Hoe een bijdrage te leveren aan de toekomst van het Nias-ErfgoedMuseum
June 14, 2010 by nataalui.duha
Filed under Artikel, Budaya
Vanaf het leggen van de eerste steen van het hoofdgebouw voor het Nias-ErfgoedMuseum op 10 november 1995 lukt het om stap voor stap alles in orde te krijgen. De gebouwen als materieel nood-zakelijke basisvoorziening worden voortdurend beter afgewerkt. Zo is ook het hoofdprogramma: het organiseren van de vaste collectie als middel tot studie van de cultuur en als middel om de inspiratie bij het publiek te wekken, inmiddels behoorlijk op orde. De verschillende middelen en voorzieningen van een ideaal museum worden ook voortdurend herzien en bijgewerkt, waarbij wel wordt vastgehouden aan het principe: zo natuurlijk mogelijk (Blijf lezen van dit artikel als een pdf hieronder–>).
Popularity: 4% [?]
Toenggoel P. Siagian, The First Help Giver to the Nias Museum from Indonesia
June 9, 2010 by nataalui.duha
Filed under Sahabat / Friends

Toenggoel Siagiaan
The support to manage and develop the Nias Heritage Museum is not coming from Niasans, but from a Batakness Toenggoel P. Siagian. This modest guy lives in Jakarta. Since 1994, he starts with funding 3 young men from Nias to study at University in Jakarta and then he sends them back to Nias after finishing their study. The three young Niasans (Ottorius Harefa, Nata’alui Duha and Idaman Harefa) work to assist the director of the museum Pastor Johannes to manage and develop the museum step by step.
Through the friendship with Toenggoel Siagian, Nias Heritage Museus has connection with the Ford Foundation -Jakarta. Eventually, Nias Heritage Museum gets a kind grant from the US organization. Computer set, camera and office equipments are also donated by this nice guy.
Popularity: 2% [?]
Bagaimana Museum Pusaka Nias menyambung nyawa?
April 14, 2010 by nataalui.duha
Filed under Beranda, Berita
Para pengunjung Museum Pusaka Nias yang budiman, dalam posting ini kami lampirkan file ”Bagaimana menyambung hidup Museum Nias“, dalam format pdf flash.
Popularity: 5% [?]
Pameran BOLA NAFO RAKSASA
March 19, 2010 by nataalui.duha
Filed under Berita, Budaya, Umum
Kantong sirih raksasa ’Bola Nafo Sebua’ berukuran; lebar 3 m x 3,5 m (tinggi), yang dianyam oleh lima orang seniwati dari Mandrehe Nias Barat telah dipamerkan di Museum Pusaka Nias sejak 20 Pebruari 2010. Upacara pembukaan pameran didahului dengan perarakan Bola Nafo Raksasa oleh seluruh jajaran manajemen Caritas Keuskupan Sibolga yang dipimpin oleh Pastor Mikael To, Pr. Lalu dilajutkan dengan serah-terima dari Caritas KS kepada Direktur Museum Pusaka Nias P. Johannes M. Hammerle, OFMCap.
Pembukaan pameran ’Bola Nafo’ dilakukan oleh Pejabat Walikota
Gunungsitoli Drs. Martinus Lase, MSP., didampingi Sekda Drs. Kemurnian Zebua, BE, ditandai dengan pemukulan gong dan seruan ’fanguhugö’ oleh petugas yang telah disiapkan. Turut hadir dalam acara pembukaan pameran ’Bola Nafo’; Menteri Lingkungan Hidup Italia Marco Betti dan Vanni Pucchioni, Kurator Senior di Museum Tropen Belanda ibu Itie van Hout, inisiator pendirian Museum Karo Pastor Leo Joosten, OFMCap., dan para Kepala Dinas di lingkungan Pemerintahan Kota Gunungsitoli, diantaranya Kadis Pariwisata Julianus Harefa, M.Si., Kadis Perindustrian dan Kadis Perhubungan. Sedangkan yang mewakili Bupati Nias adalah Kadis Pariwisata Kabupaten Nias Sam. Hura, SH.
Seluruh rangkaian acara selau diikuti dengan pertunjukkan keberlanjutan tradisi yang dilakukan oleh Sanggar Museum Pusaka Nias. Mulai dari penyambutan tamu, tradisi penyuguhan sirih, maena, hiwö, dan tari moyo oleh para putri dan tari baluse.
Para seniwati dan penganyam bola nafo raksasa
Gagasan awal pembuatan ’bola nafo rakasasa’ ini muncul dari Caritas Keuskupan Sibolga, yang mencantumkannya kegiatan dalam livelyhood. Tujuannya untuk melestarikan kearifan warga Nias dalam menciptakan berbagai motif (pola anyaman), mengembangkan dan mempromosikan pemakaiannya secara
Direktur Caritas KS dan Staf
luas di pulau Nias dan di luar pulau Nias.
Berbagai motif yang telah diciptakan oleh para penganyamam Nias
dituangkan dalam anyaman bola nafo dan tikar. Kini bebagai motif anyaman tersebut dipamerkan di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli. Dan bola nafo raksasa bermotifkan ’ni’ohulayo.”
jua berusaha mendaftarkan Bola Nafo raksasa tersebut pada Museum Rekor Indonesia (MURI).
Walikota Gunungsitoli Drs. Martinus Lase, MSP dan Menteri Lingkungan Hidup Italia Marco Betti dalam pembukaan pameran Bola Nafo Rakasa.
Bola Nafo Raksa dengan pola dasar Ni’ohulayo
Popularity: 9% [?]
Famadaya Saembu dan Famadaya Harimao
January 27, 2010 by nataalui.duha
Filed under Berita, Umum
Famadaya Saembu dan Famadaya Harimao Pada Pesta Budaya Nias Selatan
Oleh: Nata’alui Duha
Pada Pesta Budaya I Kabupaten Nias yang diselenggarakan di lapangan Orurusa, Kecamatan Telukdalam pada tanggal 7-8 Nopember 2009, terdapat beberapa pertunjukan yang manarik. Diantaranya prosesi patung harimau Famadaya Harimao, ditampilkan oleh Kecamatan Maniamölö yang diwakili oleh Desa Hilisimaetanö. Sedangkan Famadaya Saembu ditampilkan oleh kontingen kecamatan Telukdalam yang diwakili oleh Desa Hiliganöwö…. (silahkan membaca tulisan selengkapnya dalam bentuk PDF flash berikut ini).
Popularity: 9% [?]
HUT Museum Pusaka Nias ke- 14
November 11, 2009 by nataalui.duha
Filed under Berita, Museum, Umum
Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, pada Hari Selasa tanggal 10 Nopember 2009, persis pada 10 Nopember tahun 1995 yang lalu, mantan Bupati Nias alm.
Drs. Tal Larosa meletakkan batu pertama pendirian gedung induk Museum Pusaka Nias. Bersamaan dengan itu, pameran sementara yang ditempatkan pada ruangan darurat dibuka untuk umum. Kini dalam umur 2 x 7 tahun itu, Museum Pusaka Nias terus membenahi diri dan membulakan tekad untuk mempertahankan identitas Ono Niha dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi serta modal dalam mengembangkan diri. HUT museum ini diawali dengan misa (kebaktian) bersama staf pada pagi hari, dipimpin langsung oleh Direktur sekaligus inisiator museum ini P. Johannes M. Hammerle, OFMCap.
Misa itu dikhususkan untuk bersyukur kepada Tuhan dan untuk memohon penyelenggaraan Ilahi dalam pengembangan keberlanjutan museum ini ke depan.

Selain itu, doa safaat juga disampaikan bagi orang-orang dan lembag yang telah turut dalam perjuangan pembangunan dan pengembangan museum ini dari dulu hingga sekarang.
Museum yang dibuka seharian secara gratis kepada umum itu, diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya demonstrasi kuliner khas Nias yaitu Gowi nilökha, Gowi nibogö dan kopi ala Nias. Selain itu, pengunjung juga mengikuti presentasi dan demonstrasi alat musik tradisional, penjelasan/ pemanduan terarah dalam ruangan pamerah dan pemutaran film dokumenter pusaka Nias.

Terhitung dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore, museum ini dikunjungi 2641 orang terutama pelajar, mahasiswa dan juga masyarakat umum.
SEGENAP PENGURUS YAYAYASAN PUSAKA NIAS DAN MUSEUM PUSAKA NIAS MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SETINGGI TINGGINYA BAGI SEMUA PIHAK YANG TELAH MENDUKUNG KEBERLANGSUNGAN DAN PENGEMBANGAN MUSEUM NI
AS INI.


Popularity: 12% [?]
Peperangan Antara Niha Raya vs Niha Yöu
July 14, 2009 by nataalui.duha
Filed under Artikel
Oleh: Fogöli Harefa
Salah seorang dari putera Raja Sirao bernama Gözö Helahela Danö, diturunkan di sebelah barat Hilimaziaya yang dahulu sebelum pemekaran masuk dalam wilayah kecamatan Lahewa Kabupaten Nias. Keturunannya berkembang hingga ke Luzamanu, Afia dan Afulu. Keturunan Gözö ini disebut Mado Baeha dengan perawakan tubuh yang besar-besar dan kuat, mereka disebut Niha Yöu.
Sementara itu, terdapat juga kerajaan lain di sungai Idanoi kecamatan Gunung Sitoli, yaitu:
- Öri Talu Idanoi (mado Harefa)
- Öri Laraga (mado Zebua).
Ketika mereka melakukan Fondrakö di Talu Idanoi dan di Laraga, semua kerajaan yang berdekatan ini telah berjanji untuk saling membantu dalam segala hal terutama dalam peperangan. Mereka ini disebut Niha Raya.
Jumlah Niha Yöu lebih banyak dari Niha Raya. Tapi Niha Raya lebih berani, lebih cerdik dan lebih bijaksana.
Raja Niha Yöu yaitu Taniwaha’ambö yang berkedudukan di Helakha, sedangkan Raja Niha Raya di Talu Idanoi ialah Tumba Ana’a dan raja di Laraga yaitu Ononamölö. Tumba Ana’a berkedudukan di Onozitoli dan Tumba Ononamölö berkedudukan di Ononamölö. Kedua kerajaan ini disebut “Si dombua ba dalu Idanoi.”
Tersiarnya berita bahwa tubuh Niha Yöu itu besar-besar dan kuat, maka raja-raja Niha Raya menjadi kuatir jika suatu saat kekuasaan Niha Yöu sampai ke daerah mereka.
Suatu hari raja Talu Nidanoi bernama Tumba Ana’a melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaan raja Niha Yöu bernama Taniwaha’ambö. Kedatangan Tumba Ana’a bersama rombongannya disambut dengan upacara kehormatan oleh raja Niha Yöu.
Selama Tumba’a Ana’a berada di situ, ia sempat melihat seorang gadis yang berparas cantik sekali bernama Silewe Kana’a. Ia jatuh cinta pada gadis itu. Gadis itu adalah putri dari raja Taniwaha’ambö.
Karena itu ia mengirim utusan kepada Taniwaha’ambö untuk menyampaikan bahwa ia ingin meminang dan memperisterikan Silewe Kana’a.
Taniwaha’ambö menerima lamaran raja Tumba Ana’a sebagai menantunya. Singkat cerita, Tumba Ana’a membayar semua kewajiban adat “böwö” yang dipersyaratkan kepadanya.
Tujuh hari setelah pesta perkawinan, maka Tumba Ana’a melakukan acara “famuli nukha.” Pada saat itu pihak keluarga raja Tumba Ana’a dan raja Tuniwaha’ambö saling memberi “böwö” dalam bentuk ayam, babi hidup dll. Namun salah seekor dari babi yang diberikan oleh Taniwaha’ambö kepada keluarga menantunya adalah seokor babi jantan “la’imba.”
Karena begitu banyaknya hewan pemberian dari keluarga orangtua Silewe Kana’a, maka Tumba Ana’a meminta agar ia tidak membawa ke Talu Idanoi babi jantan “la’imba” pemberian mertuanya, akan tetapi tinggal dan dipelihara saja dulu oleh mertuanya dan kelak akan dimbilnya. Ia sendiri yang meminta demikian dan mertuanya pun mengabulkan permintaan itu.
Akan tetapi sebagaimana lazimnya jika babi jantan dilepas begitu saja, maka babi itu akan menjadi sangat liar dan galak. Begitulah babi tersebut sungguh liar, agresif mengejar dan menggigit orang serta babi-babi lain. Sehingga Anak-anak di kampung itu menjadi tidak aman. Babi Tumba Ana’a pemberian mertuanya itu telah membuat resah seisi kampung.
Karena itu, raja Taniwaha’ambö mencari akal agar babi itu jinak dan tidak liar lagi. Lalu ia menyuruh orang untuk mengebirinya “lakhai.” Dan hasilnya, babi itu tidak lagi agresif dan akan tetapi menjadi jinak.
Suatu saat, sekitar tiga bulan setelah acara “mamuli nukha,” Silewe Kana’a merasa rindu kampung halamannya. Lalu ia pergi ke sana diantar oleh suaminya Raja Tumba Ana’a dan sejumlah pengiring lainnya.
Kedatangan mereka disambut oleh Raja Taniwaha’ambö. Lalu, ia juga menjelaskan bahwa babi jantan yang dulu mereka tinggalkan telah meresahkan warga kampung. Dan untuk mencegah keliaran babi, ia telah menyuruh orang untuk mengebirinya. Dan kemudian babi itu tidak lagi menggigit orang dan bahkan sudah menjadi besar.
Raja Tumba Ana’a tidak bisa menerima penjelasan mertuanya. Ia langsung naik pitam. Ia bahkan salah pengertian atas tindakan itu. Ia mengibaratkan babi jantan itu sebagai simbol kerajaan Niha Raya yang sudah dikebiri oleh raja Niha Yöu.
Raja Taniwaha’ambö, mertuanya mencoba menjelaska sejelas dengan tenang dan sabar bahwa ia sama sekali tidak maksud demikian. Tetapi Tumba Ana’a tetap ngotot dan menyimpan dendam kepada mertuanya.
Tumba Ana’a pulang ke Talu Idanoi. Di sana ia menyebarkan berita dan memprovokasi warganya serta raja-raja lain dengan isu babi jantan tadi yang sudah dikebiri. Ia mengatakan bahwa Raja Taniwaha’ambö telah mengebiri Niha Raya. Niha Raya yang disimbolkannya dengan babi itu telah dikebiri agar tidak melawan lagi dengan kata lain menurut saja. Bahkan ia menambah kata-kata yang lebih tajam agar raja Tumba Ononamölö menjadi marah dan emosi. Namun terdapat juga di antara para tokoh yang hadir di situ, mengatakan bahwa tidak cukup alasan untuk menyerang kerajaan Niha Yöu apa lagi dengan mertuanya sendiri.
Masukan dari para tokoh itu tidak mengurungkan niat raja Tumba Ana’a. Malah ia semakin marah dan berusaha mencari alasan untuk berperang, sehingga ia mengatakan “Jika demikian aku pergi sekali lagi ke Niha Yöu mencari sesuatu sebab yang lain, agar peperangan terjadi.”
Karena itu, Raja Tumba Ana’a pergi ke kampung mertuanya. Pada saat sedang berada di sana ia nongkrong di tempat pandai besi ‘ambukha.’ Di tempat itu mereka membuat berbagai jenis senjata berkualitas sangat bagus seperti pedang, keris dan tombak dll. Seperti biasanya di situ ada sejumlah laki-laki termasuk Raja Taniwaha’ambö yang sedang mengamati karya warganya. Mereka senang melihat kedatangan menantu Raja Niha Yöu itu lalu mereka mengajaknya ngombrol dan bergurau. Mereka duga bahwa menantu raja itu ramah. Lalu salah seroang dari mereka yang hadir disitu meminta keris yang telah terselip di pinggang Tumba Ana’a dengan maksud untuk memperhatikannya. Tetapi keris buatan Niha Raya itu tipis dan kecil serta buatannya tidak kuat. Sedangkan keris buatan Niha Yöu besar dan tebal, bagus bentuknya serta dari bahan yang kuat. Lalu, para pandai besi tadi mengajak Raja Tumba Ana’a untuk bertukar keris dengan cara bergurau.
Karena Tumba Ana’a semata-mata hendak mencari pokok perselisihan, maka semua perkataan dan gurauan itu disalah artikannya. Lalu, katanya: “Keris saya ini, walaupun demikian keadaannya, tak maulah saya rasanaya bertukar walaupun dengan sepuluh keris buatan lain. Keris buatan Niha Raya selalu bertuah dan keramat.”
Ia menyampaikan hal itu dengan wajah serius, tepi para tukang besi itu hanya menanggapinya dengan bergurau, sehingga ada yang mengatakan: “jika Raja suka dan berani marilah kita mengadu ketua mata keris ini, mana yang sumbing matanya atau patah, itulah yang kalah.”
Perkataan itu di jawab oleh raja Tumba A’na’a, katanya: sekarang saya tidak mau mengadu keris pada saat itu, karana ia belum meminta izin dari rakyatnya. Ia mengatakan jika permintaan sungguh-sungguh agar diberi waktu dan ditunda dulu dan dilakukan pada saat ia datang sekali lagi di tempat itu. Para tukang itu menyetujui permintaan itu raja Tumba Ana’a sambil bercanda.
Semua hal itu menambah dendam kesumat dalam hati raja Tumba Ana’a. Oleh karena telah terlanjur berjanji untuk mengadu keris, dan Raja Tumba Ana’a menduga bahwa akan memenangkan pertandingan itu, lalu ia pulang ke Talu Idanoi.
Setibanya di sana ia menghadap Raja Tumba Ononamölö di Laraga dan menyampaikan segala rencana. Setalah mendengar penjelasan, maka Raja Tumba Ononamölö mendapat satu akal, lalu ia mengatkan: “Apabila kekuatan yang diadu, sudaha barang tentu keris kita kalah. Akan tetapi dalam hal ini, baik dengan akal juga. Tentang mengadu keris macam itu, salah satu keris harus dipotong, sedangakan yang satu ditahan dan letakkan di atas landasannya. Bila terjadi demikian harus keris kita ini dengan tipu muslihat diputar balikan pada landasannya hingga tidak terlihat oleh orang lain karena kecepatannya. Jadi ada harapan keris musuh rusak, karena bila mengenai bagian belakang keris ini, maka sumbing atau patahlah matanya.”
Raja Tumba Ana’a menerima masukan dari Raja Tumaba Ononamölö. Lalu pergi ke wilayah Niha Yöu untuk menetapkan waktu pertandingan mengadu keris.
Setelah tiba waktu yang telah disepakati, maka kedua belah pihak berkumpul di halaman disaksikan oleh banyak orang. Dan pertandingan adu keris pun di mulai.
Raja Tumba Ana’a melakukan segalah petunjuk tipu muslihat yang telah disampaikan oleh Raja Tumba Ononamölö kepadanya. Karena itu dengan sangat mengejutkan, tiba-tiba daun keris buatan Niha Yöu patah, sedangkan keris Niha Raya tetap utuh tanpa cacat sedikitpun. Niha Yöu menerima kekalahan itu dengan lapang dada, sebab walaupun mereka kalah, kemenangan jatuh ke tangan raja mereka juga, apalagi menurut mereka pertandingan semacam itu tidak begitu berarti.
Raja Tumba Ana’a menjadikan kemenangan ini sebagai kemegahannya, karena itu ia mengatakan “Ezai fogilo, wombali.” Artinya “sebagai pemutar pembalikan,” Lalu ia meneruskan kata-katanya lagi “Seperti keadaan keris inilah keadaan Niha Yöu jika berlawanan dengan Niha Raya.”
Perkataan provokasi itu tidak diperdulikan oleh orang-orang yang hadir di situ, terlebih Raja Taniwaha’ambö, sebab menurut dia, ucapan itu hanya sekedar kata-kata yang tidak mengandung arti jahat.
Setelah itu, Raja Tumba Ana’a kembali ke kampungya di Talu Idanoi. Segala peristiwa tentang pertandingan adu keris itu diceritakannya kepada Raja Tumba Ononamölö yang bijaksana.
Tidak berapa lama kemudian kedua raja di Talu Idanoi itu bersepakat untuk menghimpun rakyat dan mengumumkan perang dengan Niha Yöu. Raja Tumba Ana’a memperovokasi rakyat dengan berpura-pura dihina oleh mertuanya dan menjelek-jelekannya di hadapan rakyatnya jika ia berkunjung kesana. Karena itu, ia merasa terhina dan wajahnya tercoreng serta menanggung malu. Ia tidak tahu bagaimana cara membela diri. Rakyat pun percaya begitu saja.
Karena itu raktyat bersama seluruh pemebesar khususnya Raja Tumba Ononamölö di Laraga terpaksa bersatu membulatkan tekat untuk memerangi Niha Yöu. Ia percaya bahwa Raja Tumba Ana’a tidak mungkin mengkhianati mertuanya, karena itu ia yakin bahwa segalah perkataan Raja Tumba Ana’a adalah benar.
Untuk mempersiapkan peperangan dengan dengan Niha Yöu, Raja Tumba Ana’a dan Raja Tumba Ononamölö mengutus seseorang berkeliling untuk memberitahukan kepada segenap raja-raja dan seluruh rakyat yang ada wilayah itu agar berkumpul pada suatu tempat yaitu di “Hiligolu,” sebuah gunung yang terletak di dekat Ombölata. Di sebelah barat tempat itu adalah wilaya kekuasaan Mado Harefa hingga sekarang ini. Gunung itu dapat dilihat dari kapung Faekhu, sekitar 10-11 km dari Gunung Sitoli.
Konon certianya, dengan kesaktiannya, Raja Tumba Ana’a menghentakkan kakinya di atas tanah di puncak gunung itu, dan pada saat ia mengangkat kakinya, keluarlah air dari dalam tanah. Itulah mata air di atas bukit Hiligolu yang ada hingga sekarang ini.
Di tempat itulah dibiputuskan siapa yang memimpin peperangan melawan Niha Yöu yaitu: Raja Tumba Ana’a dan Tumba Ononamölö.
Demikian juga perbelanjaan (logistik) selama peperangan, yaitu seuntai kalung emas ‘nifatali’ seberat 120 pao diberi oleh Tumba Ana’a, karena dialah yang menyulut peperangan “Börö horö.” Selain itu, keperluan perang dibagi tiga yaitu: Sepertiga ditangung oleh Tumba Ana’a, Sepertiga dari Tumba Ononamölö dan yang sepertiga lagi ditanggung oleh raja-raja yang lain yang telah berjanji pada saat melakukan perumusan dan pembaharuan hukum “Modrakö.” Peraturan dipakai sebagai ketentuan dalam pembagian kewajiban dan tanggungjawab untuk melawan musuh di daerah Niha Raya.
Setelah disepakati, maka diutuslah beberapa orang kepada Raja Taniwaha’ambö untuk mengumumkan perang.
Raja Taniwaha’ambö, para pembesar dan rakyatnya sangat terkejut mendengar berita dari utusan itu serta tindakan Tumba Ana’a yang sangat menaruh dendam kepada Niha Yöu yang hanya dipicu oleh hal-hal kecil. Mereka mingira segala kejadian itu hanya sekedar gurauan dan tak ada maksud jahat di balik itu.
Seketika itu pulalah, Raja Taniwaha’ambö sadar akan segala tingkah laku menantunya yang aneh selama ini yang hanya semata-mata mencari bibit permasalahan. Karena itu, Raja Taniwaha’ambö sangat murka sehingga ia mengerahkan seluruh hamba dan rakyatnya untuk berperang melawan Niha Raya.
Ia memesankan kepada para utusan itu bahwa Niha Yöu sangat siap menghadapi serangan serta memusnahkan Niha Raya di bawah komando Tumba Ana’a yang seyogianya tidak patut dendam kepada mertuanya.
Mendengar pesanan itu, Raja Tumba Ana’a bertambah berang. Seluruh rakyat Niha Yöu berikrar untuk membela rajanya yang dipermalukan oleh Tumba Ana’a. Dan yang memimpin peperangan dari Niha Yöu adalah Raja Taniwaha’ambö.
Maka terjadilah peperangan antara Niha Raya melawan Niha Yöu di Helakha, wilayah kekuasaan Niha Yöu.
Di lokasi peperangan itu, ada sebatang pohon beringin “Awöni” yang telah tumbang dan melintang. Pohon itu telah menjadi pembatas wilayah antar Niha Raya dan Niha Yöu. Pohon tersebut sangat besar dan panjang sekali sehingga kita tidak bisa melihat orang yang ada di sebelah.
Sebelah menyebelah dari pohon itu, kedua kubu kerajaan yang sedang berperang saling menunggu dan memprovokasi lawannya untuk menyerang. Karena postu tubuh Niha Raya tidak begitu besar maka mereka tidak bisa melompati dan melewati pohon tersebut untuk menyerang lawan. Karena itu mereka mencari akal untuk mengalahkan Niha Yöu yang memiliki postur tubuh besar dan tinggi-tinggi serta gagah berani yang mau menyerang. Mereka memasang perangkap “saiwa” dan ranjau “Bölödi.” Niha Raya bertahan saja sambil memancing Niha Yöu supaya untuk menyerang mereka.
Mendengar seruan provokasi dari Niha Raya, maka pasukan Niha Yöu yang gagah berani itu, langsung melompati batang pohon yang melintang untuk menyerang. Mereka dengan gampang melewati batang pohon itu dengan melompat.Tapi, sayang, setiap orang yang lewat, langsung masuk perangkap sebelum menginjakkan kaki ke tanah. Dan setelah itu dihantam oleh ranjau “bölödi,” sehingga mereka dengan mudah dibunuh oleh pasukan Niha Raya yang sedang menanti musuh.
Lebih separoh dari pasukan Niha Yöu sudah melewati batang pohon itu. Mereka tidak mengetahui bahwa pasukan mereka telah mati dibunuh oleh Niha Raya. Lalu salah seorang dari pasukan Niha Yöu yang postur tubuhnya kecil dan gemuk, melompati batang pohon menyusul kawan-kawannya untuk melakukan penyerangan. Tapi karena gemuk dan tidak kuat ia sangkut di atas batang pohon itu. Ia tidak bisa lewat. Ia hanya sampai di atas batang pohon dan berdiri. Lalu ia melihat di sebelah, ternyata semua kawannya mati terbunuh. Tak ada satu pun yang masih hidup, termasuk raja dan pemimpin pasukan mereka Raja Tanihawaha’ambö.
Melihat kejadian itu, ia segera mundur dan dan memberitahukan kepada seluruh pasukannya yang masih tersisa. Lalu tanpa, menunggu lagi, seluruh anggota pasukan Niha Yöu takut dan langsung melarikan diri.
Pasukan Niha Raya mengejar musuh, menyerang dan membakar perkapungan Niha Yöu sehingga banyak perkampungan yang hancur. Akibat peperangan ini, jumlah penduduk Niha Yöu semakin berkurang jumlahnya. Raja Taniwaha’ambö ditangkap oleh Niha Raya dan lalu membunuhnya.
Oleh karena itu pula, sebagian tanah dan wilayah Niha Yöu diduduki oleh Niha Raya. Mado Harefa menduduki wilayah Luzamanu dan Mado Zebua (keturunan Hinomanofu) mengusai wilayah Sowu hingga Afia. Sejak itu, Niha Raya berangsur-angsur pindah ke tanah Niha Yöu. Itulah sebab di bagian utara pulau Nias kita banyak menjumpai suku dan marga yang bukan keturunan Gözö Hela-hela Danö.
Sumber asli: Faogöli Harefa, Hikajat dan tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Poelaoe Tello, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939, hal 104 – 113.
Ditulis kembali oleh: Nata’alui Duha
Popularity: 26% [?]
Gowe Sibatua “Tumba Ana’a”- Milik Siapa?
July 14, 2009 by nataalui.duha
Filed under Budaya
Sejak akhir bulan April yang lalu berita sebuah patung batu yang menyerupai manusia ‘Gowe Sibatua’ sangat heboh. Pasalnya patung dimaksud yang terletak persis di pinggir jalan raya km 11 desa Ononamölö-Gunungsitoli Selatan dipercayai memiliki kesaktian.
Menurut warga setempat di sekitar lokasi, cerita sakti dibalik batu itu telah memikat oknum yang belum diketahui identitasnya untuk mencuri batu itu. Para pencuri sudah berusaha membawa dan memindahkan batu dari lokasi ke pinggir jalan untuk kemudian dibawa dan dijual. Untungnya, pada saat para pencuri beraksi hujan turun sangat deras, sehingga patung yang sangat berat itu tidak berhasil diangkat, lalu dilempar dan dibiarkan saja di tengah semak-semak.
Popularity: 23% [?]
Mempercantik Wajah Website MPN
June 30, 2009 by nataalui.duha
Filed under Umum
Mengingat banyaknya pengunjung website ini, maka pengelola mencoba melalukan beberapa usaha kecil agar wajahnya tidak membosankan. Karena itu kami mencoba merias wajah ini secara perlahan-lahan agar wajah yang sesungguhnya bisa kelihatan.
Harapan kami bahwa wajah yang lebih original ini berkenan di hati pengunjung sehingga dapat mencintai museum ini.
Saohagölö – Terima kasih – Thank you. Ya’ahowu fefu!
Popularity: 6% [?]
Buku Baru: TUTURAN TIGA SOSOK NIAS
April 22, 2009 by nataalui.duha
Filed under Umum

Tebal : 185 + Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar
Cetakan Pertama, Agustus 2008; ISBN 978-979-95749-9-2
Penerbit Yayasan Pusaka Nias
PENULIS
Bab I : Mangaraja Famahela Hia, Kepala Negeri Idanö Mola
(Arsip KITLV Leiden) – “Pustaka Negeri Idanö Mola.”
Bab II : Pendeta Alui Maru’ao – “Asal mula manusia serta tanah dan
Keturunan manusia yang bermukim di Hinako.”
Bab III : M.I. Polem, D. Polem dan A.H. Polem –
“Sejarah Kedatangan Teuku Polem di Gunung Sitoli, Pulau Nias”
Editor : P. Johannes M. Hammerle, OFMCap.
Harga : Rp. 45.000,- di luar ongkos kirim
Yang berminat, hubungi : Saudara Idaman Harefa, SE.
Hp : 081397764910; Email: idamanharefa@yahoo.com
Kata Pengantar dari Buku Baru
Three in one, tiga bab dalam satu buku ini. Tiga bab yang tidak ada kaitannya satu sama lain. Namun semuanya menceritakan kepada kita berita yang sangat menarik tentang pulau Nias serta para penduduknya. Read more
Popularity: 12% [?]










