Headlines News :
Home » , , , » Pembentukan Karakter Berbasis Kearifan Lokal

Pembentukan Karakter Berbasis Kearifan Lokal

Written By admin on 08/02/13 | 09.31

THE CHARACTER BUILDING BASED ON LOCAL WISDOM)[1] Oleh: Prof. Dr. Robert Sibarani, MS[2]



1. Pembentukan Karakter
Mengawali makalah ini, saya menguraikan betapa pentingnya karakter sebagai modal sosiokultural yang berasal dari kearifan lokal dalam rangka mempersiapkan generasi muda ke masa depan yang lebih cerah. Itulah sebenarnya pembangungan yang hakiki, yakni mempersiapkan masa depan generasi muda ke arah lebih sejahtera dan beradab. Masa depan yang lebih sejahtera dan beradab dilakoni dan dihasilkan oleh orang-orang yang berkarakter baik.  
Karakter adalah sikap dan cara  berpikir, berperilaku, dan berinteraksi sebagai ciri khas seorang individu dalam hidup, bertindak, dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat maupun bangsa. Dalam pengertian lain disebutkan bahwa “character is the sum of all the qualities that make you who you are. It’s your values, your thoughts, your words, your actions”.  Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa karakter merupakan keseluruhan nilai-nilai, pemikiran, perkataan, dan perilaku atau perbuatan yang telah membentuk diri seseorang. Karakter itulah nilainya, pemikirannya, kata-katanya, tindakannya. Karakter itu menjadi bagian identitas diri seseorang sehingga karakter dapat disebut sebagai jatidiri seseorang yang telah terbentuk dalam proses kehidupan memalui sejumlah nilai-nilai etis yang dimilikinya, berupa pola pikir, sikap, dan perilakunya.
Meskipun istilah karakter sebenarnya “netral”,  mungkin negatif, tapi mungkin juga positif; mungkin jelek, tapi mungkin baik, namun istilah karakter yang dimaksud di sini adalah karakter yang baik atau yang arif sehingga kalau kita katakan pembangunan atau pendidikan karakter, itu berarti pembangunan atau pendidikan karakter yang arif atau bijaksana; sejalan dengan itu “berkarakter” di sini berarti “berkarakter yang arif atau bijaksana” atau “berciri khas yang baik”. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dia buat. Sejalan dengan itu, Thomas Lickona berkata, “When we think about the kind of character we want for our children, it’s clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right—even in the face of pressure from without and temptation from within.  Memang kita menginginkan anak-anak kita, generasi muda kita mampu menilai yang baik, perduli pada kebaikan, dan mau melakukan yang baik dalam keadaan apapun. Orang yang berkarakter baik adalah individu yang memiliki sikap dan perilaku yang sopan santun, bertanggung jawab, memiliki komitmen, jujur, pekerja keras, pengasih, suka bekerja sama, dan mampu mengendalikan dirinya. Orang berkarakter seperti ini  pasti akan berhasil dalam hidupnya dan pekerjaannya akan berhasil di mana pun dia bekerja. Karena manfaatnya dalam kehidupan kita, itu berarti semua orang perlu menjadi orang yang berkarakter arif.
Apakah istilah karakter merupakan istilah baru bagi kita? Ir. Soekarno, Presiden RI pertama, telah menyatakan tentang pentingnya “nation and character building” bagi negara yang baru merdeka yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, istilah itu dihidupkan kembali oleh Mendiknas Mohammad Nuh ketika meluncurkan tema penting “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa” pada acara peringatan Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2010. Perbedaannya, istilah yang digunakan oleh Mendiknas adalah pendidikan karakter, bukan pembangunan karakter meskipun saya yakin bahwa arah tujuannya juga sama, yakni pendidikan karakter adalah proses pembangunan karakter. Tujuan akhirnya adalah pembangunan karakter, tetapi persoalannya adalah bagaimana membangun karakter itu, itulah yang menjadi persoalan penting dalam pendidikan karakter.
Thomas Lickona mengatakan bahwa Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. “Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti”. Bahkan dari sumber yang lain disebutkan bahwa: Character education is the deliberate effort to cultivate virtue – that is objectively good human qualities that are good for the individual person and good for the whole society.  “Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan – yaitu kualitas kemanusian yang baik secara obyektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan”. Dengan demikian, proses pendidikan karakter, ataupun pendidikan akhlak dan karakter bangsa sudah tentu harus dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan. Berkenaan dengan pentingnya pendidikan ini, kita diingatkan bahwa “Education comes from within; you get it by struggle and effort and thought” (Napoleon Hill). Pendidikan datang dari dalam diri kita sendiri, kita memperolehnya dengan perjuangan, usaha, dan berpikir.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Martin Luther King, yakni, intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya). Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Para ahli mengatakan bahwa perlu memahami unsur-unsur karakter  esensial umum, yang penting ditanamkan kepada generasi muda. Ada 8 (delapan) unsur karakter inti  yaitu (1) kejujuran (honesty), (2) belas kasihan (compassion), (3) pilihan yang baik (good judgment), (4) keteguhan hati (courage), (5) kedamaian hati (kindness), (6) pengendalian diri (self-control), (7) kerja sama (cooperation), serta (8) kerajinan dan kerja keras (deligence or hard work), (Charlie, 2002:15).
Delapan karakter inti (core characters) itulah, menurut Thomas Lickona, yang paling penting dan mendasar untuk dikembangkan pada peserta didik selain sekian banyak unsur-unsur karakter yang lain. Delapan karakter tersebut tampaknya tidak asing pada kebudayaan kita sebagaimana unsur-unsur kearifan lokal yang diuraikan di bagian akhir orasi ini.
Selain delapan unsur karakter yang menjadi karakter inti menurut Thomas Lickona tersebut, para pegiat pendidikan karakter mencoba melukiskan pilar-pilar penting karakter dengan menunjukkan hubungan sinergis antara keluarga (home), sekolah (school), masyarakat (community), dan dunia usaha (business). Dalam hubungan sinergis tersebut terdapat sembilan unsur karakter, yaitu (1) responsibility (tanggung jawab), (2) respect (rasa hormat), (3) fairness (keadilan), (4) courage (keteguhan hati), (5) honesty (kejujuran), (6) citizenship (kewarganegaraan), (7) self-descipline (disiplin diri), (8) caring (peduli), dan (9) perseverance  (ketekunan).
Jika diperhatikan delapan unsur karakter inti dengan sembilan unsur karakter hubungan sinergis keluarga-sekolah-masyarakat-dunia usaha di atas, sebenarnya sebagian besar unsur karakter itu sama. Ada yang memang sama terminologinya seperti honesty yang ada pada masing-masing pembagian unsur karakter, tetapi ada yang terminologinya berbeda namun maknanya sama seperti compassion dan caring. Oleh karena itu, kombinasi unsur karakter itu menjadi sebelas unsur karakter, yakni (1) kejujuran (honesty), (2) belas kasihan (compassion), (3) keteguhan hati (courage), (4) kedamaian hati (kindness), (5) pengendalian diri (self-control), (6) kerja sama (cooperation), (7) kerajinan dan kerja keras (deligence or hard work), (8) responsibility (tanggung jawab), (9) respect (rasa hormat), (10) fairness (keadilan), dan (11) citizenship (kewarganegaraan).
Dalam naskah akademik Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (Suyanto, 2011), Kementerian Pendidikan Nasional telah merumuskan lebih banyak nilai-nilai karakter (18 nilai) yang akan dikembangkan atau ditanamkan kepada anak-anak dan generasi muda bangsa Indonesia. Nilai-nilai karakter tersebut dapat dideskripsikan dalam tabel sebagai berikut:

No.
Nilai
Deskripsi
1
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2
Jujur
Perilaku yang dilaksanakan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan
3
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5
Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6
Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8
Demokratis
Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar
10
Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11
Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12
Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuai yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
13
Bersahabat/ Komunikatif
Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14
Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15
Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16
Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17
Peduli sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai produk pemerintah, kedelapan belas karakter itu diharapkan dapat menjadikan seseorang berkarakter yang baik sebagai manusia dalam interaksinya di lingkungan masyarakat dan sebagai warga negara dalam interaksinya di lingkungan pemerintahan atau kebangsaan. Kedua hal itu memang penting, tetapi kalau seseorang itu sudah berkarakter baik, dia akan dapat menerapkannya di lingkungan manapun dia berada.
Untuk memudahkan pelaksanaannya dalam pendidikan, kedelapan belas karakter tersebut diklasifikasikan dalam desain induk Pendidikan Karakter oleh Kementerian Pendidikan Nasional menjadi empat konfigurasi karakter berdasarkan konteks proses psikososial dan sosiokultural,  yaitu (1) olah hati (spiritual and emotional development), (2) olah pikir (intellectual development), (3) olah raga dan kinestetik (physical and kinesthetic development), dan (4) olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Keempat kelompok konfigurasi karakter tersebut memiliki unsur-unsur karakter inti sebagai berikut:

No.
Kelompok konfigurasi Karakter
Karakter Inti
(Core Characters)
1
Olah Hati
-        Religius
-        Jujur
-        Tanggung Jawab
-        Peduli Sosial
-        Peduli Lingkungan
2
Olah Pikir
-        Cerdas
-        Kreatif
-        Gemar Membaca
-        Rasa Ingin Tahu
3
Olah Raga
-        Sehat
-        Bersih
4
Olah Rasa dan Karsa
-        Peduli
-        Kerja sama (gotong royong)

Dengan dirumuskannya 18 karakter tersebut, itu berarti bahwa pemerintah lewat pendidikan menginginkan generasi muda menjadi orang yang religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Secara singkat, pendidikan karakter yang menjadikan orang yang hati, pikiran, raga, dan rasa-karsanya baik. Betapa bangsa ini menjadi bangsa yang adil dan makmur sesuai dengan amanat UUD’45 jika tercipta generasi yang memiliki karakter tersebut di atas. Jika generasi muda memiliki karakter tersebut di atas, tidak ada lagi kemiskinan karena masyarakat sudah disiplin dan bekerja keras,  tidak ada lagi konflik karena masyarakat cinta damai, cinta tanah air, dan toleransi, tidak ada lagi ketidakadilan karena masyarakat sudah demokratis dan peduli sosial, dan tidak ada lagi korupsi karena masyarakat sudah jujur dan religius. Itulah harapan bangsa ini, tetapi persoalannya sekarang adalah bagaimana cara dan metodenya menjadikan generasi muda memiliki karakter tersebut dan darimana sumber sebagai basis pembentukan karakter tersebut.

2. Kearifan Lokal sebagai Basis Pembentukan Karakter
Apabila diperhatikan  uraian di atas, tampaklah bahwa karakter yang dirumuskan para ahli pendidikan atau pembangunan karakter di atas relevan dengan kearifan lokal, yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya bangsa kita. Dengan demikian, pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa. Persoalannya sekarang, sejauh mana kearifan lokal itu telah dimanfaatkan untuk pembentukan karakter bangsa. Padahal, dampak manusia berkarakter atau manusia yang mengamalkan kearifan lokal sangat besar untuk keberhasilan seorang individu, bahkan keberhasilan sebuah bangsa. Di sinilah urgensinya kajian tradisi budaya untuk mendapatkan kearifan lokal sebagai warisan leluhur kita. Dengan kata lain, kita mengharapkan karakter bangsa kita berasal dari kearifan lokal kita sendiri sebagai nilai leluhur bangsa kita. Atas dasar itu, karakter bangsa yang diharapkan adalah karakter yang berbasis kesejahteraan dan kedamaian. Karakter yang cinta kesejahteraan meliputi karakter yang pekerja keras, disiplin, senang belajar, hidup sehat, cinta budaya, gotong royong, tidak bias gender, peduli lingkungan, sedangkan karakter yang cinta kedamaian meliputi sikap yang berkomitmen, berpikir positif,  sopan santun,  jujur, setiakawan sosial, suka bersyukur, dan hidup rukun. Pendidikan karakter berarti pendidikan kepribadian yang cinta kesejahteraan dan cinta kedamaian. Cinta kesejahteraan didasari oleh kearifan lokal inti etos kerja (core local wisdom of work ethics), sedangkan cinta kedamaian didasari kearifan lokal inti kebaikan (core local wisdom of goodness). Sebaiknya, semua cakupan karakter di atas diajarkan dan diterapkan sejak pendidikan dini terutama pendidikan informal di rumah.
Meskipun para ahli menyebutkan ada beberapa pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, namun perlu digarisbawahi bahwa nilai-nilai luhur itu harus berasal dari nilai-nilai budaya leluhur kita yang menjadi kearifan lokal dalam komunitas kita. Karakter itu boleh saja bertujuan universal, tetapi berasal lokal; atau berdampak global, namun berawal lokal.  
            Siapakah yang akan membangun karakter itu dalam diri kita sehingga kita menjadi orang berkarakter arif atau bijaksana? Jawabannya adalah kita sendiri yang berusaha mengetahuinya, menyukainyanya, dan melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari apapun kegiatan dan pekerjaaan kita.  Membangun karakter pada diri sendiri berarti memahami nilai dan kearifan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. The local wisdom is the community’s wisdom or local genius deriving from the lofty value of cultural tradition in order to manage the community’s social order or social life. Kearifan lokal merupakan nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif atau bijaksana.  The local wisdom is the value of local culture having been applied to wisely manage the community’s social order and social life.
Berdasarkan uraian di atas, kearifan lokal adalah pengetahuan asli (indigineous knowledge) atau kecerdasan lokal (local genius) suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai kemajuan komunitas baik dalam penciptaan kedamaian maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kearifan lokal itu mungkin berupa pengetahuan lokal, keterampilan lokal, kecerdasan lokal,  sumber daya lokal,  proses sosial lokal, norma-etika lokal, dan adat-istiadat lokal.
Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai dan norma budaya yang berlaku dalam menata kehidupan masyarakat. Nilai dan norma yang diyakini kebenarannya menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari-hari masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat beralasan jika Geertz mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya. Hal itu berarti kearifan lokal yang di dalamnya berisi nilai dan norma budaya untuk kedamaian dan kesejahteraan dapat digunakan sebagai dasar dalam pembangunan masyarakat.
Ada anggapan bahwa pengetahuan lokal lebih diprioritaskan pada pengetahuan masyarakat setempat dalam hal budaya artefak seperti arsitektur tradisional dan kerajinan tangan, pengetahuan membuat konstruksi bangunan yang kuat, dan pemilihan kayu yang tahan lama, sedangkan kearifan lokal lebih diprioritaskan pada kebijaksanaan menata kehidupan sosial dalam hal budaya aktivitas dan ide seperti hidup rukun dan saling menolong. Namun, pada perkembangan berikutnya, kearifan lokal mencakup semua nilai budaya ide, aktivitas, dan artefak yang dapat dimanfaatkan dalam menata kehidupan sosial suatu komunitas untuk tujuan penciptaan kedamaian dan peningkatan kesejahteraan. 
Dalam kenyataannya sekarang, implementasi kearifan lokal itu semakin menurun sehingga sulit ditemukan manusia, pemimpin, dan pengambil keputusan yang bijaksana dalam melaksanakan tugasnya dalam suatu komunitas. Bahkan, pemimpin dan pengambil keputusan sama sekali tidak mengetahui manfaat kearifan lokal dalam pembangunan. Kenyataan ketidaknyambungan (miss-match) dalam berbagai program pembangunan yang terjadi di Indonesia dianggap karena kearifan lokal tidak berjalan atau tidak diperhitungkan dalam pembangunan. Program pembangunan yang dirancang selama ini tidak menjawab masalah-masalah yang dirasakan masyarakat secara langsung. Oleh karenanya, kajian, revitalisasi, dan implementasi kearifan lokal sangat perlu dilakukan agar terbentuk manusia yang bijaksana dan pemimpin yang bisa menjadi penunjuk arah bagi program pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan rakyat.
Kekurangpahaman mengenai pentingnya nilai budaya merupakan faktor utama kenapa kearifan lokalnya tidak mendapat perhatian dalam pembangunan. Masih ada orang yang menganggap bahwa tradisi budaya tidak relevan dengan kehidupan modern sekarang ini, padahal negara atau bangsa yang berhasil membangun kesejahteraan rakyatnya adalah bangsa yang membangun berbasis budayanya. Sekarang ini, Cina dan Jepang masing-masing negara pertama dan ketiga tersejahtera (terkaya) peringkat dunia dan kedua negara ini membangun dengan berbasis pada budaya rakyatnya. Sering sekali pembangunan bangsa kita dikaitkan dengan pencarian “untung” (profit), bukan pencarian “manfaat” (benefit), padahal meskipun segala-galanya memerlukan uang, tidaklah uang segala-galanya. Kebudayaan dan kearifan lokalnya memang tidak langsung memberikan untung secara ekonomis, tetapi secara perlahan-lahan kearifan lokal sebagai warisan masa lalu itu akan memberikan manfaat untuk pembentukan peningkatan kesejahteraan dan kedamaian rakyat melalui karakter yang kuat generasi mudanya.
Local genius, indigenious knowledge atau local wisdom dapat digali secara ilmiah dari produk kultural dengan interpretasi yang mendalam. Sebagai produk kultural, tradisi budaya mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, misalnya sistem nilai, kepercayaan dan agama, kaidah-kaidah sosial, etos kerja, bahkan cara bagaimana dinamika sosial itu berlangsung (Pudentia, 2003:1). Dengan kata lain, tradisi budaya sebagai warisan leluhur mengandung kearifan lokal (local wisdom) yang dapat dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat untuk membentuk kedamaian dan meningkatkan kesejahteraan.
Dalam penelitian terhadap tradisi budaya terdapat berbagai nilai dan norma budaya sebagai warisan leluhur yang menurut fungsinya dalam menata kehidupan sosial masyarakatnya dapat diklasifikasikan sebagai kearifan lokal. Jenis-jenis kearifan lokal itu antara lain (1) “kesejahteraan”, (2) kerja keras, (3) disiplin, (4) pendidikan, (5) kesehatan, (6) gotong royong, (7) pengelolaan gender, (8) pelestarian dan kreativitas budaya, (9) peduli lingkungan, (10) “kedamaian”, (11) kesopansantunan, (12) kejujuran, (13) kesetiakawanan sosial, (14) kerukunan dan penyelesaian konflik, (15) komitmen,  (16) pikiran positif, dan (17) rasa syukur. Semua kearifan lokal tersebut dapat diklasifikasikan pada 2 (dua) jenis kearifan lokal  inti (core local wisdoms), yaitu kearifan lokal untuk (1) kemakmuran atau kesejahteraan dan (2) kedamaian atau kebaikan. Kearifan lokal kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, pelestarian dan kreativitas budaya, gotong royong, pengelolaan gender, dan pengelolaan lingkungan alam dapat diklasifikasikan pada kearifan lokal yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar berhasil mencapai kesejahteraannya, sedangkan kearifan lokal komitmen, pikiran positif,  kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan serta penyelesaian konflik, dan rasa syukur dapat diklasifikasikan ke dalam kearifan lokal yang bertujuan untuk membangun kedamaian dengan kepribadian masyarakat yang baik.
Dalam kaitannya dengan kearifan lokal, setiap bangsa atau suku bangsa memiliki sumber yang berbeda dalam pembentukan karakter (character building) generasi penerus bangsanya. Dalam pembangunan  karakter bangsa Indonesia, kearifan lokal menjadi  sumber penting yang harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa. Meskipun pembangunan karakter itu berlaku universal, unsur-unsurnya ada di setiap suku bangsa di belahan dunia ini karena tujuannya adalah membentuk karakter yang baik, sumber dan perwujudannya berbeda karena apa yang dimaksud dengan “jujur” dalam suatu budaya tertentu tidak sama perwujudannya dalam budaya lain; apa yang dimaksud dengan “kerja sama” dalam budaya Sunda tidak sama dengan “kerja sama”  dalam budaya Belanda. Oleh karena itu, pelu dipahami sumber dan perwujudan unsur-unsur karakter tersebut. Bagi bangsa Indonesia yang terdiri atas beragam etnik, sumber, dan perwujudan karakter itu berasal dari kearifan lokal, yang merupakan warisan nilai budaya leluhur kita.
Apabila diperhatikan  uraian di atas, tampaklah bahwa karakter yang dirumuskan para ahli pendidikan atau pembangunan karakter di atas relevan dengan kearifan lokal, yang berasal dari tradisi budaya bangsa kita. Dengan demikian, pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa. Persoalannya sekarang, sejauh mana kearifan lokal itu telah dimanfaatkan untuk pembentukan karakter bangsa. Padahal, dampak manusia berkarakter atau manusia yang mengamalkan kearifan lokal sangat besar untuk keberhasilan seorang individu, bahkan keberhasilan sebuah bangsa. Di sinilah urgensinya kajian tradisi budaya untuk mendapatkan kearifan lokal sebagai warisan leluhur kita. Dengan kata lain, kita mengharapkan karakter bangsa kita berasal dari kearifan lokal kita sendiri sebagai nilai leluhur bangsa kita. Atas dasar itu, karakter bangsa yang diharapkan adalah karakter yang berbasis kesejahteraan dan kedamaian. Karakter yang cinta kesejahteraan meliputi karakter yang pekerja keras, disiplin, senang belajar, hidup sehat, cinta budaya, gotong royong, tidak bias gender, peduli lingkungan, sedangkan karakter yang cinta kedamaian meliputi sikap yang berkomitmen, berpikir positif,  sopan santun,  jujur, setiakawan sosial, suka bersyukur, dan hidup rukun. Pendidikan karakter berarti pendidikan kepribadian yang cinta kesejahteraan dan cinta kedamaian. Cinta kesejahteraan didasari oleh kearifan lokal inti etos kerja (core local wisdom of work ethics), sedangkan cinta kedamaian didasari kearifan lokal inti kebaikan (core local wisdom of goodness).
Dampak pembentukan karakter yang berbasis kearifan lokal sangat penting untuk pembangunan bangsa. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosional ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan karena seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan lebih mudah dan lebih berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian telah menjawab pertanyaan ini. Hasil studi Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St. Louis menunjukkan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter ini memperlihatkan menurunnya perilaku-perilaku negatif dan perilaku-perilaku yang menyimpang pada siswanya. Penurunan perilaku-perilaku negatif dan menyimpang itu sekaligus memperlihatkan peningkatan keberhasilan akademis berupa peningkatan prestasi siswa dalam pelajaran di sekolah.
Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et al., 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Dengan kata lain, kegagalan itu tidak diakibatkan oleh kegagalan “olah pikiran”, tetapi kegagalan “olah hati, rasa, dan karsa”.
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosional dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, bergaul, dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter baik, yang memiliki kecerdasan emosional, akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, minuman keras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Di samping itu, dalam penelitiannya di Amerika, orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, tetapi biasa-biasa kecerdasan intelektualnya lebih berhasil daripada orang yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) tinggi, tetapi biasa-biasa kecerdasan emosionalnya. Keberhasilan itu berupa keberhasilan dalam kesejahteraan ekonomi, dalam bermasyarakat, dalam hubungan bisnis, dalam politik, dan dalam rumah tangga. Mayoritas pemilik perusahaan dan manager yang berhasil memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Cina, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis. Setelah kita mengenal kearifan yang kita miliki, baik sekali jika kita mencoba menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari dengan metode kecerdasan yang dikemukakan oleh Daniel Goleman dengan melakukan secara berturut-turut (1) the ability to identify our emotion ‘kemampuan mengenali emosi diri’, (2) the ability to control our emotion ‘kemampuan mengendalikan emosi diri’, (3) the ability to motivate ourselves ‘kemampuan memotivasi diri’, (4) the ability to understand one’s emotion ‘kemampuan memahami emosi orang lain’, dan (5) the ability to make social relationship ‘kemampuan melakukan hubungan sosial’.
            Penerapan pendidikan karakter yang berasal dari kearifan lokal sebagai warisan budaya leluhur akan menjadikan anak-anak bangsa ini berhasil dalam bidang akademis dan ekonomi yang dapat mempersiapkan mereka menjadi sumber daya manusia yang beradab dan sejahtera di masa depan. Kita dapat melihat negara-negara yang menerapkan pendidikan karakter di atas, semuanya menjadi negara maju yang sejahtera. Tiga negara tersebut (Cina, Amerika Serikat, dan Jepang) masing-masing memiliki peringkat dunia pertama, kedua, dan ketiga tersejahtera. Apapun alasannya, inilah yang diidam-idamkan oleh semua manusia dan semua bangsa. Indonesia harus memberikan prioritas pada pembentukan karakter bangsanya berdasarkan budaya bangsanya demi persiapan masa depan generasi mendatang.
Dengan demikian, pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebeagi sumber pembentukan karakter bangsa. Persoalannya sekarang, sejauh mana kearifan lokal itu telah dimanfaatkan untuk pembentukan karakter bangsa. Padahal, dampak manusia berkarakter atau manusia yang mengamalkan kearifan lokal sangat besar untuk keberhasilan seorang individu, bahkan keberhasilan sebuah bangsa.

3.      Penutup
Kearifan lokal berasal dari budaya kita masing-masing. Sebagai orang Nias, Saudara-saudara memiliki kearifan lokal yang berasal dari budaya Nias yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan karakter Saudara. Apabila Saudara-saudara di Nias ini memiliki karakter yang berbasis kearifan lokal di atas, maka Saudara akan menjadi sumber daya manusia yang kuat yang memiliki modal sosiokultural untuk memasuki dunial global.  Kita akan berkarakter berbasis kearifan lokal, tetapi akan mampu bertindak global.  Kesuksesan akan dimiliki orang-orang yang berkarakter dengan kearifan lokal tersebut.

Semoga!

Nama              : Prof. Dr. Robert Sibarani, MS
Alamat            : Jln. Tridarma 138 Kompleks USU
Pekerjaan      : Guru Besar Tetap USU (Universitas Sumatera Utara)
Jabatan          : Ketua IPMI (Institut Pemberdayaan Masyarakat Indonesia) Medan
HP                  : 0811644964 / 081264939264
Email             : rs_sibarani@yahoo.com               


Kepustakaan
Abourjilie, Charlie

2002      Handbook I &II of Character Education. Raleich, NC: Public School of North Carolina.

Geertz, Clifford

              1973 Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, Inc.

              1983 Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology.  New York: Basic Books, Inc.

Goleman, Daniel

              1997  Kecerdasan Emosional. Terjemahan T. Hermaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sibarani, Robert.

              2012   Kearifan Lokal.  Jakarta: ATL

Suyanto.
            2011    “Urgensi Pendidikan Karakter” di laman resmi Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. (www.educationplanner.org).
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Museum Pusaka Nias - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger