Headlines News :
Home » , , , , » Söma Bawa, Satu dari Tiga Pelabuhan Tertua dan Pusat Perdagangan Manusia di Pulau Nias

Söma Bawa, Satu dari Tiga Pelabuhan Tertua dan Pusat Perdagangan Manusia di Pulau Nias

Written By admin on 20/01/12 | 16.59

Oleh: P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap

Bawa gogowaya namanya.
Rasa penasaran untuk meninjau pelabuhan pertama “Söma Bawa” sudah lama tersimpan. Awal tahun 2012 ini baru terwujud. Persisnya pada 13 Januari, dalam perjalanan saya pulang dari Telukdalam.

Pulau Söma Bawa adalah satu dari Tiga Pelabuhan Tertua di pulau Nias. Dari situ dieksport nenek moyang dari warga Nias yang ada di Padang dan salah satu pusat perdagangan dan pengiriman para Sawuyu ke seberang.“

Kalau kita di sebelah pantai timur Pulau Nias dengan kendaraan menuju ke arah Selatan, lalu sampai di pintu gerbang Kabupaten Nias Selatan, tinggal sekitar 5 km, kita menyeberangi sungai Susua dengan jembatan yang besar. Lembah sungai itu sejak dulu menjadi jalur penghubung ke kecamatan Gomo. Beberapa ratus meter lagi sesudah jembatan itu, di km 68, saya tinggalkan mobil, belok ke kiri ke arah laut dan berjalan kaki sekitar 2 km sampai ke desa Fanedanu. Beberapa siswa/i SMP yang sudah keluar sekolah menemani kami.

Mengapa harus jalan kaki? Di dekat jalan raya kami harus menyeberangi sungai kecil yang namanya Foröforö. Jembatan darurat dari kayu sudah ambruk waktu sungai itu banjir. Jembatan iti mungkin dibangun sesudah tahun 2005, sewaktu UNICEF membangun gedung SD Negeri Fanedanu. Jalan sejauh 1.500 m sudah mulai dibangun dengan onderlag batu dan sirtu melalui Padat Karya. Jalan tentu datar saja karena menuju ke pantai timur.

Para penduduk desa Fanedanu sekitar 500 jiwa saja. Kebanyakan rumah dibangun dari kayu dan agak sederhana. Terdapat dua sumur. Jaringan listrik sudah sampai. Semua warga menganut agama Kristen Protestan dan bermarga Halawa. Salah seorang di atara nenek moyang mereka bernama Fanedanu, dulu hidup di kampung Ambukha Fanedanu di satu perbukitan yang agak tinggi di sebelah Sifalagö Gomo Börönadu. Sebagian dari marga Halawa di perbukitan itu kemudian pindah ke pantai laut melalui jalur lembah sungai Susua. Di dekat lokasi Fanedanu sekarang mereka menemukan satu bukit tunggal, mendirikan pondok mereka di atas bukit itu dan menyebut bukit itu Hili Nidada. Dulu terdapat sejumlah batu megalit yang dipahat seperti di Gomo pada bukit itu. Namun menurut cerita seorang penduduk yang sudah tua, megalit itu sudah ”hancur,” alias dijual.

Dari desa itu saya jalan kaki lagi setengah kilometer sampai ke pantai laut dan setengah kilometer lagi ke arah Selatan. Harus dikeluarkan sepatu karena menyeberangi muara sungai Foröforö. Pada malam hari ada buaya di situ, katanya. Hanya malam hari.

Jalan kaki sedikit lagi di air laut pantai, baru sampai di tempat tujuan: Tambang material batu megalit yang baru. Satu bukit batu yang berjarak sekitar 50 m dari pantai. Pada tgl. 1 Maret 1999 meninggal di situ dua orang yang sedang berusaha memotong batu lunak itu dengan Chainsaw. Tiba-tiba lepas satu blok batu raksasa dari atas dan menimpa mereka. Salah seorang korban adalah mantan Kepala Desa Duhusökhi Halawa, alias Ama Hidaya. Yang lain ialah Na’öna’ö Gari dari To’ene yang membawa gergaji mesin. Na’öna’ö sungguh ditimpa oleh bongkahan batu raksasa itu dan tidak dapat dikeluarkan.

Di depan lokasi tambang, terdapat sejumlah batu yang sudah berdiri dan terlentang sudah mulai dipahat, namun dipenuh dengan tumbuhan rumput. Rupanya batu-batu itu kurang laku sehingga usaha itu ditinggalkan. Karena di dalam desa Fanedanu berdiri pula puluhan batu yang sudah siap dipahat dan siap untuk dijual. Industri kerajinan batu rakyat!

Alasannya bukan kurang laku saja. Melainkan masyarakat itu takut ditangkap polisi jika menjual batu itu. Seharusnya usaha mereka dilindungi, karena semua batu ini memang pahatan baru dan bukan barang kuno, 100 persen hasil kerajinan yang baru.

Di pantai itu ditunjukkan kepada saya satu wadas yang terbentuk sedemikian karena ombak laut, sehingga para penduduk menyebutnya Bawa Gogowaya (paruh burung enggang). Satu batu lain lagi di tengah ombak pantai itu disebut Dadaoma Razo (takhta raja). Batu-batu karang di situ melulu tertutupi oleh kerang-kerang kecil. Siswa-siswi yang menemani saya mulai memecahkan salah satu kerang kecil yang masih terturup, lalu mengeluarkan isinya yang mereka sebut Uto Gara (otak batu). Dapat dimakan, dan saya dapat juga bagian.

Jauh di sana di depan pantai itu kelihatan Pulau Söma Bawa, pulau yang kecil dan tidak dihuni orang. Perjalanan ke sana dengan bot yang pakai mesin tempel membutuhkan waktu setengah jam, katanya. Perhatikan, pernah ada orang luar negeri yang mungkin salah mendengar atau ingat nama pulau itu dan kemudian menulis Sumbawa. Silaf.

Sejarahnya sangat menarik. Pak Halawa yang tua itu menceritakan kepada saya, bahwa di situ terletak dulu pelabuhan utama di pantai timur, di antara Pulau Söma Bawa dan pantai desa Fanedanu. Sebelum terbuka pelabuhan Balaikha dan Telukdalam, pelabuhan Söma Bawa sudah terkenal. Pak Halawa menceritakan, bahwa Sila’uma (Controleur Belanda yang bernama Schröder, 1903-1908 di Nias) mengizinkan kepada penduduk desa Fanedanu untuk menerima pajak pelabuhan.

Mungkin cerita ini perlu dikoreksi. Besar kemungkinanan bahwa izin untuk menerima pajak pelabuhan diberikan jauh sebelum kedatangan Schröder ke Nias. Bacalah nanti kutipan dari Schröder pada akhir tulisan ini, yang telah kami terjemahkan dari bahasa Belanda.

Agak menyedihkan sejarah pelabuhan itu, karena dari situ ramai-ramai dieksport orang muda Nias ke Padang. Mereka ini adalah orang yang berutang atau budak, yang kemudian menjadi abdi (pandelingen) di Padang. Melalui eksport itu para bangsawan atau penetua adat di desa-desa memperoleh kekayaan: emas, kuningan, besi, pakaian, gong, piring dlsb. Karena kekayaan itu mereka mampu membangun rumah-rumah adat, menyelenggarakan pesta besar (owasa) dan mendirikan batu-batu megalit.

Di bukit Hili Nidada terdapat satu gua yang besar. Tidak sempat saya pergi ke sana untuk melihatnya. Menurut cerita orang, gua itu 300 m panjang. Cerita lain mengatakan juga, bahwa di dalam gua itu dikumpulkan dan disimpan budak-budak itu sampai datang kapal laut untuk memuat mereka dan mengadakan transaksi.

Schröder - § 581 hlm 201

”Di antara semua barang yang dibarter, para budak telah menjadi barang yang paling laris. Terdapat tempat perdagangan budak tertentu, atau lebih baik dikatakan tempat jualan budak. Yang terkenal pada waktu itu ialah Lölöwa’u (di mana masih hidup keturunan orang Aceh yang sudah menjadi kafir); muara sungai Muzöi (di mana terdapat keturunan orang Muslimin) dan kemudian lagi di Sömabawa di pantai Timur di daerah Tamiö. Yang menyangkut kedua tempat pertama, di situ pengaruh Aceh paling terasa, sedangkan tempat terakhir secara khusus menjadi lapangan kerja orang-orang Eropa. Orang Inggris, orang Perancis dan juga Compagnie yang termasyhur telah mengambil budak-budak di situ.

Ketika dalam periode sesudah Van Raffles perdagangan budak secara terbuka dianggap tidak sesuai lagi dengan zaman, ditemukan jalan keluar untuk menghindari kesulitan itu. Sekarang orang berbicara tentang menebus orang-orang Pandelingen (yang berhutang dengan perhambaan). Eksport orang-orang sebagai Pandelingen itu diatur oleh pemerintah. Perahu-perahu berduyung-duyung datang menjemput mereka di pantai Nias. Tetapi orang-orang Aceh yang tidak begitu arif dan yang masih melanjutkan memperdagangkan budak terpaksa menghentikan usaha itu karena pernyataan perang terhadap mereka (alasannya justru perdagangan budak itu). Ada juga orang-orang Cina yang bertindak sebagai makelar. Mereka datang juga dengan perahu. Barang-barang barter yang paling banyak dipakai ialah emas, tembaga, besi, senapan-senapan, kain, piring-piring dan tembakau.“

§ 582
„Sewaktu saya tiba di pulau ini pada tahun 1904, perdagangan manusia di tepi pantai sudah berhenti. Tetapi di pedalaman pulau itu masih berlangsung jualan budak.“

Perdagangan di Sömabawa
Kutipan dari buku yang ditulis oleh Controleur Schröder, Bab IX tentang perdagangan.

§ 580 - Kontrak tertanggal 15 April 1693
“Yang menyangkut perdagangan dan bisnis di pulau itu, kebanyakan terdiri dari budak dan bahan makanan. ... minyak manis, beras, padi dst. ... Eksport minyak kelapa dari Pulau Hinako ke Padang cukup berarti. Pada tahun 1658 Nias disebut gudang makanan utama di depan Barus. Pada tahun 1756 Nias disebut gudang makanan di Utara (Norder Spijskamer).“

§ 584 - Pada tahun 1822 ditulis:
“Padi merupakan eksport utama dari tanah itu dan mencapai 12.000 goni per tahun. Pada hal pemakaian padi itu oleh para penduduk sendiri sangat minim.“
Pada tahun 1836 seorang yang bernama Domis mencatat: “Bagi para penduduk, padi tidak termasuk makanan pokok. Kebanyakan padi dan beras dieksport (1.400 goni per tahun). Barang-barang eksport terdiri dari buah kelapa, ayam, 800 s.d. 900 pikul merica dan dulu banyak budak. Harga total dari perdagangan itu 120.000 Florin. Import terdiri dari besi, baja, tembaga, kain, tembakau, kain linen dari Madras dan Suratte, dan barang-barang dari Cina.“

§ 585 - Perdagangan berlangsung sbb.:
Pada umumnya para bangsawan mengetuai penentuan harga dan pengukuran barang. Mereka punya hak. Artinya dalam hal memberi izin kepada satu kapal untuk berdagang di dalam teluk itu, mereka menerima 12, 14 atau 16 lempeng tembakau. Sudah menjadi suatu kebiasaan bahwa para bangsawan mengucapkan selamat datang kepada nahkoda dengan menghidangkan sekapur sirih dan beberapa buah kelapa atau satu ayam. Hal ini dibalas dengan pemberian satu depa kain katun dan sedikit tembakau kepada bangsawan itu.“
“Di pantai Sömabawa ditunjukkan kepada penulis batu-batu, di mana diadakan perundingan dengan para pedagang itu. Segala bisnis perdagangan diatur di situ.“

Di sini Schröder menambahkan dalam footnote satu tulisan dari seorang yang bernama Francis yang mengatakan, bahwa ditemukan di situ satu batu bulat dengan goresan beberapa huruf (karakter) Eropa dan Melayu yang kurang jelas. ”Ke arah belakang pantai itu ditemukan satu batu besar dan bulat, mirip dengan batu-batu yang didirikan di depan rumah-rumah bangsawan. Sudah sejak lama batu itu di situ dan oleh para penduduk menamainya Batu Hulanda (batu Belanda). Di atasnya ditemukan nama-nama orang yang berbeda-beda yang pernah mengunjungi tempat itu. Seolah-olah dulu menjadi tempat untuk menandatangani suatu kontrak. Di sebelah atasnya didirikan satu pondok kecil. Di dalamnya terjadi segala negosiasi perdagangan.“
Sampai ke sini footnote Schröder berdasarkan tulisan Francis.
Schröder menerangkan lagi, bahwa pembayaran di Nias biasanya dilakukan melalui emas, babi dan daging babi, melalui padi dan gong. Daging babi dipakai sebagai uang pecah. Pada waktu itu sudah menjadi kebiasaan, kalau harus dibagi satu keping uang perak atau emas, keping uang dipotong-potong saja. Oleh karena itu Schröder memasukan uang Belanda di Nias sebanyak 125.000 Gulden (firö dan ringgit), termasuk juga uang pecah ½ Gulden dan 10 Cent. Hal itu telah menjadi kemajuan besar di Nias dan mengganti emas sebagai alat pembayaran.
Barang perdagangan kemudian adalah kopra, minyak kelapa, buah pala dan buah pinang, rotan, getah dari pohon Etelio. Babi juga dieksport. Tetapi budak dan padi tidak dieksport lagi, dan pohon karet baru mulai ditanam.

Saran dari Museum Pusaka Nias
Tidak jauh dari lokasi Söma Bawa, pada perbatasan kedua Kabupaten, sudah didirikan pintu gerbang besar. Kami hendak mengusulkan empat hal:
1. Memasang petunjuk jalan di simpang jalan yang menuju ke desa Fanedanu. Memperbaiki jembatan itu dan mengaspalt jalan ke desa itu.
2. Memasang satu tugu sederhana di pinggir laut desa Fanedanu untuk memperingati nasib ribuan orang Nias yang dijual di situ dan dibawa ke seberang. Siapa tahu, tugu itu dapat dipahat dari batu oleh masyarakat desa Fanedanu sendiri.
3. Melindungi perindustrian kecil pahatan batu di desa Fanedanu, supaya mereka dapat menjual batu pahatan mereka tanpa ketakutan akan ditangkap oleh polisi. Siapa tahu, ada yang hendak meletakan batu pahatan itu di depan rumahnya.
4. Supaya patung batu itu laku, pahatan batu itu hendaklah dilakukan lebih rapih dan harganya jangan dilebihkan.

Foto Selengkapnya dapat di lihat di: http://gallery-museum.pusaka-nias.org

______
Schröder, E. E. W. G.: Nias, ethnographische, geographisch en historische aangeteekeningen en studien. 2 Vol. Leiden, Brill, 1917. Vol. I Teksten, hlm 200 ff.


Share this article :

2 komentar:

  1. Ini satu catatan sejarah yang sangat menarik. Usul P. Johannes mungkin bisa dipertimbangkan oleh Pemerintah Daerah bagian Pariwisata.

    BalasHapus
  2. saya sangat senang menemukan website tentang Nias yang salah satunya adalah website ini. Jika diizinkan, bolehkah saya belajar memberiakn cuplikan tulisan tentang Nias di website ini?

    BalasHapus

 
Copyright © 2011. Museum Pusaka Nias - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger