Judul dan harga buku terbitan Museum Pusaka Nias
September 7, 2010 by fabius.ndruru
Filed under Museum
Bahasa Indonesia
| No | Judul Buku | Penulis | Ukuran | Tebal | Harga |
| 1 | Asal Usul Masyarakat Nias, Suatu Interpretasi | P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 15 x 21 cm | 325 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik | 40.000 |
| 2 | Catatan tentang Gerakan “Fa’awösa” di Nias | P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 13,5 x 20 cm | 85 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik | 25.000 |
| 3 | Obat Tradisional Nias, Manfaat dan Tekhnik Penggunaannya | Tim | 13,5 x 20 cm | 68 halaman, diluar foto-foto | 17.500 |
| 4 | Daeli Sanau Talinga | P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 13,5 x 20 cm | 128 halaman, diluar foto-foto | 22.500 |
| 5 | Tuturan Tiga Sosok Nias |
|
16,5 x 21,5 cm | 199 halaman, diluar foto-foto | 45.000 |
| 6 | Sampai ke Pulau-piulau yang Jauh | Karya Misi Provinsi Renano-Westfalica | 195 halaman, diluar foto-foto | 32.500 |
Bahasa Jerman
| 7 | Nias – eine eigene Welt:
Sagen Mythen, Überlieferungen |
P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 16,5 x 24 cm | 407 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik | 532.500 |
Bahasa Inggris
| 8 | Traditional Architecture of Nias Island | Alain M. Viaro dan Arlette Ziegler | 21 x 29 cm | 113 halaman, diluar sketsa | 52.500 |
Bahasa Nias
| 9 | Hikaya Nadu | P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 15 x 21 cm | 662 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik | 25.000 |
| 10 | Omo Sebua | P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 15 x 21 cm | 188 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik | 12.000 |
| 11 | He’iwisa ba Danö Neho | P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 15 x 21 cm | 187 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik | 17.500 |
| 12 | Nidunö-dunö ba Nöri Onolalu | P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. | 15 x 21 cm | 162 halaman, termasuk beberapa foto-foto, sketsa dan grafik | 20.000 |
Popularity: 1% [?]
Johannes Hammerle: Uncovering the mysterious past
September 7, 2010 by fabius.ndruru
Filed under English
Duncan Graham, Contributor, Nias | Wed, 08/18/2010
Wanted: A university with a strong commitment to anthropology and archaeology, or a passionate philanthropist with similar interests.
The task: To build on existing scholarly research and maintain an outstanding collection of artefacts, thereby preserving records of a mysterious past and its unique treasures.
The reward: International acclaim.
Last year Father Johannes Hammerle, the founder and director of the Nias Heritage Museum, had a major health scare undergoing a prostate gland operation at a Sumatra hospital.
No cancer was detected and the German-born priest looks exceedingly spry. But he’s just a few months from turning three score and ten, and there’s nothing like an encounter with a surgeon’s scalpel to sharpen the mind.
Not that a Capuchin friar needs a mortality alert, but it just helps make the need for future planning even more urgent.
Nias was Father Johannes’ first posting. He arrived on July 21, 1971, after spending months in Sumatra learning Indonesian.
“At the time if I’d had the chance to choose I would have stayed in Sumatra,” he said. “Why should I go to a little island?”
Apart from discovering that the majority were Protestant (though ministers say the introduced religions don’t run deep), the first shock was discovering that his Sumatra studies were of limited help.
Popularity: 1% [?]
Sekali Lompat Seratus Ribu
October 12, 2009 by fabius.ndruru
Filed under Berita
Senin, 12 Oktober 2009 | 08:03 WIB
Pulau Nias di sebelah Barat Pulau Sumatra bukanlah tujuan wisata yang jamak. Untuk datang ke sana, tingkat kesulitannya cukup tinggi. Tetapi, banyak jalan menuju Nias. Dari Medan, ada dua maskapai penerbangan – Merpati Airlines dan Riau Airlines – yang menerbangi rute ini setiap hari. Dari Padang, Riau Airlines juga secara terjadwal terbang ke Gunungsitoli.
Kunjungan saya minggu lalu ke Pulau Nias antara lain adalah untuk membantu Museum Pusaka Nias. Sekaligus menguji-coba program “Be the Best” yang sudah lama ingin saya kembangkan, di samping melaksanakan misi sebagai Dewan Pimpinan BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia).
Saya terpana, bulu kuduk saya meremang, ketika diantar masuk ke dalam Museum Pusaka Nias (MPN) ini. Di antara semua museum di pelosok yang pernah saya kunjungi, sudah pasti MPN adalah yang terbaik. Luar biasa! Bukan saja MPN istimewa karena koleksinya yang lengkap, banyak, dan bernilai, tetapi juga cara penataannya yang bagus.
Popularity: 21% [?]
Kearifan Nias
August 31, 2009 by fabius.ndruru
Filed under Berita
Oleh: Ahmad Yunus
Gunung Sitoli jantungnya Pulau Nias. Di sini geliat perekonomian dan
perkantoran tumbuh. Kapal-kapal perdagangan, nelayan hingga kapal Ferry yang
menghubungkan Sibolga - Nias masuk ke sini. Kurang lebih perjalanan dari
Sibolga ke Nias sekitar 12 jam.
Ferry menjadi andalan utama Nias. Truk bermuatan naik dalam perut kapal.
Dari barang-barang sehari-hari sampai sayuran. Penumpang tidur sesak di atas
geladak kapal. Dari bayi hingga orangtua. Udara terasa pengap. Kamar mandi
kotor sekali.
Kami sempat kena tipu oleh calo petugas pelabuhan. Ongkos dari Sibolga ke
Gunungsitoli menjadi mahal. Kami mengeluarkan kocek empat ratus ribu lebih.
Padahal seharusnya hanya sekitar tiga ratus ribuan. Ini sudah termasuk biaya
untuk kendaraan sepeda motor.
Nias termasuk pulau yang ramai. Wisatawan asing mengenal Nias karena
ombaknya. Banyak penggila surfing menghabiskan waktu liburannya bermain
selancar di Pantai Sorake. Ombaknya mencapai ketinggian satu hingga dua
meter. Gelombangnya panjang. Penginapan kecil menghadap laut. Pantai Sorake
menyerupai sepatu kuda.
Popularity: 14% [?]
Museum Sebagai Lembaga Pelestari Budaya Bangsa
February 9, 2009 by fabius.ndruru
Filed under Museum
Direktorat Museum – www.museum-indonesia.net
Museum, apakah sebenarnya museum di benak sebagian besar masyarakat Indonesia? Mengapa apresiasi masyarakat terhadap museum begitu rendah? Mengapa selama ini masyarakat membayangkan museum adalah kumpulan barang-barang antik yang membosankan? Bila kita renungkan lebih lanjut pendapat ini tidaklah benar, karena di museum tersimpan berbagai macam pengetahuan. Maka tidak salah bila mengatakan bahwa museum memiliki peran sebagai lembaga pendidikan non formal, karena aspek edukasi lebih ditonjolkan dibanding rekreasi. Museum juga merupakan sebuah lembaga pelestari kebudayaan bangsa, baik yang berupa benda (tangible) seperti artefak, fosil, dan benda-benda etnografi maupun tak benda (intangible) seperti nilai, tradisi, dan norma.
Popularity: 12% [?]
Museum Pusaka Nias Diresmikan
November 19, 2008 by fabius.ndruru
Filed under Umum
Pada hari Selasa (18/11/08), merupakan hari bersejarah bagi Museum Pusaka Nias karena pengoperasiannya diresmikan oleh Dewan Pertimbangan Presiden Letjend (Purn) Dr. TB. Silalahi, SH. Peresmian Museum Pusaka Nias dan Pembukaan Pameran Tetap tersebut dihadiri oleh Bupati Nias, Parlindungan Purba, SH. (anggota DPD RI), Arisman Zagötö (anggota DPR RI), anggota DPRD Nias, kepala BRR Perwakilan Nias, kepala-kepala dinas dan kantor, utusan sekolah-sekolah dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, tokoh agama, masyarakat dan pemuda serta sejumlah pemerhati budaya baik dalam negeri maupun luar negeri dan beberapa NGO yang ada di Nias. Peresmian Museum Pusaka Nias tersebut dimeriahkan dengan musik dan tarian tradisional Nias yang secara khusus didatangkan panitia dari desa Iraonogaila, kec. Sirombu, kab. Nias Barat.
Tanda peresmian Museum Pusaka Nias dan Pembukaan Pameran Tetap tersebut dilakukan oleh TB. Silalahi dengan memukul gong sebanyak 5 kali. Sesudahnya memotong pita yang secara khusus didesain dari daun kepala muda dengan menggunakan pedang tradisional Nias.
Popularity: 7% [?]
13 Museum Tidak Layak Dikunjungi
July 2, 2008 by fabius.ndruru
Filed under Berita, Budaya, Museum, Umum
* Museum Nias Termasuk yang Tertata Baik
Medan (WASPADA Online) Wed, 02 July 2008
13 Museum di Sumut dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan tidak layak dikunjungi. “Dari hasil pendataan museum yang ada di Sumut, hanya tiga museum yang tertata dengan baik dan memiliki jumlah pengunjung yang tinggi yakni Museum Nias di Kabupaten Nias, Rahmat Galery dan Museum Negeri Provsu, dimana keduanya berada di Kota Medan,” kata Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) pengurus daerah Sumut Dr Philosophy Ichwan Azhari, MS saat deklarasi AMI Sumut di Gedung Museum Negeri Provinsi Sumut, Senin (30/6).
Read more
Popularity: 21% [?]
AMDA Serahkan Sumbangan Mobil Kepada Museum Pusaka Nias
June 10, 2008 by fabius.ndruru
Filed under Berita, Umum
Tgl. 10 Juni 2008 AMDA international yang diwakili oleh ibu Mitsue Umiguchi pimpinan AMDA Perwakilan Nias menyerahkan satu unit mobil Strada kepada Museum Pusaka Nias. Donasi tersebut merupakan salah satu kepedulian AMDA dalam menunjang kegiatan operasional di Museum Pusaka Nias.
Menurut ibu Sonia dari UNORC, bahwa mendapatkan mobil tersebut sangat sulit, namun karena dukungan beberapa NGO international mendukung permohonan Museum Pusaka Nias, pada akhirnya AMDA memutuskan, bahwa mobil tersebut pantas diterima oleh Museum Pusaka Nias karena lembaga ini merupakan satu-satunya lembaga yang bergelut dalam pemeliharaan budaya masyarakat di kepulauan Nias. Selain itu Museum Pusaka Nias telah banyak membantu merehabilitasi dan merekonstruksi rumah-rumah tradisional di kepulauan Nias hingga sekarang.
Penyerahan mobil tersebut disaksikan oleh beberapa lembaga internasional dan lokal seperti UN-WFP, UN-ILO, UNORC, Help dan LPAM Nias.
Selain sumbangan mobil, AMDA juga menyumbangkan satu unit computer dan beberapa alat-alat kantor lainnya.
Popularity: 6% [?]
Pameran Foto Nias Eksotik 1903-1985
April 7, 2008 by fabius.ndruru
Filed under Umum
Dari tgl. 29 Maret – 21 Mei 2008, Museum Pusaka Nias mengadakan pameran foto-foto tentang Nias yang diperoleh dari Museum Etnologis Basel, Swiss. Pameran foto-foto tersebut terlaksana atas kerja sama Museum Pusaka Nias, Museum Etnologi Basel dan Kedutaan Swiss di Jakarta dan diselenggarakan dalam rangka memperingati 3 tahun gempa di Nias.
Pameran foto-foto tersebut dibuka secara resmi oleh Duta Besar Swiss, Jakarta.
Popularity: 5% [?]
Nias — not just stone jumping and surfing
February 5, 2008 by fabius.ndruru
Filed under English
By: George Junus Aditjondro <Source: The Jakarta Post>
Stone jumping (hombo batu) and surfing are the two most well-known attractions for tourists coming to the island of Nias, 75 miles west of Sumatera, which only take place in Teluk Dalam on Nias’ south coast. Young Nias men jump over 2-meters stone walls for Rp 50,000, in the village of Bawomatoluo. Meanwhile, surfing was introduced and developed by foreign tourists on the beach of Sorake.
Coming all the way to Nias, however, tourists should not limit themselves to stone jumping and surfing, since the island — with a civilization dating back to the Dongson period of North Vietnam — has a unique traditional architecture adapted to the frequent earthquake tremors in the region.
Two original solutions were created by the Nias ancestors. Firstly, all houses were set on a series of vertical pillars (enomo) which are not anchored into the ground, but rest on stone blocks. Secondly, the vertical pillars were reinforced by slanting piles (ndriwa), which created a very resistant earthquake-proof three-dimensional structure.
While surviving earthquakes, Nias traditional architecture is presently endangered by two big challenges, namely deforestation and modernization. Nias has largely been stripped of its forests over the past 150 years since head hunting ceased and the population grew rapidly. This has nearly depleted the native efoa, manawa dano, and simalambuo hardwood trees, used for the pillars of the traditional clan houses (omo hada), chief houses (omo sebua or omo nifolasara) and large meeting halls (omo bale).
Secondly, modernization has reduced the strength of the clan (mado), with most Nias people preferring now to live in Malay houses, while the government has also forsaken Nias traditional architecture in all official buildings.
Popularity: 15% [?]








