Megalit di Öri Huruna – Kecamatan Lölöwa’u Merintih Karena Terabaikan
Oleh: Arozanolo Gulö

Megalit-megalit rebah di tengah semak belukar. Beberapa di antara megalit-megalit itu dicuri orang tak dikenal.
Siapa menyangka bahwa Öri Huruna, Kecamatan Lölöwa’u, masih menyimpan warisan leluhur yang tiada ternilai harganya. Warisan berharga itu dapat dilihat di Desa Olayama (tepatnya di Dusun Hili’ana’a dan Hilibadalu) dan di Desa Bitaha Soliga (Dusun Bitaha). Batu-batu megalit yang ada di ketiga lokasi itu (Hili’ana’a, Hilibadalu dan Bitaha) merupakan saksi-saksi sejarah yang mengekspresikan kepercayaan dan kesenian para leluhur mereka. Ketiga lokasi ini masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Nias Selatan.
Megalit-megalit itu diam membisu dalam rasa letih karena terabaikan. Rintihan mereka terdengar samar seolah memohon perhatian dan perlindungan. Sangat disayangkan bahwa warisan yang sangat berharga itu sebagian telah dicuri orang tak dikenal (pencurinya tidak diketahui).
Megalit di Bitaha
Megalit-megalit yang ada di Bitaha semua telah tumbang pada saat gempa bumi, 28 Maret 2005. Syukurlah kebanyakan megalit itu dipahat dari batu yang keras sehingga hanya sebagian kecil mengalami kerusakan berat. Museum Pusaka Nias (MPN) merehab dan mendirikan kembali megalit ini pada tanggal 05 Nopember 2007, bekerja sama dengan masyarakat setempat, tokoh agama dan tokoh adat. Pada tahun 2008, MPN mendirikan rumah adat di lokasi megalit ini. Tujuannya adalah untuk memulihkan kembali keagungan tempat situs tersebut. Dan juga supaya dengan kehadiran penghuni rumah di situs tersebut, megalit ini terhindar dari pencurian.
Megalit di Hilibadalu
Megalit di lokasi Hilibadalu, ada yang berupa menhir dan ada yang berupa dolmen dan juga berbentuk manusia. Sekarang semua tumbang, patah, dipotong, dicuri dan berada dalam semak-semak. Menurut Bapak Ama Amina Halawa dan Bapak Ama Moda, megalit di Hilibadalu ini banyak dicuri dan pencurinya tidak diketahui. Dulu di lokasi ini ada tiga batu berbentuk manusia. Sekarang tinggal satu, sedangkan yang dua lagi sudah dicuri. Terakhir pada bulan Mei 2010 satu buah patung berbentuk manusia dicuri. Pencurinya tidak diketahui.
Megalit di Hiliana’a
Megalit di Hili’ana’a semua sudah tumbang, patah dan berada di antara semak-semak. Megalit-megalit ini juga

Megalit ini merintih karena dibiarkan 'berbaring' begitu saja di samping rumah.
pelan-pelan hilang, kata Bapak Amina.
Menuju ke lokasi ini sangat susah. Tidak ada jalan. Jalan setapakpun tidak ada. Jaraknya dari jalan kabupaten ± 1.5 km. Situasi jalan agak sulit, harus naik turun. Di lokasi ini juga banyak pohon karet sebagai penghasil masyarakat setempat.
Ketika mulai terjadi pencurian, MPN telah mendorong masyarakat setempat untuk memindahkan semua megalit di lokasi rumah mereka dan memilih satu tempat yang bagus di mana megalit itu dapat digabungkan. Rencana itu telah mulai diwujudkan dengan kedua pemilik situs megalithik tersebut. Mereka sudah sepakat untuk menyatukan megalit yang mereka miliki itu di suatu tempat dekat jalan kabupaten. Beberapa kali mereka sudah bekerja. Namun akhirnya rencana itu kurang tercapai. Salah satu kendala ialah para pemilik kedua situs itu tidak bersatu. Di samping itu, lokasi yang jauh dari pinggir jalan serta medan perjalanan yang sangat sulit juga menjadi kendala untuk mewujudkan rencana pemindahan megalit-megalit itu. Tentu butuh biaya besar. Karena itu sebagian masyarakat menggugah kembali kesepakatan mereka semula.
Megalit yang telah diangkat ke pinggir jalan raya, sebagian disimpan di samping rumah dan sebagian lagi diletakkan di lokasi dimana hendak didirikan kembali. Juga megalit-megalit yang patah dan bekas-bekas potongan yang ditinggalkan oleh para pencuri di tengah jalan.
Bapak Ama Ami Halawa yang menemani staf MPN di perjalanan menuju ke kedua situs megalithik itu, adalah seorang tertua yang masih tinggal dari Desa Olayama. Sejak 30 tahun yang lalu bapak Ama Amina tak pernah melintas lagi di lokasi ini. Barulah pada bulan Juli 2010 dia kembali mengunjungi lokasi itu karena diajak oleh Ama Iskar Gulö, staf MPN. Dia sangat kecewa atas kerusakan megalit di kedua lokasi ini. Sewaktu pulang dari sana, sepanjang perjalanan Bapak Ama Ami Halawa selalu berteriak dan mengutuk orang-orang yang mencuri dan merusak megalit ini.
Menurut Bapak Ama Amina Halawa, kalau ada yang memberi perhatian pada megalit di Hili’ana’a dan Hilibadalu ini, maka megalit ini dapat dipindahkan ke tempat yang aman dari pada terus dicuri. Potongan yang patah dapat disambung kembali. Untuk melakukan ini harus ada musyawarah antara semua keturunan yang berhak pada megalit tersebut, dan harus ada gotong-royong untuk mengangkatnya. Untuk mengangkat megalit-megalit tersebut dibutuhkan biaya, tenaga dan juga alat-alat bantu.
Megalit-megalit ketiga situs itu, Hilibadalu, Hili’ana’a dan Bitaha, dapat dilihat dalam buku Hikaya Nadu, yakni pada Cover buku, foto XIX, dan pada lukisan yang disalin dari foto-foto asli: hlm. 324, 327, 329, 330, 331, 334, 344, 345, 349, 354, 358 dan 360.
Popularity: 5% [?]
The Golden Pig
June 4, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Video
Video ini merupakan film dokumenter tentang P. Nias, yang dibuat oleh Joel Peterson. Cukup menarik mengikuti isi video ini. Pada bagian awal ditampilkan legenda tentang “Babi Emas” (The Golden Pig). Konon, adalah seekor babi di Nias. Babi ini bukanlah sembarang babi, berbeda dengan babi lain. Keunikan babi ini terletak pada kotorannya. Setiap kali dia mengeluarkan kotorannya, kotorannya selalu berupa emas. Kenyataan ajaib ini cukup menggoda pemilik babi ini. Dia pun tidak sabar lagi menunggu kotoran berupa emas itu sehingga ia memasukkan tangannya melalui dubur babi untuk mengambil kotorannya. Babi emas pun marah dan kemudian lari/pergi entah kemana.
Itulah dialog pembuka yang ditampilkan di dalam video berdurasi panjang ini. Dari legenda itu, sang sutradara merekam kenyataan hidup yang terjadi di masyarakat, terutama di sekitar Lagundri-Sorake. Sorake adalah sebuah nama tempat yang sudah tidak asing lagi bagi telinga orang yang pernah mengunjunginya. Ombak yang begitu bagus untuk Surfing seolah memanggil banyak tamu dari luar negeri untuk datang ke Sorake. Dan memang, tidak sedikit orang dari mancanegara yang datang ke Sorake untuk berselancar di atas gulungan ombak yang indah.
Pertanyaannya ialah apa hubungan The Golden Pig” dengan Surfing? Bila ingin tahu jawabannya jangan lewatkan menonton video ini.
Popularity: 5% [?]
Video Tari Moyo
September 8, 2009 by Gratiano Telaumbanua
Filed under Beranda, Berita, Museum, Video
Ini merupakan suatu atraksi yang dilakukan dalam sebuah pelatihan tentang pemahaman budaya bagi anak sekolah seberapa besar minat mereka mempelajari budayanya.
yw.
Popularity: 33% [?]
Video Koordinator P3N
September 8, 2009 by Gratiano Telaumbanua
Filed under Berita, Museum, Video
Rekaman ini tentang Pelatihan Inventory yang dilaksanakan oleh Museum Pusaka Nias, untuk melatih peserta latihan bagaimana mendata, melihat, dan mendokumentasikan pusaka/warisan leluhur yang ada di daerah masing-masing.
Pelatihann ini akhirnya membentuk sebuah Perhimpunan yang fungsinya untuk menghimpun pusaka-pusaka nias dari segi data yang akhirnya akan membuat dalam sebuah ensiklopedia. Pembentukan perhimpunan itu disingkat P3N (PERHIMPUNAN PELESTARI PUSAKA NIAS)
yw.
Popularity: 18% [?]
Video Fame Afo
September 8, 2009 by Gratiano Telaumbanua
Filed under Berita, Museum, Video
Judul lagu Fame Afo adalah satu dari 9 buah judul yang telah direkam gambar dan audionya di kompleks Museum. Perekaman dilakukan pada bulan Juli 2008. Kameramen: Fabius Ndruru.
yw.
Popularity: 24% [?]
Video Tari Perang
September 4, 2009 by Gratiano Telaumbanua
Filed under Berita, Video
Ini adalah rekaman Tari Perang yang mengambil lokasi di desa Hili’amaetaniha, yang merupakan suguhan dari masyarakat desa Hili’amaetaniha menyambut tamu Museum Pusaka Nias datang ke desa mereka.
yw.
Popularity: 33% [?]
Video Persiapan dan Penyambutan
September 2, 2009 by Gratiano Telaumbanua
Filed under Berita, Video
Ini merupakan rekaman saat Peresmian Museum Pusaka Nias. Rekaman persiapan dalam menyambut tamu yang datang ke Museum Pusaka Nias untuk meresmikannya.
Popularity: 16% [?]
Video Lagu dan Tarian Nias
September 2, 2009 by Gratiano Telaumbanua
Filed under Berita, Video
Shooting video lagu dari desa Hili’amaetaniha yang merupakan produksi Museum Pusaka Nias yang ketiga dalam mendokumentasikan dan mempublikasi Tarian dan Hoho budaya Nias. Rekaman ini dilakukan pada tahun Juli 2008 yang pengambilan gambar dan audionya dilakukan di Kompleks Museum.
Produksi: Museum Pusaka Nias
Popularity: 29% [?]
Kegiatan masyarakat Hilinawalö
Masyarakat Hilinawalö mempunyai kegiatan rutin setiap harinya. Mulai dari bangun pagi saat terbitnya matahari hingga sore hari menjelang terbenamnya matahari bahkan saat menjelang tidur. Kegiatan harian ini merupakan gambaran bahwa masyarakat Hilinawalö memiliki pola hidup dengan jenis pencahariannya sendiri. Anda bisa menyaksikan kegiatan mereka melalui cuplikan video berikut ini.
Popularity: 25% [?]
Festival Ya’ahowu
Pesta Ya’ahowu yang hampir setiap tahun dirayakan merupakan salah satu pesta budaya kebanggaan seluruh masyarakat Nias. Sebagai wujud kebanggaan tersebut, aneka kegiatan dan atraksi ditampilkan pada pesta ini. Salah satu bentuk kegiatan yang dapat kami sajikan di sini adalah pagelaran budaya. Silahkan lihat cuplikannya pada video berikut ini.
Popularity: 23% [?]






