can do a number of marine activities. At the moment, there are a few restaurants on the seafront serving seafood. In Gunungsitoli, you can find suppliers of accommodation, transportation and other services to help you explore the whole island of Nias. You can visit the village of Bawo Mataluo in south Nias, about 3 hours from Gunung Sitoli. This village on a hill is the most popular village for tourists on Nias, because here the stone jumping attraction can be performed on demand in its original location. As many as 98% of the houses are still the same as when they were first built.

Or if you’re in to surface, of course Nias is the place to be. Surfers all over the world have noted Nias as a prime surfing a spot. Apart from the great waves, surfers love the warm sea. Before the recent global economic crisis, a number of international surfing competitions were held here.

And if you’re in to fishing and diving, west Nias and Teluk Dalam is your destination. Prepare your line for the fierce fish and you can go and isolate yourself on one of the many small  islands off the coast of Nias. Ya’ahowu!. (Source: “Inside Sumatera”, June 2010, page, 44-51)

Popularity: 6% [?]

Hoe een bijdrage te leveren aan de toekomst van het Nias-ErfgoedMuseum

June 14, 2010 by nataalui.duha  
Filed under Artikel, Budaya

Vanaf het leggen van de eerste steen van het hoofdgebouw voor het Nias-ErfgoedMuseum op 10 november 1995 lukt het om stap voor stap alles in orde te krijgen. De gebouwen als materieel nood-zakelijke basisvoorziening worden voortdurend beter afgewerkt. Zo is ook het hoofdprogramma: het organiseren van de vaste collectie als middel tot studie van de cultuur en als middel om de inspiratie bij het publiek te wekken, inmiddels behoorlijk op orde. De verschillende middelen en voorzieningen van een ideaal museum worden ook voortdurend herzien en bijgewerkt, waarbij wel wordt vastgehouden aan het principe: zo natuurlijk mogelijk (Blijf lezen van dit artikel als een pdf hieronder–>).

Popularity: 4% [?]

Johannes Maria, Pastor yang Berjuang Menghidupi Museum Nias

June 12, 2010 by Frans R. Zai  
Filed under Berita

Tak Rela Benda-Benda Pusaka Dijual ke Luar Pulau

Pastur Johannes Maria Harmmerle, OFMCap, bersama beberapa koleksi museum Nias yang dirintisnya sejak awal. Foto: Sugeng Sulaksono / Jawa Pos

PASTOR Johannes Maria Hammerle OFMCap diakui masyarakat Nias jauh lebih Nias dibanding warga Nias. Agamawan asal Jerman itu bahkan termasuk budayawan paling berpengaruh di pulau tersebut. Kini, banyak kalangan di Nias yang mulai resah seiring kerapnya pastor 69 tahun itu sakit.

—————————————————–
SUGENG SULAKSONO, Gunungsitoli
—————————————————–


Pada 12 Mei 2010, para staf Museum Pusaka Nias panik. Termasuk 24 mahasiswa IKIP Gunungsitoli yang sedang magang. Pastor Johannes tiba-tiba jatuh sakit dan membutuhkan perawatan secepatnya.

Rumah Sakit Gunungsitoli di Kepulauan Nias tidak memungkinkan menampung pastor sepuh itu. Selain tenaga medisnya kurang, fasilitas di rumah sakit tersebut relatif terbatas.

Karena itu, atas bantuan sebuah organisasi internasional yang masih bermarkas di Kepulauan Nias pascagempa dan tsunami 2004, Johannes akhirnya diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Penang, Malaysia.

“Saya dirawat 12 hari di sana,” kata pastor kelahiran Housach Schwartwald (Blackforest), Jerman, 1941, tersebut saat ditemui di Museum Nias, Gunungsitoli, akhir pekan lalu.

Johannes tidak menjelaskan detail penyakit yang diderita. Dia hanya mengaku baru saja menjalani operasi prostat. Dari kejadian itu, seluruh pengelola Museum Nias seluas 2 hektare yang dilengkapi taman bermain dan koleksi beberapa binatang khas Nias tersebut mulai khawatir.

“Bukan saya yang khawatir. Mereka, staf museum, yang khawatir. Bagaimana ini kelanjutan museum kalau si Johannes sudah tidak ada,” ungkap Johannes yang lumayan fasih berbahasa Indonesia.

Sebagai gambaran, dia bercerita bahwa mantan Wakil Presiden Adam Malik dulu pernah mendirikan museum keramik yang besar dan megah. “Di mana (museum keramik) itu sekarang setelah Adam Malik meninggal” Jadi, mereka (staf Museum Nias) juga khawatir seperti itu,” tuturnya.

Dari kekhawatiran para karyawan museum itulah, Johannes berpikir bahwa museum satu-satunya yang mendokumentasikan dan menampung benda-benda bersejarah kepulauan berpenduduk sekitar 900 ribu jiwa tersebut harus tetap ada. “Karena itu, kami pun berharap ada ide agar museum dengan anggaran minus itu bisa terus berlangsung,” katanya.

Tidak ada dana tetap untuk pengelolaan Museum Nias yang halaman belakangnya langsung bersentuhan dengan laut Indonesia tersebut. Kecuali, bantuan dari kakak ipar Johannes di Jerman yang setia mengirimkan dana pensiunnya sebesar 60 euro (sekitar Rp 670 ribu, Red) setiap bulan. “Padahal, dia hidup sangat sederhana. Tapi, dia tetap kirim uang untuk bantu museum ini,” ucapnya.

Pemerintah daerah yang terdiri atas lima kabupaten di Kepulauan Nias tidak menganggarkan secara rutin untuk museum itu. Sejak didirikan pada 1990, tercatat hanya tiga kali dana segar mengucur dari pemerintah daerah. Itu pun setelah pengelola museum mengirimkan proposal ke pemda. Jumlahnya Rp 25 juta, Rp 200 juta, dan Rp 75 juta.

Uang yang didapat dari pengunjung museum juga tidak bisa diharapkan. Pada akhir pekan, museum bisa mendapatkan pemasukan Rp 1,5 juta dari penjualan tiket seharga Rp 2.500 per orang. “Itu sudah paling hebat ya,” ujar Johannes lantas tersenyum.

Dia merasa, salah satu daya tarik museum terletak pada taman bermain yang dilengkapi koleksi binatang seperti buaya, burung laut, kera, dan musang. Taman bermain itu mengundang orang untuk berkunjung ke museum tersebut. “Mereka mungkin bilang, untuk apa lihat benda mati?” tuturnya.

Begitulah, kata Johannes, sangat sulit menciptakan kesadaran dan kepedulian masyarakat setempat untuk mencintai serta mempelajari budaya sendiri. “Dulu di sini ada forum masyarakat peduli museum supaya masyarakat Nias punya rasa memiliki. Ini museum punya warga, bukan museum milik pastor atau museum Katolik. Kami tidak pernah bilang ini punya Katolik.”

Banyak warga yang enggan menitipkan benda bersejarahnya di Nias karena berpikir bahwa museum itu milik Johannes atau milik umat Katolik. “Begitu pula yang saya rasakan ketika saya minta bantuan polisi lima tahun lalu. Polisi tidak bersedia menitipkan batu megalit yang disitanya ke museum ini. Katanya harus ada izin dari jaksa agung di Jakarta,” keluh Johannes.

Membangun museum bukanlah sesuatu yang direncanakan Johannes. Terlebih, sebelum menginjakkan kaki di Tana Niha “sebutan masyarakat Nias yang berarti kampung halaman kita?, dia tidak pernah mengetahui Kepulauan Nias itu seperti apa.

Johannes tiba di Nias pada 1971 sebagai misionaris. Dia diutus gerejanya di Jerman untuk menggali ilmu di tanah seberang. “Sebenarnya, kalau boleh memilih, saya pilih Sumatera. Tapi, ini sudah panggilan buat saya,” ujarnya.

Pada 1971, Nias masih sangat tertinggal. Bahkan, sampai saat ini pun belum mengalami kemajuan yang signifikan. Karena itu, kata Johannes, dalam menjalankan tugasnya dari satu desa ke desa lain, dia membutuhkan perjalanan yang sangat lama dengan berjalan kaki.

Perjalanan awal Johannes adalah di daerah Teluk Dalam, ujung paling selatan pulau tersebut. Sembilan tahun lamanya dia mengabdikan diri di kawasan yang juga dekat dengan budaya lompat batu tersebut. “Setiap malam saya menginap di rumah penduduk dan banyak bertanya. Seperti anak kecil, saya ingin tahu tentang ini dan itu,” kenangnya.

Dari banyak pertanyaan tersebut, dia mendapat banyak jawaban, sehingga terkumpul pelajaran sejarah tentang masyarakat Nias, termasuk benda-benda peninggalannya. Satu per satu warga Nias yang memiliki benda peninggalan memperlihatkannya kepada Johannes.

“Kebetulan, waktu saya studi teologi, dosen saya dulu adalah Paus Benediktus sekarang. Dia memberikan kuliah tentang Konsili Vatikan di Roma tentang keterbukaan terhadap suku dan budaya di dunia dan itu masuk ke kepala saya,” tuturnya.

Dari berbagai benda yang ditunjukkan masyarakat, Johannes mulai mengumpulkan artefak-artefak itu. Tidak jarang dia harus membelinya.

Faktanya, kata Johannes, memang banyak benda bersejarah dan bernilai tinggi dari Nias yang dibawa ke luar pulau, terutama ke Medan.

Dia sering menemukan benda berharga milik warga dan dirinya diminta untuk membayar. Beberapa minggu saja terlambat, benda itu pasti sudah terjual di seberang pulau. “Misalnya, di Brussels (Belgia), ditawarkan batu megalit dari Nias seharga 450 ribu euro. Karena itu, orang di sini lalu tergiur untuk menjual megalitnya,” terang Johannes.

Melihat fenomena seperti itu, dia semakin khawatir bahwa semakin lama Nias kehabisan benda bersejarah yang sebenarnya sangat penting untuk dipelajari generasi penerus. Fenomena itu juga membuktikan bahwa banyak warga Nias yang tidak peduli pada kebudayaan sendiri.

Sempat suatu hari saat belum ada transportasi umum di Nias, Johannes mendapat kayu ukiran sepanjang 10 meter dengan lebar satu meter dan tebal hampir 50 cm. Ukiran itu menggambarkan interaksi masyarakat Nias pada masa lalu.

Untuk membawa kayu tersebut dari pedalaman di Teluk Dalam menuju Gunungsitoli, dibutuhkan waktu sebulan dan diangkat 10 orang. “Kayu dihanyutkan lewat sungai, sempat menyangkut sebelum sampai ke laut. Lalu, dinaikkan perahu,” jelasnya.

Setelah beberapa benda terkumpul, Johannes meminta bantuan beberapa pihak, termasuk persekutuan gereja. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan museum di Gunungsitoli.

“Sempat diusulkan untuk didirikan di Teluk Dalam karena di sana banyak turis. Tapi, museum ini bukan untuk turis, namun untuk generasi muda Nias. Karena itu, lalu diputuskan di Gunungsitoli karena masyarakatnya lebih banyak dan ada sekolah tinggi,” paparnya.

Pembangunan museum ditangani arsitek asal Swiss, Prof Alain M. Viaro, tapi menggunakan tenaga kerja sepenuhnya masyarakat Nias. “Kebanggaan juga buat masyarakat Nias karena waktu terjadi gempa, museum itu hanya sedikit retak di tengah. Kecuali artefak berjatuhan dari tempatnya,” ungkap Johannes.

Di lokasi museum juga didirikan empat rumah adat dengan tipe yang berbeda. Tujuannya, masyarakat tidak merasa kolot jika merehab rumah adat. Saat ini mulai terlihat bahwa masyarakat sedikit demi sedikit meninggalkan rumah adat yang khas terbuat dari kayu tanpa paku tersebut. “Jadi, museum itu sangat berarti bagi masyarakat Nias dulu, sekarang, dan yang akan datang,” tegasnya.

Sementara itu, mantan Wakil Bupati Nias Agus Mendrofa mengaku malu melihat kenyataan bahwa orang Jerman justru lebih peduli terhadap budaya Nias. “Ini sungguh ironis. Kami saja yang sekarang berusia 50 tahun sudah banyak yang tidak peduli. Bagaimana nanti anak cucu kita?” ujarnya.

Dia menyatakan, muatan lokal dalam pendidikan bagi pelajar di Nias perlu ditambah agar kecintaan terhadap budaya daerah juga meningkat. “Pakar kebudayaan Rumbi Mulia mengatakan, Nias itu satu-satunya budaya megalitik tertua di dunia,” tuturnya.

Bukti bahwa masyarakat lokal mulai tidak mencintai peninggalannya, kata Agus, terlihat di Kecamatan Gomo, sebuah desa yang diyakini sebagai asal mula masyarakat Nias. Banyak batu yang bernilai sejarah yang telantar.

“Sangat ironis. Justru orang Jerman, bukan kami atau orang kami yang di seberang. Justru orang Jerman yang tertarik dan terpanggil jiwanya untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah,” tutur pemilik Miga Beach Hotel di Gunungsitoli itu.

Sama seperti kekhawatiran para karyawan museum, Agus tidak bisa membayangkan seandainya Johannes meninggal. Belum terbayang kelanjutan museum itu. “Kami harus terbeban. Tidak mungkin yang bangun rumah kami adalah orang lain, pasti kami. Begitu juga budaya kami, harus kami yang merawat,” tegasnya.(*/c5/ari) ===> http://www.jpnn.com

Popularity: 4% [?]

Menguak Roh Pemikat Suatu Situs

June 11, 2010 by Frans R. Zai  
Filed under Artikel, Budaya

Di bawah ini, Nata’alui Duha menulis sebuah artikel berjudul “Menguak Roh Pemikat Suatu Situs“. Judul ini seolah mengajak kita untuk mengingat teori dualisme dalam dunia filsafat. Dalam dunia filsafat, pemikiran dualisme ini dikenal sejak zaman Plato dan Aristoteles dan kemudian diikuti serta dikembangkan oleh beberapa filsuf mazhab sesudahnya. Dalam pandangan dualisme dikatakan bahwa terdapat dua substansi: roh dan materi, jiwa dan raga, roh dan badan, ide-ide dan realitas, dan seterusnya.

Karena itu muncul pertanyaan kita: apakah artikel ini mau menguraikan perbedaan antara roh dan badan? Atau barangkali melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan suatu pesan bagi sang pembaca tanpa bermaksud menguraikan masalah dualisme filosofis. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan membaca dan menyimak baris demi baris tulisan Nata’alui Duha yang kami kemas dalam bentuk PDF flash di bawah ini.

Popularity: 5% [?]