Headlines News :
Home » , » Tari Maena, Simbol Sukacita Suku Nias

Tari Maena, Simbol Sukacita Suku Nias

Written By Liputan MPN on 11/04/06 | 08.58

Suku Nias merupakan kelompok masyarakat yang tinggal di Pulau Nias, propinsi Sumatera Utara. Mereka memiliki sebuah tarian tradisional yang sejak dulu hingga kini tetap ditarikan yakni tari Maena. Suku Nias menjadikan tari Maena sebagai tarian kolosal yang penuh sukacita. Tari Maena seringkali menjadi pertunjukan hiburan ketika suku Nias menyelenggarakan pesta pernikahan adat. Dalam upacara pernikahan adat, pertunjukan tari Maena diselenggarakan ketika mempelai lelaki tiba di rumah mempelai wanita. Tarian ini ditarikan oleh keluarga dari pihak mempelai lelaki untuk memuji kecantikan mempelai wanita dan kebaikan keluarga pihak wanita. Setelah mempelai lelaki, keluarga dari mempelai wanita pun menyambut kedatangan keluarga pihak lelaki dengan menyelenggarakan tari Maena.

Tarian ini menjadi simbol untuk memuji mempelai lelaki beserta keluarganya. Sesekali, Tari Maena menjadi tari penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke Pulau Nias. Dalam sebuah pertunjukan, tari Maena ditarikan oleh beberapa pasang penari lelaki dan wanita. Dari awal hingga pertunjukan usai, gerakan tari Maena didominasi dengan perpaduan gerak tangan dan kaki. Gerakannya terlihat sederhana namun tetap penuh semangat dan dinamis.

Kesederhanaan gerak itulah yang membuat siapa saja termasuk anda dapat menjadi penari tari Maena. Tidak ada batasan berapa jumlah penari Maena. Semakin banyak peserta tari Maena, gerakan tari Maena semakin terlihat semangat.Daya tarik utama dari tari Maena yakni lantunan beberapa rangkaian pantun Maena. Pantun Maena disampaikan oleh satu atau dua orang pemain yang dalam bahasa Nias disebut Sanutuno Maena. Tidak semua orang dapat menjadi Sanutuno Maena. Seorang Sanutuno Maena harus fasih berbahasa Nias.
Biasanya, yang menjadi Sanutuo Maena yakni tetua adat atau sesepuh suku Nias. Isi pantun disesuaikan dengan waktu pertunjukan tari Maena dipertunjukkan. Ketika tari Maena diselenggarakan pada pesta pernikahan, pantun biasanya berisi kegembiraan dan doa untuk kedua mempelai. Namun ketika tari Maena dijadikan tari penymbuta tamu kehormatan, pantun Maena menggambarkan rasa hormat warga Nias kepada tamu. Pantun Maena biasanya disampaikan pada awal pertunjukan.

Setelah Sanutuo Maena menyampaikan beberapa bait pantun, pertunjukan tari Maena dilanjutkan dengan nyanyian berbahasa Nias. Dengan lantang, para penari Maena menyanyikan beberapa syair lagu yang isinya disesuaikan dengan tema acara. Mulai dari awal penyampaian, lirik lagu dalam pertunjukan tari Maena tetaplah sama dan disampaikan secara berulang. Syair lagu itulah yang mengiringi gerakan para penari Maena hingga pertunjukan tari Maena usai.

Untuk menyaksikan pertunjukan tari Maena, anda dapat berkunjung ke Pulau Nias, propinsi Sumatera Utara. Anda dapat mengawali perjalanan menuju Pulau Nias menggunakan pesawat terbang dari Bandara Polonia Medan dan tiba di Bandara Binaka, Gunungsitoli.Perjalanan dari Medan menuju Gunungsitoli naik pesawat terbang, lebih kurang 50 menit penerbangan. Dari Bandara Binaka menuju pusat kota Gunungsitoli hanya membutuhkan waktu lebih kurang 10 menit perjalanan naik becak motor atau angkutan umum.

Ketika berada di Pulau Nias, tidak ada salahnya jika anda juga mencoba untuk mentarikan tari Maena bersama warga Nias dan para penari Maena. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang pertunjukan tari Maena, para pemandu wisata dari biro perjalanan wisata di Pulau Nias dapat membantu anda. Ari-Ike(1/6)
—–
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Museum Pusaka Nias - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger