Kalender Kebudayaan Nias 2011
August 18, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Budaya, Buku & Publikasi
Walaupun kita masih berada di tahun 2010, namun kita juga perlu memandang ke depan khususnya ke tahun berikutnya, yaitu tahun 2011. Dalam rangka menyongsong tahun 2011 ini, Museum Pusaka Nias telah merencanakan promosi kebudayaan masyarakat Nias melalui pembuatan Kalender Kebudayaan Nias 2011. Kalender ini bertema: TANÖ NIHA Berlimpah Kekayaan Budaya dan Kesenian.
Kalender ini telah didesign sedemikian rupa dengan menampilkan gambar-gambar tentang kebudayaan Ono Niha, antara lain: tari, seni bela diri, obat tradisional, alat musik, batu megalit, Omo Hada, dsb. Gambar-gambar ini dilengkapi dengan beberapa kalimat/seruan ajakan untuk memelihara kebudayaan dan tradisi para leluhur Ono Niha. Perpaduan gambar dan kalimat tersebut membuat kalender ini “berbicara” kepada orang-orang yang melihatnya.
Leluhur masyarakat Nias juga mengenal perhitungan waktu berdasarkan posisi/bentuk bulan. Karena itu, masyarakat Nias juga mempunyai sebutan-sebutan waktu berdasarkan letak/bentuk bulan tersebut, yakni antara lain: d(t)ohare, tesa’a, tuli, dst. Dalam Kalender Kebudayaan Nias ini, hal itu tampak dalam bentuk gambar bulan: Bulan Penuh (purnama), Bulan Setengah (mulai hilang), Bulan Hilang atau Ilumö’ö, Bulan Setengah (mulai muncul).
Banyak hal yang mau diungkapkan dengan Kelender ini. Bila anda ingin mengetahui lebih lanjut dan ingin memesan Kalender Kebudayaan Nias ini, silahkan langsung menghubungi kami (lihat halaman Contact di atas).
Adapun spesifikasi kalender ini adalah, sbb:
Ukuran : 29.7 X 42 Cm
Jlh Hal Cover : 1 Lbr; Cetak 4/0
Jlh Hal Isi : 6 Lbr; Cetak 4/4
Jilid : Spiral + Pakai Gantungan Besi
Jenis Kertas : AP 120 Gr
Popularity: 4% [?]
Megalit di Öri Huruna – Kecamatan Lölöwa’u Merintih Karena Terabaikan
Oleh: Arozanolo Gulö

Megalit-megalit rebah di tengah semak belukar. Beberapa di antara megalit-megalit itu dicuri orang tak dikenal.
Siapa menyangka bahwa Öri Huruna, Kecamatan Lölöwa’u, masih menyimpan warisan leluhur yang tiada ternilai harganya. Warisan berharga itu dapat dilihat di Desa Olayama (tepatnya di Dusun Hili’ana’a dan Hilibadalu) dan di Desa Bitaha Soliga (Dusun Bitaha). Batu-batu megalit yang ada di ketiga lokasi itu (Hili’ana’a, Hilibadalu dan Bitaha) merupakan saksi-saksi sejarah yang mengekspresikan kepercayaan dan kesenian para leluhur mereka. Ketiga lokasi ini masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Nias Selatan.
Megalit-megalit itu diam membisu dalam rasa letih karena terabaikan. Rintihan mereka terdengar samar seolah memohon perhatian dan perlindungan. Sangat disayangkan bahwa warisan yang sangat berharga itu sebagian telah dicuri orang tak dikenal (pencurinya tidak diketahui).
Megalit di Bitaha
Megalit-megalit yang ada di Bitaha semua telah tumbang pada saat gempa bumi, 28 Maret 2005. Syukurlah kebanyakan megalit itu dipahat dari batu yang keras sehingga hanya sebagian kecil mengalami kerusakan berat. Museum Pusaka Nias (MPN) merehab dan mendirikan kembali megalit ini pada tanggal 05 Nopember 2007, bekerja sama dengan masyarakat setempat, tokoh agama dan tokoh adat. Pada tahun 2008, MPN mendirikan rumah adat di lokasi megalit ini. Tujuannya adalah untuk memulihkan kembali keagungan tempat situs tersebut. Dan juga supaya dengan kehadiran penghuni rumah di situs tersebut, megalit ini terhindar dari pencurian.
Megalit di Hilibadalu
Megalit di lokasi Hilibadalu, ada yang berupa menhir dan ada yang berupa dolmen dan juga berbentuk manusia. Sekarang semua tumbang, patah, dipotong, dicuri dan berada dalam semak-semak. Menurut Bapak Ama Amina Halawa dan Bapak Ama Moda, megalit di Hilibadalu ini banyak dicuri dan pencurinya tidak diketahui. Dulu di lokasi ini ada tiga batu berbentuk manusia. Sekarang tinggal satu, sedangkan yang dua lagi sudah dicuri. Terakhir pada bulan Mei 2010 satu buah patung berbentuk manusia dicuri. Pencurinya tidak diketahui.
Megalit di Hiliana’a
Megalit di Hili’ana’a semua sudah tumbang, patah dan berada di antara semak-semak. Megalit-megalit ini juga

Megalit ini merintih karena dibiarkan 'berbaring' begitu saja di samping rumah.
pelan-pelan hilang, kata Bapak Amina.
Menuju ke lokasi ini sangat susah. Tidak ada jalan. Jalan setapakpun tidak ada. Jaraknya dari jalan kabupaten ± 1.5 km. Situasi jalan agak sulit, harus naik turun. Di lokasi ini juga banyak pohon karet sebagai penghasil masyarakat setempat.
Ketika mulai terjadi pencurian, MPN telah mendorong masyarakat setempat untuk memindahkan semua megalit di lokasi rumah mereka dan memilih satu tempat yang bagus di mana megalit itu dapat digabungkan. Rencana itu telah mulai diwujudkan dengan kedua pemilik situs megalithik tersebut. Mereka sudah sepakat untuk menyatukan megalit yang mereka miliki itu di suatu tempat dekat jalan kabupaten. Beberapa kali mereka sudah bekerja. Namun akhirnya rencana itu kurang tercapai. Salah satu kendala ialah para pemilik kedua situs itu tidak bersatu. Di samping itu, lokasi yang jauh dari pinggir jalan serta medan perjalanan yang sangat sulit juga menjadi kendala untuk mewujudkan rencana pemindahan megalit-megalit itu. Tentu butuh biaya besar. Karena itu sebagian masyarakat menggugah kembali kesepakatan mereka semula.
Megalit yang telah diangkat ke pinggir jalan raya, sebagian disimpan di samping rumah dan sebagian lagi diletakkan di lokasi dimana hendak didirikan kembali. Juga megalit-megalit yang patah dan bekas-bekas potongan yang ditinggalkan oleh para pencuri di tengah jalan.
Bapak Ama Ami Halawa yang menemani staf MPN di perjalanan menuju ke kedua situs megalithik itu, adalah seorang tertua yang masih tinggal dari Desa Olayama. Sejak 30 tahun yang lalu bapak Ama Amina tak pernah melintas lagi di lokasi ini. Barulah pada bulan Juli 2010 dia kembali mengunjungi lokasi itu karena diajak oleh Ama Iskar Gulö, staf MPN. Dia sangat kecewa atas kerusakan megalit di kedua lokasi ini. Sewaktu pulang dari sana, sepanjang perjalanan Bapak Ama Ami Halawa selalu berteriak dan mengutuk orang-orang yang mencuri dan merusak megalit ini.
Menurut Bapak Ama Amina Halawa, kalau ada yang memberi perhatian pada megalit di Hili’ana’a dan Hilibadalu ini, maka megalit ini dapat dipindahkan ke tempat yang aman dari pada terus dicuri. Potongan yang patah dapat disambung kembali. Untuk melakukan ini harus ada musyawarah antara semua keturunan yang berhak pada megalit tersebut, dan harus ada gotong-royong untuk mengangkatnya. Untuk mengangkat megalit-megalit tersebut dibutuhkan biaya, tenaga dan juga alat-alat bantu.
Megalit-megalit ketiga situs itu, Hilibadalu, Hili’ana’a dan Bitaha, dapat dilihat dalam buku Hikaya Nadu, yakni pada Cover buku, foto XIX, dan pada lukisan yang disalin dari foto-foto asli: hlm. 324, 327, 329, 330, 331, 334, 344, 345, 349, 354, 358 dan 360.
Popularity: 5% [?]
Komite III DPD-RI Beri Masukkan RUU Cagar Budaya
July 22, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Berita, Budaya
Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD)-RI akan memberikan masukkan tertulis untuk Rancangan Undang-Undang (RUU) Cagar Budaya yang kini segera memasuki tahap pembahasan intensif di tingkat Panitia Kerja (Panja) DPR untuk RUU Cagar Budaya.
“Komite III DPD-RI akan memberikan masukkan tertulis untuk RUU Cagar Budaya kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Sulistyo, Ketua Komite III DPD-RI ketika membacakan salah satu risalah rapat dalam Rapat Kerja (Raker) Komite III DPD RI dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ir. Jero Wacik, SE di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (21/7).
Ketua Komite III DPD Sulistiyo yang didampingi Wakil Ketua Komite III DPD Azis Qahhar Mudzakkar dan Darmayanti Lubis dalam raker tersebut menerima sejumlah masukkan dan usulan dari anggota Komite III DPD antara lain perlunya pasal dalam RUU Cagar Budaya yang memberikan adanya penghargaan (reward) maupun sanksi (punishment) kepada masyarakat sebagai upaya melestarikan dan menfaatkan benda cagar budaya untuk kesejahteraan rakyat.
Menbudpar Jero Wacik mengatakan, selama ini ia mengaku sering ditelepon oleh anggota dewan terkait pembongkaran bangunan cagar budaya. “Saya langsung telepon ke gubernurnya malam itu juga, tapi besoknya sudah dibongkar. Kami berharap anggota Komite III DPD dapat memberikan masukkan kepada bupati, walikota dan gubernur dalam upaya menyelamatkan bangunan cagar budaya ,” kata Menbudpar.
Dengan adanya payung hukum di bidang cagar budaya, kata menteri, diharapkan tidak akan terjadi pembongkaran maupun dijualnya cagar budaya yang merupakan kekayaan dan nilai sejarah bangsa.
RUU Cagar Budaya dapat memperkuat perlindungan terhadap segala sesuatu yang mempunyai nilai sejarah. Dalam salah satu syarat benda dan bangunan yang termasuk kategori cagar budaya dari sisi usia minimal telah memasuki 50 tahun. Salah satu langkah serius pemerintah dalam melindungi cagar budaya adalah telah dibentuknya Panja antar Departemen.
Menurut Menbudpar Jero Wacik, salah satu hambatan dalam RUU ini adalah adanya tumpang tindih dengan UU lain, seperti UU mengenai bangunan, UU konstruksi yang kerap dijadikan alasan untuk merubuhkan bangunan karena dinilai rentan rubuh dan membahayakan keselamatan manusia. (Pusformas)
——–
Sumber: http://www.budpar.go.id, tgl. 22 Juli 2010
Popularity: 2% [?]
Melestarikan Warisan Leluhur
July 5, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Budaya, Buku & Publikasi

Buku yang sudah diterbitkan oleh MPN tentang Obat Tradisional Nias
Sejak Museum Pusaka Nias (MPN) berdiri tahun 1991, museum ini telah berupaya mengembangkan pengetahuan, kearifan dan nilai – nilai budaya Nias yang masih ada. Salah satu upaya yang sudah dan terus dilakukan oleh MPN ialah membudidayakan dan mengelola beberapa tanaman obat tradisional menjadi obat – obat herbal (herbal medicine). Untuk menunjang kegiatan ini, telah diadakan Semiloka ( Seminar & Lokakarya ) Tanaman Obat Tradisional. Pertama: pada 7 Desember 2000; kedua: pada 8 s/d 10 Oktober 2002 dan yang ketiga: pada 26 s/d 29 Januari 2004. Hasil lokakarya ini telah dicetak menjadi satu buku dengan judul : “Obat Tradisional Nias: Manfaat & Teknik Penggunaannya “.
Peningkatan SDM dibidang ini juga telah dilakukan yakni dengan mengutus 3 orang karyawan MPN (Hatima Farasi, Lusia Sutrisni Telaumbanua dan Petrus Gea) ke PT. Martina Berto, sebuah perusahaan (milik Ibu DR. MARTHA TILAAR) yang mengelola tanaman obat menjadi jamu dan kosmetik, pada 15 Maret – 3 April 2004 di Jakarta.
Program lain adalah pengadaan bibit pohon mahoni. Sejak Pebruari 2009 sampai dengan Juni 2010 telah terjual 4.881 polybag bibit mahoni yang tersebar di berbagai daerah seperti Telukdalam, Mandrehe, Alasa, Gidõ, Gunungsitoli, Lahewa, Lõlõmatua, Idanõ Gawo.
Pengadaan atau pembibitan beberapa pohon langka telah dilakukan berkali – kali namun selalu mengalami kegagalan. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan habitat, iklim yang tidak sesuai.
Pengelolaan dan pemanfaatan tanaman obat menjadi obat herbal mengalami peningkatan, terutama tanaman yang telah diolah menjadi bentuk instant seperti temulawak (undre gaza), kunyit (undre manu), jahe (lahia); dan dalam bentuk simplisia seperti herba sambiloto (kanina), racikan mahkota dewa.
Berikut tabel penjualan beberapa obat herbal di depot obat M P N :
| No. | Uraian | Tahun | |||||
| 2005 | 2006 | 2007 | 2008 | 2009 | 2010 | ||
| 1. | Herba Sambiloto | 59 bks | 91 bks | 112 bks | 45 bks | 66 bks | Sampai Juni, 24 bks |
| 2. | Racikan Mahkota dewa | 39 bks | 79 bks | 34 bks | 116 bks | 102 bks | Sampai Juni, 112 bks |
| 3. | Kunyit Instan | _ | _ | _ | 79 bks | 79 bks | Sampai Juni, 34 bks |
| 4. | Jahe Instan | _ | _ | _ | 20 bks | 39 bks | Sampai Juni, 41 bks |
| 5. | Temulawak Instan | _ | _ | _ | 122 bks | 184 bks | Sampai Juni, 100 bks |
Tanaman obat yang lain juga tersedia, seperti tapak liman, beluntas, brotowali, ekor kucing, mengkudu, kembang sepatu, jarak pagar, gandarusa, bengle, lempuyang, kecombrang, kejibeling, dll, yang lebih sering di konsumsi dalam keadaan segar. Sementara, beberapa tanaman herba masih belum diketahui penamaannya dalam bahasa Indonesia dan Latin, misalnya sotanga gari, tugala dan boli.
Melalui tulisan ini kita semua berharap agar segala kearifan lokal, dalam aneka bentuknya. dapat terus dipelihara dan diwariskan sepanjang hayat di kandung badan. Dengan itu keseimbangan alam yang telah terganggu dapat tercipta lagi sehingga anak cucu kita pun masih bisa menikmati indahnya alam ini, segarnya udara pagi dan warna – warni sang kembang di taman. (Ditulis dan Dilaporkan Oleh: Lusia Sutrisni Telaumbanua/MPN’07/10).
Popularity: 5% [?]
Hoe een bijdrage te leveren aan de toekomst van het Nias-ErfgoedMuseum
June 14, 2010 by nataalui.duha
Filed under Artikel, Budaya
Vanaf het leggen van de eerste steen van het hoofdgebouw voor het Nias-ErfgoedMuseum op 10 november 1995 lukt het om stap voor stap alles in orde te krijgen. De gebouwen als materieel nood-zakelijke basisvoorziening worden voortdurend beter afgewerkt. Zo is ook het hoofdprogramma: het organiseren van de vaste collectie als middel tot studie van de cultuur en als middel om de inspiratie bij het publiek te wekken, inmiddels behoorlijk op orde. De verschillende middelen en voorzieningen van een ideaal museum worden ook voortdurend herzien en bijgewerkt, waarbij wel wordt vastgehouden aan het principe: zo natuurlijk mogelijk (Blijf lezen van dit artikel als een pdf hieronder–>).
Popularity: 4% [?]
Menguak Roh Pemikat Suatu Situs
June 11, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Artikel, Budaya
Di bawah ini, Nata’alui Duha menulis sebuah artikel berjudul “Menguak Roh Pemikat Suatu Situs“. Judul ini seolah mengajak kita untuk mengingat teori dualisme dalam dunia filsafat. Dalam dunia filsafat, pemikiran dualisme ini dikenal sejak zaman Plato dan Aristoteles dan kemudian diikuti serta dikembangkan oleh beberapa filsuf mazhab sesudahnya. Dalam pandangan dualisme dikatakan bahwa terdapat dua substansi: roh dan materi, jiwa dan raga, roh dan badan, ide-ide dan realitas, dan seterusnya.
Karena itu muncul pertanyaan kita: apakah artikel ini mau menguraikan perbedaan antara roh dan badan? Atau barangkali melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan suatu pesan bagi sang pembaca tanpa bermaksud menguraikan masalah dualisme filosofis. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan membaca dan menyimak baris demi baris tulisan Nata’alui Duha yang kami kemas dalam bentuk PDF flash di bawah ini.
Popularity: 5% [?]
Upaya MPN Melayani Kebutuhan Masyarakat
May 31, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Aktual, Berita, Budaya, Museum
Ketika kita mendengar kata “Museum”, kita barangkali langsung berpikir dan membayangkan suatu lokasi tempat penyimpanan artefak-artefak. Pikiran kita langsung membentuk sebuah gambaran seolah-olah museum hanyalah suatu tempat penyimpanan benda-benda langka, sehingga terkesan angker. Karena pemikiran seperti ini, bukan tidak mungkin bahwa orang segan atau bahkan takut mengunjungi museum. Pemikiran seperti ini tentu saja tidak semuanya benar.
Sesungguhnya, museum merupakan sebuah institusi nirlaba yang berusaha melayani kebutuhan masyarakat umum dengan melakukan usaha pengoleksian, pemeliharaan dan perawatan, penelitian, pengkomunikasian, serta pemameran bukti-bukti material mengenai manusia dan lingkungannya kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan rekreasi.
Dari pengertian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa suatu museum bukan hanya sekedar tempat pengoleksian benda-benda langka, tetapi lebih dari itu di dalamnya juga terdapat hal-hal yang bersifat didaktis dan rekreatif. Pertanyaan kita ialah bagaimana halnya dengan Museum Pusaka Nias (MPN) sendiri? Apakah MPN hanya sekedar melakukan pengoleksian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kami memposting beberapa foto di sini. Dengan melihat foto-foto ini, diharapkan para pengunjung web ini bisa sedikit mempunyai gambaran tentang upaya yang dilakukan oleh MPN untuk menata lingkungan di sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu bentuk pelayanan MPN terhadap kebutuhan masyarakat.
Rapi dan Bersih
Pepatah Latin yang berbunyi: “Mens sana in corpore sano” (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat) seakan
terngiang di benak kita tatkala kita memasuki kompleks MPN. Betapa tidak, ketika kita memasuki kompleks MPN sampah seolah enggan unjukkan diri. Tampak bahwa para staf pegawai MPN berusaha menjaga kebersihan lingkungan. Di beberapa lokasi, tempat sampah sudah tersedia sehingga pengunjung diajak untuk mencintai lingkungan hidup dan tidak membuang sampah sembarangan.
Terkadang hati serasa meringis tatkala menemukan kenyataan bahwa masih ada juga di antara para pengunjung yang enggan menggunakan tong sampah yang sudah disedikan untuk membuang sampah, seperti putung rokok, plastik, dst. Barangkali ini menjadi suatu indikasi yang menunjukkan kekurangpedulian terhadap lingkungan dan keutuhan alam ini.
Dalam situasi ketidakpedulian terhadap lingkungan ini, para pegawai MPN berusaha memelihara kebersihan di lingkungan MPN. Bunga-bunga yang indah dan segar, pepohonan rindang menyejukkan tetap terpelihara di sekitar MPN. Hal ini menjadi ajakan konkrit (didaktis) bagi para pengunjung untuk peduli terhadap alam sekitar.
Tempat Rekreasi
Bila anda pernah berkunjung ke Museum Pusaka Nias (terutama pada hari Sabtu dan Minggu), anda pasti telah menyaksikan bahwa cukup banyak pengunjung menikmati suasana santai di lingkungan MPN. Sekitar pantai telah ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa menikmati segelas kopi dan makanan ringan di beberapa kantin. Beberapa pondok dilengkapi dengan tempat duduk sungguh membantu para pengunjung untuk melepas lelah dan menikmati suasana alam yang indah dan sejuk.
Laut yang jernih dan bersih seakan memanggil para pengunjung untuk menceburkan diri dan berenang di dalamnya. Tidak mengherankan bila cukup banyak juga pengunjung yang datang untuk berenang di laut sekitar MPN. Beberapa keluarga tampak membentangkan tikar di salah satu tempat sembari menikmati kebersamaan.
Melayani Melalui Warnet
Warga sekitar MPN terutama para mahasiswa/i cukup terbantu dengan kehadiran MPN. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, MPN juga menyediakan warnet bagi mereka yang butuh mengakses internet.
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita lihat di MPN yang menunjukkan bahwa ternyata MPN senantiasa ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Tentu saja semua hal itu tidak mungkin dituliskan secara lengkap di sini. Uraian di dalam posting ini akan lebih lengkap bila anda bersedia dan mau meluangkan waktu untuk berkunjung secara langsung di MPN.

Kendaraan diatur di tempat parkir dengan rapi dan apik.

Siswa/i sekolah datang ke MPN untuk belajar dan melihat secara langsung kekayaan budaya yang barangkali tidak dikenal lagi oleh generasi muda zaman sekarang
Popularity: 5% [?]
Kunjungan Miss Indonesia 2009
May 12, 2010 by Frans R. Zai
Filed under Aktual, Berita, Budaya

Sembari tersenyum, Miss Indonesia 2009 sedang melihat berbagai koleksi budaya di dalam pavilion MPN.
Senyum indah dan ramah menghiasi bibirnya. Tangan kanannya tidak segan menyambut setiap uluran tangan dari orang-orang yang ingin menjabat tangannya. Demikianlah kesan yang tampak dari sosok seorang Putri Indonesia (Miss Indonesia 2009), Karenina S. Halim, ketika ia berkunjung di Museum Pusaka Nias (MPN) tanggal 22 Mei 2010.
Kunjungannya ke MPN merupakan salah satu agenda yang sudah direncanakan untuk mempromosikan Pulau Nias sebagai daerah pariwisata. Kedatangannya bersama dengan Kadis Pariwisata Pemkab Nias di MPN disambut oleh para staf MPN dengan penuh keramahan dibarengi dengan senyum khas Nias, yang tidak kalah indahnya dengan senyum Miss Indonesia. Ditemani oleh staf Museum, Oktoberlina Telaumbanua, Miss Indonesia 2009 melihat berbagai koleksi menarik di pavilion MPN. Blitz beberapa kamera seakan tak mau berhenti memancarkan cahaya untuk mengabadikan beberapa foto sang Nona di dalam pavilion yang sungguh di tata dengan rapi itu.

Miss Indonesia 2009 berfoto bersama dengan beberapa orang staf MPN.
Koleksi-koleksi yang ada di dalam pavilion itu seakan memberi kesaksian tentang keanggunan, keindahan, kecantikan, kemuliaan dan religiositas leluhur masyarakat Nias. Pesona yang dikagumi oleh banyak orang dari manca negara itu, kini disaksikan oleh Karenina S. Halim, Miss Indonesia 2009.
Karena kunjungannya ke MPN hanya sebentar saja, Karenina belum sempat melihat Mini Zoo dan tanam-tanaman yang biasa digunakan sebagai obat sekaligus bisa dimanfaatkan untuk perawatan tubuh/kulit.
Waktu yang singkat itu tidak mengurangi intensitas kunjungannya ke MPN. Waktu yang singkat itu justeru mengukir berbagai pesona yang akan terpancar jauh melampaui batas ruang dan waktu.
Popularity: 5% [?]
Pameran BOLA NAFO RAKSASA
March 19, 2010 by nataalui.duha
Filed under Berita, Budaya, Umum
Kantong sirih raksasa ’Bola Nafo Sebua’ berukuran; lebar 3 m x 3,5 m (tinggi), yang dianyam oleh lima orang seniwati dari Mandrehe Nias Barat telah dipamerkan di Museum Pusaka Nias sejak 20 Pebruari 2010. Upacara pembukaan pameran didahului dengan perarakan Bola Nafo Raksasa oleh seluruh jajaran manajemen Caritas Keuskupan Sibolga yang dipimpin oleh Pastor Mikael To, Pr. Lalu dilajutkan dengan serah-terima dari Caritas KS kepada Direktur Museum Pusaka Nias P. Johannes M. Hammerle, OFMCap.
Pembukaan pameran ’Bola Nafo’ dilakukan oleh Pejabat Walikota
Gunungsitoli Drs. Martinus Lase, MSP., didampingi Sekda Drs. Kemurnian Zebua, BE, ditandai dengan pemukulan gong dan seruan ’fanguhugö’ oleh petugas yang telah disiapkan. Turut hadir dalam acara pembukaan pameran ’Bola Nafo’; Menteri Lingkungan Hidup Italia Marco Betti dan Vanni Pucchioni, Kurator Senior di Museum Tropen Belanda ibu Itie van Hout, inisiator pendirian Museum Karo Pastor Leo Joosten, OFMCap., dan para Kepala Dinas di lingkungan Pemerintahan Kota Gunungsitoli, diantaranya Kadis Pariwisata Julianus Harefa, M.Si., Kadis Perindustrian dan Kadis Perhubungan. Sedangkan yang mewakili Bupati Nias adalah Kadis Pariwisata Kabupaten Nias Sam. Hura, SH.
Seluruh rangkaian acara selau diikuti dengan pertunjukkan keberlanjutan tradisi yang dilakukan oleh Sanggar Museum Pusaka Nias. Mulai dari penyambutan tamu, tradisi penyuguhan sirih, maena, hiwö, dan tari moyo oleh para putri dan tari baluse.
Para seniwati dan penganyam bola nafo raksasa
Gagasan awal pembuatan ’bola nafo rakasasa’ ini muncul dari Caritas Keuskupan Sibolga, yang mencantumkannya kegiatan dalam livelyhood. Tujuannya untuk melestarikan kearifan warga Nias dalam menciptakan berbagai motif (pola anyaman), mengembangkan dan mempromosikan pemakaiannya secara
Direktur Caritas KS dan Staf
luas di pulau Nias dan di luar pulau Nias.
Berbagai motif yang telah diciptakan oleh para penganyamam Nias
dituangkan dalam anyaman bola nafo dan tikar. Kini bebagai motif anyaman tersebut dipamerkan di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli. Dan bola nafo raksasa bermotifkan ’ni’ohulayo.”
jua berusaha mendaftarkan Bola Nafo raksasa tersebut pada Museum Rekor Indonesia (MURI).
Walikota Gunungsitoli Drs. Martinus Lase, MSP dan Menteri Lingkungan Hidup Italia Marco Betti dalam pembukaan pameran Bola Nafo Rakasa.
Bola Nafo Raksa dengan pola dasar Ni’ohulayo
Popularity: 9% [?]
Famadaya Saembu dan Famadaya Harimao
January 27, 2010 by nataalui.duha
Filed under Berita, Umum
Famadaya Saembu dan Famadaya Harimao Pada Pesta Budaya Nias Selatan
Oleh: Nata’alui Duha
Pada Pesta Budaya I Kabupaten Nias yang diselenggarakan di lapangan Orurusa, Kecamatan Telukdalam pada tanggal 7-8 Nopember 2009, terdapat beberapa pertunjukan yang manarik. Diantaranya prosesi patung harimau Famadaya Harimao, ditampilkan oleh Kecamatan Maniamölö yang diwakili oleh Desa Hilisimaetanö. Sedangkan Famadaya Saembu ditampilkan oleh kontingen kecamatan Telukdalam yang diwakili oleh Desa Hiliganöwö…. (silahkan membaca tulisan selengkapnya dalam bentuk PDF flash berikut ini).
Popularity: 9% [?]









