Headlines News :
Home » , , » Perdagangan Manusia Dewasa Ini

Perdagangan Manusia Dewasa Ini

Written By admin on 03/02/12 | 14.56

Oleh : Nata'alui Duha

Nata'alui Duha
Dulu Perdagangan budak, kini Manusia.
Untaian cerita seram mengenai perbudakan dan perdagangan manusia yang terjadi pada masa lampau, belum juga putus hingga kini. Peristiwa ini tidak hanya terjadi di pulau Nias. Sebagaimana telah diungkapkan Pastor Johannes dalam tulisannya bertajuk Sömabawa, ada 3 pelabuhan sebagai sentra eksport manusia di pulau Nias. Namun demikian, masih terdapat tempat lain sebagai pelabuhan pengiriman manusia ke luar pulau itu. Bedanya, pelabuhan lain tidak seramai yang terjadi di tiga lokasi di atas.

Satu contoh saja, Misionaris Henry Lynman yang tiba di Nias tahun 1834 menulis bahwa pada tahun 1832 ada sebuah kapal Perancis yang memuat 400 orang Nias dan membawanya di suatu pulau kecil di Perancis. Para budak tadi dihargai 25 Dollar per kepala, ditambah 4 Dollar lagi sebagai bonus bagi para bangsawan.
Dapat diduga bahwa sebelum adanya alat tukar pertama di Nias (emas, babi, ayam dll), alat tukar utama yang digunakan adalah manusia, yaitu para budak. Proses ini lama terjadi. Dari penukaran budak itu, masuklah emas, besi, piring, kain dan barang-barang lain di pulau Nias. Dahulu, namanya perdagangan budak "sawuyu" bukan perdagangan manusia. Istilah beda, tujuan sama. Para budak tidak dianggap sebagai manusia. Mereka bahkan disamakan dengan binatang oleh para bangsawan. Tempat tinggal mereka pun ada yang di atas kandang babi para bangsawan. Jadi para bangasawan itu tidak merasa bersalah, apa lagi merasa berdosa. Para budak diidentikkan dengan barang dagangan.

Kebanyakan para budak dijual ke Aceh dan seluruh wilayah Melayu. Dari sini, para makelar itu menjualnya lagi ke tempat-tempat lain hingga ke Penang, Malaysia, Singapur dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Orang China dan Aceh merupakan makelar perdagangan manusia itu. Sementara para bangsawan di Nias menjadi supplier tunggal.

Tak ada informasi dan dokumen yang lengkap tentang berapa jumlah orang Nias yang dijual ke berbagai tempat, baik dalam negeri maupun ke luar negeri. Begitu hebatnya perdangan manusia di Nias dahulu, sekitar akhir abad ke-18, Controller Rappard memperkirakan bahwa dahulu penduduk Nias bagian utara tidak lebih dari 50.000 penghuni. Mereka habis diculik dan dijual ke seberang. Kondisi ini dapat dimaklumi, karena wilayah Nias bagian utara sangat dekat dengan Aceh, sehingga perdagangan manusia (budak di sini) sangat tinggi. Di wilayah ini, orang-orang Aceh tidak hanya memperoleh budak-budak itu melalui jasa para bangsawan, melainkan dengan cara menculiknya sendiri dan membawanya ke seberang untuk dijual. Artinya bukan saja kalangan budak yang dijual, siapa saja orang Nias yang dapat mereka culik, lalu dijual.

Setelah mereka dijual di kota-kota lain, tidak ada lagi informasi bagaimana mereka diperlakukan. Dapat dipastikan bahwa mereka dijadikan tenaga kerja dll. Namun dapat juga diduga bahwa ada yang diperisterikan diantara perempuan yang dijual itu. Apa lagi sejak dulu, orang Nias dikenal memiliki tubuh yang cantik secara alami. Demikian juga kaum laki-laki, pasti mereka menikah dengan warga kota dimana mereka dijual. Lalu bagaimana dengan keturunan mereka?

Bagaimana perdagangan manusia di tempat lain?
Nias tidak hanya sendirian dalam kasus perdagangan manusia. Kalau dulu perdagangan budak di Nias ibarat jualan ayam, namun sekarang kita tidak menemukannya lagi. Dewasa ini, di sejumlah kota lain di Indonesia, justeru semakin meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya, Yatni Setianingsih menulis pada situs www.inilahjabar.com, 14 November 2011 bahwa Jawa Barat menjadi daerah tertinggi di Indonesia sebagai daerah asal para tenaga kerja yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking).

Dan berdasarkan data International Organization for Migration (IOM) Indonesia, jumlah korban kasus perdagangan manusia di Indonesia mencapai 3.943 orang, yang terdiri dari 3.559 orang perempuan dan 384 orang laki-laki. "Yang paling tinggi berasal dari Jawa Barat mencapai 920 orang atau 23,33% dari total korban perdagangan manusia yang ada di Indonesia, sedangkan kedua yaitu Kalimantan Barat mencapai 722 atau 18,31%, dan Jawa Timur 478 atau 12,12%," ujar National Project Coordinator Labour Migran and Counter Trafficking Unit International Organization for Migration (IOM) Indonesia Nurul Qoiriah dalam seminar 'Workshop Pemetaan Permasalahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Program Pencegahan TPPO Melalui Pendidikan' di Kampus Unpad, Jalan Dipatiukur Kota Bandung, Senin (14/11/2011).

Lebih lanjut, Nurul mengungkapkan, sekitar 99% korban perdagangan manusia tersebut merupakan perempuan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah Indramayu dan Bandung. Sementara itu, negara tujuan kasus perdagangan manusia tersebut, yakni Malaysia, Saudi Arabia, Jepang, Singapura, dan lain-lain. "Yang menjadi korban perdagangan manusia tersebut, kebanyakan pekerja domestik seperti pekerja rumah tangga yang dijual dan dianiaya," imbuhnya.
Selain itu, dalam situs Berita Indonesia (www.beritaindonesia.co.id), 13 April 2007, disebutkan bahwa kasus perdagangan orang di Indonesia tertinggi di dunia. Perdagangan orang, manusia jadi komoditi! Lebih mengerikan lagi karena ternyata Indonesia termasuk negara dengan kasus perdagangan orang tertinggi di dunia. Selama Maret 2005 hingga Juli 2006, data International Organisation for Migration (IOM) menunjukkan, sebanyak 1.231 WNI telah menjadi korban bisnis perdagangan orang.

Dalam situs Rakyat Merdeka (http://www.rakyatmerdekaonline.co), 25 Juni 2011, Komisi Nasional Perlindulungan anak merelis bahwa 70 ribu anak bangsa menjadi korban perdangan manusia dan setiap tahun meningkat sebesar 28 persen.
Berdasarkan data yang di­miliki Komisi Nasional Per­lin­dung­an Anak (Komnas PA) jum­lah korban kasus perdagangan anak sejak tahun 2008 hingga saat ini diperkirakan mencapai 40-70 ribu orang. Ada berbagai macam bentuk pe­langgarannya. Antara lain dieksploitasi se­bagai buruh, menjadi korban por­nografi, prostitusi, dan narkotika.

"Saya memperkirakan kasus pe­langgaran semacam ini me­nga­lami peningkatan sekitar 28 per­sen per tahunnya," kata Ketua Umum Komnas PA, Arist Mer­deka Sirait kepada Rakyat Mer­deka.

Menurut Arist, semua data yang disajikan di atas belum bisa meng­gambarkan jumlah kasus hu­man trafficking yang sesung­guh­nya terjadi di masyarakat. Ala­sannya, banyak faktor yang mem­pengaruhi, sehingga sulit me­ngetahui jumlah korban traf­fic­king sesungguhnya.
"Karena sifatnya yang ter­sem­bunyi, korban banyak yang di­samarkan, serta melewati lintas Ne­gara, sehingga data tentang trafficking yang diperoleh me­ru­pakan kasus yang dilaporkan saja," ujarnya.

Dikatakan Arist, modus per­da­gangan anak yang ditemui Kom­nas PA sangat beragam. Mulai dari penculikan, pembiusan, hing­ga diiming-imingi mendapat pekerjaan. Tujuan dari per­da­gangan anak tersebut kebanyakan di­lakukan untuk tujuan seksual ko­mersial dan di eksploitasi se­cara ekonomi. "Iming-iming ter­sebut dilakukan dengan me­man­faatkan kondisi ekonomi kor­ban," jelasnya. Bahkan saat ini, lanjut Arist, modus per­dagangan anak yang paling ba­ru adalah dengan dikawini se­cara siri alias sembunyi-bunyi ter­lebih dahulu. Cara ini biasanya di­­lakukan Warga Negara Asing de­ngan tujuan bisa mengelabui per­syaratan dari penyalur tenaga kerja. Sebab untuk bisa di pe­ker­jakan di luar negeri, mereka harus cu­kup umur atau mendapatkan izi­n dari pihak keluarga dan sua­mi.

Modus lain Perdagangan dan Ekploitasi manusia
Walaupun perbudakan atau perdagangan manusia secara langsung sudah tidak ditemui lagi di pulau Nias, namun perilaku yang mengarah pada eksploitasi manusia masih terus berjalan dalam berbagai macam modus dan bentuknya. Contoh: Orang Nias Pekerja Perkebunan di seberang. Penulis pernah mendengar cerita salah seorang mantan pekerja perkebunan di Pekan Baru. Katanya, dia punya puluhan teman dari berbagai desa di Nias. Mereka direkrut oleh salah seorang warga desa mereka. Karena mereka butuh pekerjaan, tentu sangat mau. Akan tetapi mereka tidak mengetahui jumlah gaji mereka yang sebenarnya. Perekrut mereka adalah mandor pekerja di perkebunan itu. Setelah bekerja di sana, baru mereka menyadari, bahwa sang mandor mendapatkan bonus setiap hari dari upah harian setiap pekerja. Misalnya setiap orang seharusnya diupah Rp 50 ribu, hanya diberi Rp 40 ribu dan sang mandor mendapat Rp 10 ribu per kepala. Jika ada 50 pekerja yang ia rekrut, maka ia mendapat bonus sebesar Rp 500 ribu per hari, belum termasuk upahnya langsung dari atasannya di perusahaan. Para pekerja kebun itu tinggal di tengah hutan yang sangat jauh dari kota. Karena itu mereka difasilitasi dengan memberi pinjaman uang untuk kebutuhan mereka. Dan barang-barang kebutuhan mereka dibeli dari sang atasan dengan harga yang berlipat ganda. Akibatnya mereka tidak pernah memiliki uang simpanan untuk pulang kampung karena terlilit utang, sehingga mereka tetap menjadi pekerja yang tak punya apa-apa.

Adat Mas kawin yang terlalu tinggi
Modus lain yang tidak pernah disoroti adalah adat mas kawin yang sangat tinggi di sejumlah wilayah di Nias. Penuntutan mas kawin yang sangat memberatkan sehingga keluarga yang baru menikah terpaksa dililit utang boleh dikategorikan sebagai perdagangan manusia yang dilegalkan oleh adat. Apa lagi jika penuntutan mas kawin tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi calon mempelai laki-laki dan dilaksanakan secara singkat tanpa melalui proses adat. Perkwinan/perjodohan yang diatur secara total oleh orangtua (kawin paksa), perkawinan di bawah umur dan menjadikan anak-anak sebagai buruh dengan upah dan jam kerja yang tidak jelas merupakan eksploitasi yang sama dengan perdagangan manusia.

Perilaku Birokrat yang Ekploitatif
Memberikan dan menerima uang pelicin agar dapat diterima sebagai pegawai Negeri, menuntut uang sebagai gratifikasi dalam proses kenaikan berkala dan pangkat/jabatan pegawai bawahan adalah bentuk-bentuk eksploitasi yang sulit diberantas, tapi sangat merusak moral dan perilaku masyarakat. Demikian juga dengan berbagai pungutan liar pada setiap urusan baik antar sesama pegawai maupun dengan masyarakat, terutama dalam pemotongan bantuan kemanusian yang seharusnya diterima oleh setiap warga yang berhak, adalah bentuk perampasan hak yang mengarah pada perdagangan manusia.
Rente atau memberi pinjaman uang dengan bunga yang sangat tinggi, juga bisa digolongkan dalam eksploitasi sesama manusia, karena menggunakan kesempatan memperkaya diri oleh ketidak berdayaan orang lain.

Demikian juga pengiriman tenaga kerja yang terabaikan hak-haknya serta tidak terurus merupakan bentuk perdagangan manusia dan perampasan hak orang lain. Bahkan mengangkat atau memberikan anak menjadi anak angkat kepada orang lain dengan menerima imbalan sudah dapat digolongkan sebagai perdangan manusia. Dan jika sang pengangkat anak tidak memperlakukan anak angkatnya selayaknya hingga dewasa juga merupkan eksploitasi dan perbuatan menyia-nyiakan hidup orang lain.
Share this article :

5 komentar:

  1. Kisah yang mirip tentang eksploitasi orang Nias modern saya dengar juga dari seorang mantan perekrut tenaga kerja semacam itu, yang saya temui ketika berkunjung ke satu desa dekat Bawöluo beberapa tahun yang lalu. Katanya dulu dia banyak merekrut pemuda Nias untuk bekerja di perkebunan dan industri kayu di Pekanbaru.

    Fenomena lain yang saya saksikan ketika berkunjung ke beberapa desa lain di daerah Kec. Amandraya, ada rumah yang bagus yang lapuk, karena ditinggalkan penghuni yang pindah ke seberang menjadi pekerja di perkebunan. Selain itu penduduk mengatakan kepada saya bahwa di salah satu kampung, setengah dari seluruh jumlah anak di situ telah dibawa ke Medan atau kota lain untuk dimasukkan ke panti asuhan. Anak-anak ini juga direkrut oleh perekrut. Jadi mirip dengan eksploitasi orang dewasa untuk menjadi buruh perkebunan.

    Jadi benar, bahwa perbudakan masih berlangsung dewasa ini di Nias, kendati modusnya tidak seperti di masa lalu.

    BalasHapus
  2. INILAH KESALAHAN MENDASAR SISTEM NEGARA KITA MENGARAH PADA KAPITALIS LIBERAL.
    Para oknum berwajah rakyat, bertopengkan agama, lisan berkata demi kebaikan dan kemakmuran tetapi kata dalam jiwa bersembunyi wajah syetan yang siap menghisap darah kesejahteraan rakyat jelata.
    Human trafficking itu ada karena adanya yang UNTUNG, dan adanya Celah Penegak HUKUM Pemerintah.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  4. Sepakat Pak..
    Banyak modus perdagangan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah terjadi dewasa ini.. Masyarakat diimingi pekerjaan yang katanya prospeknya lebih baik di luar Nias, ternyata setelah sampai dilokasi kisahnya berubah..
    Bertitik tolak dari postingan Bapak di atas, ternyata jelas bahwa beberapa "pungli" birokrasi dalam beberapa aspek mengarah pada perdagangan manusia yang lebih saya asumsikan secara tidak langsung atau sudah mengecap modernisasi..
    Saya lebih berharap bahwa bagaimana mengawal kondisi tersebut di atas kedepan sehingga tidak merembes pada anak cucu kita kelak..
    Terimaksih banyak atas postingan yang sangat bermanfaat ini, semoga Museum Pusaka Nias semakin berkembang dari hari ke hari..
    Salam...

    Kreasi Kita

    BalasHapus
  5. Selamat Malam Pak Nata...kangen juga dengan Nias sudah hampir 5 tahun saya tinggalkan, namun Nias dan Museum Pusaka banyak memberi arti dalam perjalanan hidup saya...banyak hal yang dapat dipetik ketika bertugas disana. Walau saya bukan orang Niha namun ...budaya Nias bagi saya sangat seksi...saya nggak tahu...jangan-jangan leluhur saya juga pernah mampir di Pulau Nias ketika berimigrasi dari daratan Cina...atau jangan2 saya juga berdarah Nias.

    Salam,

    Peter Leyn

    BalasHapus

 
Copyright © 2011. Museum Pusaka Nias - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger